Dengan sendu ditatapnya lekat seakan tak mau menghilang dari pelupuk mata serta memorynya. Semua begitu berharga `tuk dilupa dan dibuang begitu saja. Dia mulai sesenggukan, air matanya terus saja mengalir seperti aliran sungai kecil. "gue benci sama lo, arrgsh."
PRANG
Dengan penuh marahan dia melempar bingkai foto, yang ia pandang sejak tadi.
Gadis itu tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Namun ia yakin. Sang-pemuda-di-dalam-foto itu pasti mempunyai alasan mengapa sampai separah ini akibatnya.
"Lo nggak tau yang sebenarnya, kak. Tapi nggak papa. Dengan ini, lo nggak perlu repot-repot ngelupain gue nantinya."
Gadis manis tadi keluar dari kamarnya. Kamar yang akan ditinggalkannya. Kemudian ia mengerjap. Mencari keberadaan sang kakak yang hilang entah kemana. Mungkin sedang bersama kekasihnya.
Shilla -gadis itu- pun memasukkan barang-barang yang akan dibawanya.
"Shill, udah siap?" tanya Alvin, kakaknya.
Shilla menghela nafasnya pelan. Lalu mengangguk tipis.
Alvin mengernyit sejenak. "Lo nangis?" katanya. Mungkin terheran melihat mata-panda adiknya.
Shilla masih diam. Ia hanya menggigit bibirnya.
"Bukannya itu mau lo? Dia mutusin lo. Hm?"
"Iya, kak. Tapi gue nggak nyangka. Ternyata sesakit ini." katanya yang disambut helaan nafas kemudian.
Alvin menepuk pelan pundak adiknya, lalu tersenyum samar.
"lo musti yakin kalo bisa, ini baru awal. Lo harus tenang, dan kalahkan rasa sakit. Gue yakin lo bisa." ujar sang kakak yang mencoba memberi semangat, ia juga tak tega melihat adikny sedih seperti itu.
"tapi susah kak. . ." regek shilla lagi.
"semua butuh waktu Shilla, ya sudah yuk kita berangkat sekarang." ajak sng kk yg diangguki oleh shilla. Mereka meraih koper masing" lalu beranjak dari sana.
*
Shilla memutar lensa standar canon 500Dnya. Mencari objek yang memiliki keindahan setelah diolah dengan fokus dan modenya.
"Lo habis nangis ya?" tanya seseorang tiba-tiba. Suara bariton yang begitu dikenalnya.
Shilla menoleh ke arah pemuda itu. "Sotoy lo, Yo."
Pemuda itu tertawa pelan. "Nggak usah bohong, Shill."
Shilla masih meletakkan sebelah matanya di viewfinder slrnya itu. "Jadi inget pertama kali gue ketemu lo." katanya pelan.
Ya. Dia Rio. Mario. Salah satu pasien gagal ginjal di Rumah Sakit tempat Shilla tinggal saat ini. Tempat tinggal? Bukan apa-apa. Ini adalah Rumah Sakit yang dimiliki oleh kekasih kakaknya. Ia hanya diminta untuk menyadarkan beberapa pasien yang terlalu putus asa akan penyakitnya. Terlalu merana atas keadaannya.
Rio dulu begitu. Sepertinya lebih baik mati adalah semboyannya saat itu. Namun kemudian Shilla datang, dan merubah semuanya. Walaupun kala itu reaksi yang diberikan pemuda itu masih berupa penolakan, namun lambat laun, ia pasti melunak.
Dan Shilla memanglah bukan gadis yang mudah putus asa. Ia selalu memotivasi pemuda itu, hingga akhirnya besi itu meleleh. Meleleh ditangannya.
*
Alvin menoleh ke arah adiknya. Ia sudah lebih baik. Dan semoga segalanya akan baik-baik saja.
Sebagai kakak satu-satunya, pemuda itu sesungguhnya tak tega apabila meninggalkan adiknya sendiri disini.
"Vin, kamu juga mau disini? Nemenin Shilla?" tanya Rara.
Alvin mengangguk pelan. "Dia masih 14 tahun. Aku nggak tega, Fy. Nggak papa kan?"
Ify mengangguk. Tentu saja tak apa. "Rumah gimana?"
"Ada yang jaga. Lagipula aku disini ga bakal lama, mungkin.. Sampai Shilla nyerah atas semuanya.."
*
"gue permisi dulu Yo." pamitnya tanpa menunggu balasan sang lawan bicara, ia melangkahkan kaki pelan. Bukannya dia menghindar, tapi dia tak berlama-lama dengan orang yang telah menorehkan tinta warna-warni dihatinya. Terlalu sulit dan cepat, ia masih membutuhkan waktu untuk bertatap muka dg pemuda itu.
Rio hanya melihat punggung shilla yang perlahan menjauh, tangan mengepal menahan sesuatu dan seakan sudah mencapai klimaks. Ia berlari dg cepat untuk dapat meraih gadis yg ada didepannya.
'HUP'
ia memeluk erat tubuh kecil itu dari belakang, ia menyandarkan kepalanya dibahu shilla, dan semakin erat.
Shilla pasrah dan diam mematung, tak byk perlawan yg ia keluarkan. Karna sesungguhnya ia juga merindukan pelukkan hangat dari pemuda itu. Shilla menutup matanya, merasakan kehangatan yang tlah menjalar keseluruh tubuhnya.
'kenapa musti kayak gini, gue ga sanggup.' keluhnya dalam hati.
*
Shilla memasuki kamarnya. Lalu memandang sekeliling tembok putih pucat khas rumah sakit itu.
Tiba-tiba ada sebuah figura yang menarik pandangannya. Fotonya bersama... Cakka!
Astaga mengapa masih ada disana?!
Shilla tertawa miris. "Ngapain gue inget elo. Elo aja udah lupa kali sama gue. Hahaha." ia mulai meracau. "Gue kangen lo, Kkaa.." lanjutnya kemudian. Nadanya menjadi minor. Penuh dengan elegi.
"Rio itu bukan siapa-siapa, Kka! Kamu nggak percaya sama aku?"
Begitulah. Mengapa Shilla dan Cakka berakhir. Konyol. Bodoh. Hanya karena satu kata itu. Cemburu.
"Gue nggak peduli. Kita putus. See?"
Shilla mengacak-ajak rambutnya. Memukul pinggir ranjangnya. Mengapa kejadian itu diingatnya lagi? Ah. Sudahlah.
*
Rio. Pelukannya yang begitu menenangkan, dekapannya yang begitu hangat, apakah ia salah mengatakan bahwa Rio itu bukan siapa-siapa? Tapi.. Toh selama ini memang Rio hanyalah seorang sahabat. Tapi.. Apakah benar kata Cakka? Rio lah penyebab semuanya?
Shilla tidak tahu. Ia masih belum dapat membaca hatinya. Ia sayang Cakka. Namun.. Entahlah!!
*
"Vin, kata papa Shilla bentar lagi.. Mmm kamu tau kan? Hhh" kata Ify.
Alvin mengernyit. Lalu meletakkan kedua tangannya di kepalanya. "Udah parah ya, Fy? Berapa hari lagi?"
Ify menghela nafasnya pelan. "Seminggu kurang lebih. Vin, jujur, aku nggak siap kalo dia..."
Pemuda itu menggeleng pelan. "Shilla itu kuat. Dan kita juga harus kuat."
*
Tiga hari berselang. Tak ada perubahan dalam diri Shilla. Ia tetaplah gadis manis yang ceria.
Alvin sedikit lega. Masih ada kesempatan, fikirnya.
"Kakak kenapa sih?" tanya Shilla yang tiba-tiba muncul disisi kanan Alvin.
Pemuda itu tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Tak mengeluarkan suara beningnya sedikitpun.
Shilla mengernyit. "Vonis itu ya?" katanya telak. Sangat telak.
"Gue nggak percaya, Shill. Papanya Ify cuma dokter, bukan tuhan. Tapi.. Gue takut kehilangan lo." katanya melemah.
"Nggak, kak. Gue bakal selalu ada buat lo. Kan harusnya lo seneng. Nggak ada lagi Shilla yang manjanya minta ampun. Nggak ada lagi Shi..."
Alvin membekap mulut adiknya tiba-tiba. "Tolong jangan bilang gitu. Lo tuh masih aja sempet basa-basi."
*
Di hari keempatnya, Shilla tiba-tiba mendatangi Ify yang kebetulan sedang bersama Alvin. Gadis itu memainkan iphone ditangannya sejenak.
"Kenapa, Shill? Ada apa?" tanya Ify akhirnya.
Shilla masih menggigiti bibirnya. "Mmm, kak, aku keluar boleh nggak? Mmm mau... Ke... Rumah Cakka..." katanya sembari menunduk.
Keduanya tercengang seketika. Alvin mengernyit. "Ngapain?!" nada suaranya meninggi.
"Just wanna tell him that... I'll leave him for.. Forever."
*
Shilla kini berada di depan sebuah rumah bernuansa klasik bertembok kuning muda. Ia menekan bel yang berada di sebelah gerbang itu.
Satu menit.. Dua menit.. Lima menit.. Tak ada jawaban.
Gadis itu pun kemudian memutuskan untuk masuk-tanpa-permisi. "Loh. Pintunya kebuka." katanya sembari mengernyit.
"LO NGAPAIN KESINI?!" Kata Cakka tiba-tiba. "Ck. Cowok baru lo nggak ngajarin sopan santun ya?" lanjutnya lagi.
Dibentak.. Shilla paling tidak bisa dibentak.
Sesak. Berat. Nafas Shilla tak terkendali lagi. "Cakk.. Hhh.. Cakka.. Aku cuma hhh mau kamu tau.." kata Shilla sembari memegangi dadanya.
"Apa sih? Lo udah jadian sama si siapa itu? Ha? Ri.. Ah jelek banget namanya. Gue sampe lupa."
Gadis itu menggeleng. "Kka.. Hhh.. Mungkin ini terakhir kalinya aku hhh bisa ngomong ke kamu. Aku hhh aku mau pergi. Hhh jauh dari kamu.."
Pemuda itu masih terlihat santai. "Perginya sama si Ri.. Aduh siapa sih namanya?"
Shilla berdecak pelan. Dadanya makin sakit. "Kka.. Makasih atas semuanya.. Hhh aku cuma hhh mau bilang itu.." katanya sembari berbalik dan menjauhi pemuda itu. Namun, semuanya menjadi gelap tiba-tiba. Lalu terang seketika.
*
Panik? Itulah Cakka sekarang. Di datangi secara tiba-tiba, lalu di tinggali dengan kejutan pahit yang Shilla berikan. Ia tak tahu apa-apa. Sungguh.
Pemuda itu kemudian menoleh ke arah suara bising yang berasal dari ruangan dimana Shilla di tangani. Jantungnya berdetak kencang. Sesungguhnya, ia takut apabila terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengan gadis itu. Namun egonya berkata lain.
Alvin dan Ify kemudian keluar dari ruangan itu. Tak ada tangisan yang muncul. Tapi tak ada pula kebahagiaan yang terpancar disana.
"Shilla koma." kata Alvin singkat ketika melewati Cakka.
"Dia sebenernya kenapa?" tanyanya tanpa ekspresi.
Alvin mengernyit kemudian. "Lo nggak tau? Ck."
Cakka makin tak mengerti. Ia kira Alvin akan melanjutkan kata-katanya. Namun ternyata tidak. Kebingungan dan ke-tidak-mengertian makin erat memeluknya. Merengkuhnya tanpa mengizinkan pemuda itu untuk mengetahui apapun saat ini.
*
"Rio dapet donor, Ma? Beneran?" tanya pemuda itu. Rio memang kelewat penasaran dengan keajaiban yang tiba-tiba diterimanya ini.
Mamanya mengangguk. "Kamu bisa sembuh, Yo!" katanya sembari tersenyum.
Rio kontan memeluk sang mama. Hatinya benar-benar melonjak-lonjak saat ini.
'Gue sembuh, Shill! Lo harus tau ini.' ucapnya di dalam hati.
*
Pasca operasi, atau tepatnya sehari kemudian, Rio masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Pukul 21.00. Entah mengapa, ia benar-benar ingin bertemu Shilla sekarang.
"Mau ketemu gue ya, Yo? Hehe." suara sopran tiba-tiba muncul dibalik pintu.
Rio mengernyit. "Shilla? Kok lo baru kesini? Lo udah tau kan gue sembuh? Shill, gue sembuh!! Lo bener. Kita emang nggak boleh putus asa. Shill, makasih." katanya tulus kemudian.
Shilla mengangguk. "Sorry, Yo. Yang penting kan lo udah sembuh. Hehe."
Pemuda itu mengaitkan tangannya ke tangan gadis itu. Cincin manis dan gelang cantik yang diberikan dulu terpasang dengan indah disana. Namun ada yang aneh.
"Lo sakit? Pucet banget Shill. Mana tangan lo anget gini?" katanya khawatir.
Shilla menghela nafasnya. Lalu menggeleng pelan. "Nggak papa. Mmm Yo, gue mau pergi."
Rio tersentak. Pergi?! Kemana?! Mengapa?! Kebahagiaan yang satu baru saja diterimanya. Mengapa kebahagiaan yang lain akan pergi?!
Pemuda itu masih terdiam. "Gue minta maaf kalo selama ini gue banyak salah sama lo. Hehe gue kan suka maksa-maksa lo gitu." sambung Shilla.
"Tapi.. Gue sayang sama lo, Shill." kata Rio lirih.
Rio mengerjap. Lalu menghela nafasnya kuat-kuat.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi. "YO! Hhh RIO!" kata mamanya panik.
*
Cakka masih memegangi gitarnya di taman Rumah Sakit tersebut. Sudah larut memang. Namun tak sedikitpun ia beranjak dari sana.
"Nyanyi dong, Kka. Atau nggak mainin gitarnya aja. Price tag ya. Aku kangen tau nyanyi bareng kamu gini!" rengek Shilla tiba-tiba. Entah datang dari mana.
"Operasi kamu berhasil? Shill, kamu masih pucet. Kenapa keluar kamar?"
Gadis itu menunjukkan braces yang tertata di giginya. "Pingin ketemu kamu" katanya cengengesan.
Cakka membetulkan posisinya. Dipetiknya senar gitarnya tersebut.
"Seems like everybody got a prise, i wonder how they sleep at night.." suara Shilla terdengar agak lirih.
"Eh, Kka, udah deh. Udah malem nih. Takut ketahuan hehe." katanya tiba-tiba. Lalu beranjak dari sebelah Cakka.
Cakka mengernyit. Mencegah Shilla pergi. "Aku sayang kamu.." katanya tak kalah lirih. Hampir tak terdengar.
"Aku harus pergi. Maaf, Kka."
*
"Yo, Shilla, Yo!!" kata sang mama dengan nada panik.
Rio mengernyit. "Shilla kenapa, Ma? Mama tadi ketemu dia ya? Tadi dia barusan dari kamar Rio."
Mamanya mulai menangis. Rio tentu saja bingung. "Mama kenapa ma??"
"Shilla.. Udah pergi.. Yo, Shilla pergi, Yo!"
"Iya ma. Tadi dia bilang, dia mau pergi. Pergi kemana sih ma? Mama tau nggak?"
Mamanya menatap anaknya nanar. Tak sanggup menceritakan semuanya. Tapi ia juga bingung. Shilla ke kamar Rio? Tapi dia terus terbaring lemah. Semenjak.. Ginjalnya diangkat. Kemarin malam..
*
Alvin dan Ify masih duduk di sofa kamar Shilla. Alvin terus mengatur nafasnya, sedangkan Ify, masih menenangkan kekasihnya itu.
"Kenapa Shilla pergi, Fy? Kayaknya kemarin aku masih marah-marah sama dia. Kenapa operasinya gagal, Fy?" racaunya tak karuan.
Alvin tiba-tiba memutar ulang kata-kata terakhir Shilla sebelum operasi dimulai.
Beberapa jam setelah Shilla koma, ia sempat sadar sejenak. Tingkat kesadarannya yang meningkat membuat dokter mempercepat operasi paru-paru dan jantungnya. Shilla mengidap paru-paru basah tingkat akut dan jantung bocor. Sesungguhnya masalah jantungnya bukan masalah, namun sejak kejadian kemarin, jantungnya kontan melemah.
"Kalau operasinya berhasil, berarti gue selamat nih ya. Mmm kalau gagal, ginjal gue, buat Rio. Izinin, please, kak.." katanya memohon.
Alvin berdecak keras. "Lo tuh masih aja mikirin orang lain. Iya, Shill. Iya. Tapi lo harus berusaha juga. Banyak yang sayang sama lo disini."
Sepuluh jam. Hanya itu kemampuan Shilla untuk mengundur kematiannya. Sepuluh jam setelah gagalnya operasi dan diangkatnya ginjalnya. Sepuluh jam terakhir gadis itu bernafas.
"Dimana Cakka?" tanyanya kemudian.
Ify mengangkat bahunya. "Tadi sih ditaman. Aku nggak tau, Vin."
*
Alvin dan Cakka masih direngkuh kesunyian tanpa akhir. Jangkrik pun tak berani mengeluarkan suaranya.
"Gue nggak akan nyalahin lo." Alvin mulai buka suara. "Kalau lo berhasil minta maaf sama dia kemaren, berarti lo selamet. Soalnya gue denger-denger kalo punya salah sama orang yang udah meninggal, terus belom minta maaf, itu bakal susah nantinya." kata Alvin lagi.
Cakka mengernyit. "Maksudnya?"
"She'd gone. Rest in her own place."
Pemuda itu menggeleng kuat-kuat. "Nggak mungkin, kak. Barusan dia nyanyi sama gue! Lo bercandanya nggak lucu banget sih!"
Alvin kontan mempertemukan kepalannya dengan pipi pemuda itu. "Goblok! Gue serius! Lo tuh yang bercanda! Dia nggak keluar kamar sejak kemarin! Bego!!"
Cakka terhuyung. Tubuhnya menimpah rerumputan. Namun ia tak peduli. Yang ada difikirannya saat ini adalah, tadi itu apa?
*
Rio berlutut di sisi pusara bernisan Ashilla Zahrantiara S itu. Sedangkan Cakka? Ia pun dalam posisi yang sama seperti Rio.
Seluruh peziarah telah pergi. Menghilang satu-satu dari sana. Hanya menyisakan keempat orang itu. Rio, Cakka, Ify, dan Alvin tentunya.
"Makasih atas malem itu, dan juga ginjal lo, Shill. Malem itu mungkin pertanda kalo tuhan udah rindu sama lo." kata Rio pelan.
Cakka kontan menoleh. "Lo juga didatengin Shilla?"
Rio mengangguk. "Lo juga?"
"Iya." Cakka menghela nafasnya. "Bro, sorry udah salah faham sama lo."
Rio mengangguk -lagi. Lalu mengusap nisan baru itu. "Cakka udah nyesel nih, Shill." katanya.
Cakka menunduk dalam-dalam. "Kalo gue nggak bentak dia, mungkin nggak akan kaya gini."
Alvin yang menjadi penonton kedua pemuda-penyayang-adiknya ini pun menggeleng. "Ini takdir. Tuhan udah nentuin Shilla bakal kaya gini. Jangan salahin diri lo sendiri. Shilla pun pasti nggak suka."
Ify menyetujui pendapat Alvin barusan. "Mmm kayaknya... Gue sama Alvin duluan ya, Yo, Kka."
Keduanya mengangguk bersamaan, lalu kembali menatap gundukan tanah itu.
"Shilla nggak pernah ngeluh. Gue kira gue bakal mati duluan dulu. Sumpah, gue nggak nyangka." Rio menghela nafasnya kuat-kuat.
"Gue aja baru tau kemarin. Dia bener-bener cewek yang kuat. Salut dah!"
Cakka kemudian merangkul Rio. "Kita bakal kesini terus, Shill. Biar lo nggak sendirian." katanya lalu pergi meninggalkan taman pemakaman keluarga itu.
Sesosok gadis manis tersenyum penuh arti pada akhirnya. Untaian pelangi di wajahnya itu menandakan kelegaan. Walau tak ada lagi dirinya disisi orang-orang yang disayanginya, semuanya berjalan dengan baik.
Kemudian sosok gadis tadi hilang entah kemana. "Yang pasti, gue akan selalu ada disamping kalian" desisnya kemudian.
Showing posts with label ceritahh. Show all posts
Showing posts with label ceritahh. Show all posts
Sunday, August 21, 2011
Wednesday, August 3, 2011
part 16 b
“Yo, hhh to...”
*
Ify memutar iphonenya di telapak tangannya. Jam terakhir sudah berlalu sejak lima menit yang lalu. Namun Shilla juga belum hadir di sisinya.
Obiet tiba-tiba menghampiri meja Ify. Pemuda itu meletakkan kedua sikunya di meja sejajar dengan gadis itu. Lalu dikaitkannya kesepuluh jarinya disana.
“Fy, sohib lo kemana?” tanyanya kemudian.
Ify menghela nafasnya. Lalu menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Ia hanya menggeleng. “Tadi dia baca sesuatu, langsung ngegebrak meja, terus pergi. Btw, thanks tadi udah bilang dia sakit, Biet.”
Pemuda itu mengangguk. “Yeah, no problemo. Tapi gue feel bad banget nih. Fy, lo cari dia sana!” ucapnya setengah memerintah.
“Mmm biet, punya nomer kak Alvin atau kak Cakka nggak?” tanyanya sembari menggigit bibirnya.
Obiet tersentak seketika. “Buat apa?!”
Gadis itu masih menggigit bibirnya. “Nggak jadi deh. Gue kesana aja.”
*
‘kareyy, gue otw ktmpt lo dkk. Shilla ga ada’
*
Patton memukul dashboard mobilnya. Mengapa jadi sekacau ini, fikirnya. Masih bisakah Shilla bernafas? Masih sadarkah ia? Bagaimana gadis itu?!
Kacau! Kacau! Patton mengacak-acak rambutnya. Sengaja ingin memberhentikan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi muncul di kepalanya.
“Matilah! Ruangan Pramuka dimana aja gue nggak tau!”
*
Alvin mengernyit, menajamkan matanya kemudian setelah melihat kedatangan gadis itu dengan keadaan yang sedikit berantakan.
Gadis itu langsung menatap ke arah Ray. ”Kak, gimana?” tanyanya sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah –karena sedikit berlari tadi.
Gimana?! Gimana apanya?! Batin Alvin makin tak tenang.
Ray menghela nafasnya. “Gue belom ngasih tau mereka, Fy. Gue kira lo bercanda. Bro, Shilla... Nggak ada”
Cakka mengernyit. “Maksudnya?”
“Shilla pergi dari istirahat kedua tadi, kak. Dan sampe sekarang dia belom balik. Gue... Takut dia kenapa-napa. Yahh gue nggak tau juga sih kenapa gue larinya kesini. Hehe.”
Celetukan Ify tadi tak sedikitpun mencairkan suasana. Tak ayal, kedua pemuda itu menahan nafasnya. Berharap ini hanya drama yang dimainkan keduanya.
Alvin yang masih mematung tiba-tiba merasakan adanya getara dari ponselnya. Ia mengerutkan dahinya setelah melihat nama yang muncul disana.
Calling Shilla-
Apa?! Shilla?! Oh bukan.
Calling Shilla’s Patt...
“Halo... Lo disini?! Kok?!... Oke... Lo tunggu aja. Dimana?... Hm... IYA GUE NGGAK-... Oh iya Sorry... Nggak akan... Bye.”
Seketika, Alvin langsung meninggalkan semuanya.
*
Patton memandang sekeliling tempatnya berdiri sekarang. Lorong yang benar-benar sepi, dan... Ruangan laknat itu.
“Lo yakin ni nggak ada orang lain selain kita, kak?” tanyanya agak ragu-ragu.
Alvin menyipitkan matanya. “Kan gue udah bilang, nggak akan.” Katanya kemudian.
Patton hanya menghela nafas. Kemudian menggedor sembari menjeritkan nama sepupunya itu.
“Lo goblok atau gimana sih, Pat?” kata Alvin sembari tertawa pelan. “Minggir. Gue nggak nemu kunci ni ruangan di sekertariat. Kayaknya masih di pelaku.” Katanya sembari bersiap mendobrak ruangan-yang-nggak-banget itu.
Satu.. Dua.. BRAKK!!!
“SHILLAAA!!” Teriak keduanya bersamaan.
*
Alvin, Patton, Rio, dan kedua orang tuanya sedang berada di sekeliling ranjang dimana gadis itu sedang terbaring lemah. Tak sadarkan diri.
Dua hari. Gadis itu bergeming. Tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur lelapnya. Tak membuka matanya disaat Rio datang dengan paniknya kemarin lusa. Bahkan tak membuka matanya saat orang tuanya tergopoh-gopoh memasuki ruangannya tadi pagi.
“Kak Ozy sama Acha mau dateng, kak, oom, te.” Kata Patton setelah menerima telfon dari kakaknya itu.
Diandra menatap keponakannya itu. “Pat, sebenarnya bagaimana kok Shilla bisa kambuh lagi? Vin, jelaskan sama mama. I need to know everythings, dear.”
Alvin masih duduk di sofa kamar Edelweiss itu. Dan pemuda itu masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sikunya di letakkannya di pahanya. Alvin melepaskan penutup-wajahnya tadi, lalu mengangkat kedua bahunya pelan. “Alvin nggak tahu, ma. Patton di kasih tau Rio, and then he gave me know. Alvin nggak tahu Shilla jadi kayak gininya kenapa.”
Patton mendudukkan dirinya di sebelah Alvin. “Patton juga nggak tau, te. Shilla udah beberapa kali nelfon Patton, tapi pas itu Hpku lagi non aktif. Kayaknya dia langsung nelfon Rio, te.”
“Katanya, dia dikunci di ruang itu sama temennya. Rio juga nggak tau pasti, tan. Suara Shilla udah hampir hilang gitu. Untung dia ngasih tau dia dimana.” Kata Rio menimpali.
Diandra hanya mengangguk. “Mama harus bicara sama kepala yayasan dan kepala sekolah. Ini kekerasan.”
“Maafin Alvin.. Ma.. Al.. Alvin nggak bisa jaga Shilla..” kata Alvin tiba-tiba.
Mamanya hanya tersenyum. Lalu mengelus kepala anak sulungnya itu.
*
Cakka dan Ray kini berada di lapangan basket. Istirahat kedua memang.
Sesungguhnya hanya Cakka yang bermain. Ray hanya menontonnya di pinggir lapangan. 3 on 3. Namun bukan seperti 3 on 3. Ray yakin. Tidak ada peraturan disana. Kasar, Sadis, Kejam!
Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya. Sedikit tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
Ia pun memutuskan untuk mengontak sahabatnya –yang lain.
‘Vin, lo knp sih ga masuk? Cakka kacau!’
*
Alvin mengerjapkan matanya setelah membaca bbm Ray tadi. Sepertinya ia memang membutuhkannya kini.
‘lo ke RS Thamrin Utama. Buru. Cabut aja lo. Ga ush bw cakka. Edelweiss 1, Ray’
*
Ray terbelalak kaget melihat keadaan Alvin –yang ternyata lebih kacau dari Cakka. Rambutnya, raut wajahnya, bahkan cara menatapnya bisa menggambarkan keadaannya sekarang.
“Bro, kenapa?” tanya pemuda berambut gondrong itu hati-hati.
Alvin masih diam. Dia hanya berfikir sejenak. Ya. Iya butuh teman untuk mengatasi masalahnya ini. Yang sebenarnya bukan masalahnya juga.
Ray masih menatap Alvin dalam-dalam. “Bro, kenapa? Kenapa gue lo suruh kesini?” tanyanya lagi.
“Lo harus tau.” Kata pemuda-kacau tadi singkat. Ia menarik Ray ke dalam kamar adiknya.
Ray mendelik. Mengernyitkan dahinya. “Adek lo sakit?”
Alvin menghela nafasnya. “Bukan Cuma itu.”
Tiba-tiba Patton membuka pintu kamar Shilla. Tanpa melihat siapa yang ada di dalam, pemuda itu lantas berdesis pelan. “Kak, ada Gabriel!”
Kontan, kedua pemuda tadi menajamkan matanya. Gabriel?!
*
“Dimana tu anak? Cari mati banget dateng ke sini.” Kata Alvin geram.
Patton kemudian menyeringai. “Di sekolahnya kali. Siapa yang bilang dia dateng ke sini? Hahahahaha.”
Alvin menghela nafasnya. “Lo bisa banget bercandanya! Sekali lagi, dapet tonjokan manis dari gue, Pat!”
“Haha piss, man! Gue hanya mencairkan suasana antara lo sama kakak ini. Kayaknya tegang bener. Yaudah gue permisi yak!”
Patton menutup kembali pintu tadi. Setelah menatap kepergian Patton, Alvin kembali memusatkan pandangannya ke arah Ray –yang masih terdiam.
“Gabriel kenal adek lo?”
Pemuda bermata sipit itu menganggukkan kepalanya. “Shilla sepuluh tiga..” katanya lirih kemudian. Hampir tak terdengar.
“Ohiya. Tu anak apa kabar ya. Dua hari nggak masuk. Tapi setau gue dia izin, Vin.” Kata Ray kemudian.
Alvin menghembuskan nafasnya. “Lo mau tau kabarnya? Kayak gini nih.” Katanya sembari menunjuk ranjang adiknya. Yang kelewat pucat wajahnya. Yang dililiti selang-selang medis itu.
Ray mengerutkan dahinya. “Maksudnya?” tanyanya tak mengerti.
“Shilla sepuluh tiga... Adek gue...”
Ray menganga. Tersentak tak percaya.
*
Shilla masih memegangi dadanya yang agak sedikit sesak. Sesungguhnya gadis itu masih kelewat pucat untuk berada di taman rumah sakit ini.
“Jadi gue udah dua hari nggak ngeliat dunia kayak gini? Hhh rasanya gimana coba.” Katanya sembari mengambil kamera nikonnya dari tasnya.
Rio yang berada di sampingnya hanya bisa memandangi wajah tak berdaya Shilla. Sejak lima belas menit yang lalu –Shilla sadar- Rio belum berani menanyakan hal macam-macam dan kompleks kepada gadis ini.
“Btw, yang kemaren makasih ya, Yo. Eh kemaren lusa ya. Duh gue jadi lupa waktu deh.” Ucap gadis itu tanpa menoleh ke arah pemuda tadi.
“Hm. Lo bisa cerita sama gue kalau lo udah siap. Jadi.. Udah mau maafin gue?”
Shilla kontan bergeming. Maaf? Mengapa pemuda itu menyinggung masalah-yang-lalu itu? Mengapa pula Shilla sudah lupa masalah apa itu? Oh iya. Keke.
Gadis itu tersenyum. Lalu memanggil pemuda manis itu untuk mendekatinya.
“Lo mau maaf?” katanya disertai senyum miringnya.
Rio menajamkan matanya, mengerutkan dahinya pula.
“Sini!!” Shilla meletakkan kameranya di pangkuannya. “Ngebungkuk buruan! Gue nggak nyampe. Lo sadar kan gue masih pake kursi roda?” katanya lagi.
Layaknya disihir, Rio menurut.
Shilla mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda itu, lalu berkata lirih. “Gue maafin lo”
Rio kontan menoleh ke Arah wajah cantik Shilla. Tak dinyana, permukaan bibir Shilla tak sengaja menyentuh pipi Rio. Mereka sama-sama terdiam. Entah kenapa.
Mata mereka kian beradu. Nafas mereka saling berbaur.
“RIOO SHILLA! KALIAN NGAPAIN?!” teriak Ozy dari ujung koridor. Menyadarkan kedua remaja itu dari alam sebelumnya.
Shilla menunduk. Tak terbayang betapa merah wajahnya kini. Sedangkan Rio? Rio menggaruk-garuk kepalanya yang sesungguhnya tak gatal. Salting? Ya! Pasti!
*
Pengakuan Alvin kemarin lusa masih terngiang di kepala Ray. Jadi...
Ray menganga. Tersentak tak percaya.
“Gue sebenernya nggak ngerti maksud dia kayak gini tu apa. Dia emang nggak mau be a famous kayak gue, kayak lo, hah!” Racau Alvin tak karuan. “Gue nggak tau dia kenapa. Gue nggak tau dia ada masalah apa. Tapi feeling gue, ini kerjaanya tiga pentol korek itu.” Lanjutnya.
Ray mengangguk pelan akhirnya. “Lo bikin gue gila, Vin! Sumpah!”
Alvin meringis. “Gue butuh share ini sama lo juga. Gue lebih gila asal lo tau!”
Keduanya terdiam sejenak. “Ray, gue mau lo...” Alvin menyipitkan matanya sejenak. “Jangan kasih tau Cakka.”
Ray terlihat menghela nafasnya. “Gue kira lo nyuruh gue bikin tu tiga pentol korek teriak, Rayyy imut banget sihh. Eh salah ya. Ya gue kira lo nyuruh gue bales dendam gitu, Vin. Hehe.”
Alvin memiringkan senyumnya kemudian. “Itu urusan gue.”
Bahkan Ray masih mengingat kedua mata sayu Shilla yang baru terbuka itu. Yang –sepertinya- terkejut melihat kehadiran dirinya.
“Mamen! Lo ngelamunin apa sih?” kata Cakka yang tiba-tiba menepuk pundak Ray.
Kontan, pemuda itu terkejut. “Cakkahhhh akuh kira kamuh siapahhh.”
Cakka langsung tersentak. “Ray, please! Eh! Lo udah dapet info apa lagi? Lusa gue ke London School.”
Ray yang langsung mengerti arah pembicaraan melihat sekelilingnya terlebih dahulu. Aman! Pemuda itu mencari sehelai kertas dan pena, lalu menuliskan deretan huruf disana.
“Ini sensitif banget. Nih.” Katanya sembari memberikan kertas tadi ke Cakka.
“Umari? Nama keluarga Sivia.. Jadi? Ini adeknya Sivia?! Ckck. Hebat lo! Gimana cara ngedapetinnya?” puji Cakka.
Ray menyeringai. “Biasa, man!”
Cakka mengernyit kemudian. “Jadi, lo harus jalan sama tu cewek? Kalo nggak suka, nggak usah.” Katanya tanpa ekspresi.
Ray lantas menggeleng. “Nggak pa-pa. Sekali-sekali doang, Cakk.”
“Ck. Namanya siapa?”
“Tu cewek kan? Aren.” Katanya sembari mengunyah permen karet yang tadi dibukanya.
*
Diandra dan Alvin memasuki lorong utama SHS. Alvin yang tidak memakai seragam tentunya.
“Itu mamanya kak Alvin? Asli cantik banget! Emang ya tu keluarga mukanya manis semua. Ckck.” Ucap salah seorang siswa yang melihat kedatangannya.
Masih banyak komentar yang terdengar sepanjang perjalanan mereka berdua. Namun tak satupun ditanggapinya.
Sesampainya mereka di ruang kepala Sekolah, semua bergeming seketika. Tak ada yang menyangka sang pemilik yayasan akan datang sekarang. Kontan, sang kepala sekolah langsung mempersilahkan kedua ‘tamu istimewanya’ duduk.
“Ashilla Zahrantiara, Sepuluh tiga. Bapak tau masalah apa yang akan saya bahas sekarang?” kata Diandra sembari menatap kepala sekolah tajam.
Kepala sekolah sepertinya mendadak pikun. Mendadak bisu. Merasa diperlama, Alvin berdiri. “Ma, Alvin keluar sebentar. Lama banget kayaknya ya?” ucapnya lalu berlalu meninggalkan mamanya dan kepala sekolah disana.
Diandra kembali mengulangi pertanyaannya. “Apa bapak tau?!”
*
Hilangnya kabar tentang Shilla mencuatkan berbagai pertanyaan di kepala Ify. Sudah empat hari. Itu kelewat lama bagi Ify untuk tidak menemui sahabatnya itu.
“Shilla udah sadar.” Kata seseorang seakan bisa membaca fikiran gadis itu.
Ify masih diam. Siapa sih?
“Gue Alvin.” Katanya lagi.
Ify kini mengerutkan dahinya. Dia bisa baca fikiran gue?!
“Nggak usah khawatirin Shilla.” Alvin kini mendudukkan dirinya di sebelah Ify.
Gadis itu pun menghela nafasnya. Ternyata nggak baca fikiran gue.
“Diajak ngomong malah diem aja.”
Ify mendengus. “Terus mau kakak saya ngomong apa?” Gadis itu –berpura-pura- berfikir. “Oh! Gini. Kok kakak nggak pake seragam sih? Kena sanksi mampus loh kak. Biasanya pak Harun nyuruh hormat sampe pulang. Eh tapi kalo buat kakak istimewa kayaknya. Mungkin disuruh hormat sampe besok. Kakak kan udah sering ngelanggar peraturan. Mmm udah kan kak? Saya udah ngomong loh ya.”
Alvin memiringkan lengkungan manis di bibirnya. “Gue suka mulut lo. Walaupun nggak manis, tapi apa adanya. Gue nyusul nyokap dulu deh, Fy. Jangan ngelamun di sini. Kalo kesambet, gue nggak tanggung jawab” katanya lalu pergi meninggalkannya.
Ify masih terus memajukan bibirnya beberapa senti. Masih terus menggerutu pula. Tu anak ajaib banget sih.
*
Shilla, Patton, Rio, Ozy, dan Acha telah sampai di istana keluarga Shindunata. Sebenarnya, Shilla tak ingin merepotkan mereka semua. “Gue udah kayak mau kawin aja nih. Yang nganter banyak banget.” Katanya sebelum meninggalkan rumah sakit.
Setelah turunnya barang-barang dari mobil Patton, Shilla segera menyuruh Ozy dan Acha kembali ke Bandung. Namun tepat disaat dirinya berbalik menghadap mereka berdua, Shilla terpaku sejenak. Ia menyipitkan matanya. Cagiva hitam itu...
...
*
Ify memutar iphonenya di telapak tangannya. Jam terakhir sudah berlalu sejak lima menit yang lalu. Namun Shilla juga belum hadir di sisinya.
Obiet tiba-tiba menghampiri meja Ify. Pemuda itu meletakkan kedua sikunya di meja sejajar dengan gadis itu. Lalu dikaitkannya kesepuluh jarinya disana.
“Fy, sohib lo kemana?” tanyanya kemudian.
Ify menghela nafasnya. Lalu menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Ia hanya menggeleng. “Tadi dia baca sesuatu, langsung ngegebrak meja, terus pergi. Btw, thanks tadi udah bilang dia sakit, Biet.”
Pemuda itu mengangguk. “Yeah, no problemo. Tapi gue feel bad banget nih. Fy, lo cari dia sana!” ucapnya setengah memerintah.
“Mmm biet, punya nomer kak Alvin atau kak Cakka nggak?” tanyanya sembari menggigit bibirnya.
Obiet tersentak seketika. “Buat apa?!”
Gadis itu masih menggigit bibirnya. “Nggak jadi deh. Gue kesana aja.”
*
‘kareyy, gue otw ktmpt lo dkk. Shilla ga ada’
*
Patton memukul dashboard mobilnya. Mengapa jadi sekacau ini, fikirnya. Masih bisakah Shilla bernafas? Masih sadarkah ia? Bagaimana gadis itu?!
Kacau! Kacau! Patton mengacak-acak rambutnya. Sengaja ingin memberhentikan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi muncul di kepalanya.
“Matilah! Ruangan Pramuka dimana aja gue nggak tau!”
*
Alvin mengernyit, menajamkan matanya kemudian setelah melihat kedatangan gadis itu dengan keadaan yang sedikit berantakan.
Gadis itu langsung menatap ke arah Ray. ”Kak, gimana?” tanyanya sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah –karena sedikit berlari tadi.
Gimana?! Gimana apanya?! Batin Alvin makin tak tenang.
Ray menghela nafasnya. “Gue belom ngasih tau mereka, Fy. Gue kira lo bercanda. Bro, Shilla... Nggak ada”
Cakka mengernyit. “Maksudnya?”
“Shilla pergi dari istirahat kedua tadi, kak. Dan sampe sekarang dia belom balik. Gue... Takut dia kenapa-napa. Yahh gue nggak tau juga sih kenapa gue larinya kesini. Hehe.”
Celetukan Ify tadi tak sedikitpun mencairkan suasana. Tak ayal, kedua pemuda itu menahan nafasnya. Berharap ini hanya drama yang dimainkan keduanya.
Alvin yang masih mematung tiba-tiba merasakan adanya getara dari ponselnya. Ia mengerutkan dahinya setelah melihat nama yang muncul disana.
Calling Shilla-
Apa?! Shilla?! Oh bukan.
Calling Shilla’s Patt...
“Halo... Lo disini?! Kok?!... Oke... Lo tunggu aja. Dimana?... Hm... IYA GUE NGGAK-... Oh iya Sorry... Nggak akan... Bye.”
Seketika, Alvin langsung meninggalkan semuanya.
*
Patton memandang sekeliling tempatnya berdiri sekarang. Lorong yang benar-benar sepi, dan... Ruangan laknat itu.
“Lo yakin ni nggak ada orang lain selain kita, kak?” tanyanya agak ragu-ragu.
Alvin menyipitkan matanya. “Kan gue udah bilang, nggak akan.” Katanya kemudian.
Patton hanya menghela nafas. Kemudian menggedor sembari menjeritkan nama sepupunya itu.
“Lo goblok atau gimana sih, Pat?” kata Alvin sembari tertawa pelan. “Minggir. Gue nggak nemu kunci ni ruangan di sekertariat. Kayaknya masih di pelaku.” Katanya sembari bersiap mendobrak ruangan-yang-nggak-banget itu.
Satu.. Dua.. BRAKK!!!
“SHILLAAA!!” Teriak keduanya bersamaan.
*
Alvin, Patton, Rio, dan kedua orang tuanya sedang berada di sekeliling ranjang dimana gadis itu sedang terbaring lemah. Tak sadarkan diri.
Dua hari. Gadis itu bergeming. Tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur lelapnya. Tak membuka matanya disaat Rio datang dengan paniknya kemarin lusa. Bahkan tak membuka matanya saat orang tuanya tergopoh-gopoh memasuki ruangannya tadi pagi.
“Kak Ozy sama Acha mau dateng, kak, oom, te.” Kata Patton setelah menerima telfon dari kakaknya itu.
Diandra menatap keponakannya itu. “Pat, sebenarnya bagaimana kok Shilla bisa kambuh lagi? Vin, jelaskan sama mama. I need to know everythings, dear.”
Alvin masih duduk di sofa kamar Edelweiss itu. Dan pemuda itu masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sikunya di letakkannya di pahanya. Alvin melepaskan penutup-wajahnya tadi, lalu mengangkat kedua bahunya pelan. “Alvin nggak tahu, ma. Patton di kasih tau Rio, and then he gave me know. Alvin nggak tahu Shilla jadi kayak gininya kenapa.”
Patton mendudukkan dirinya di sebelah Alvin. “Patton juga nggak tau, te. Shilla udah beberapa kali nelfon Patton, tapi pas itu Hpku lagi non aktif. Kayaknya dia langsung nelfon Rio, te.”
“Katanya, dia dikunci di ruang itu sama temennya. Rio juga nggak tau pasti, tan. Suara Shilla udah hampir hilang gitu. Untung dia ngasih tau dia dimana.” Kata Rio menimpali.
Diandra hanya mengangguk. “Mama harus bicara sama kepala yayasan dan kepala sekolah. Ini kekerasan.”
“Maafin Alvin.. Ma.. Al.. Alvin nggak bisa jaga Shilla..” kata Alvin tiba-tiba.
Mamanya hanya tersenyum. Lalu mengelus kepala anak sulungnya itu.
*
Cakka dan Ray kini berada di lapangan basket. Istirahat kedua memang.
Sesungguhnya hanya Cakka yang bermain. Ray hanya menontonnya di pinggir lapangan. 3 on 3. Namun bukan seperti 3 on 3. Ray yakin. Tidak ada peraturan disana. Kasar, Sadis, Kejam!
Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya. Sedikit tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
Ia pun memutuskan untuk mengontak sahabatnya –yang lain.
‘Vin, lo knp sih ga masuk? Cakka kacau!’
*
Alvin mengerjapkan matanya setelah membaca bbm Ray tadi. Sepertinya ia memang membutuhkannya kini.
‘lo ke RS Thamrin Utama. Buru. Cabut aja lo. Ga ush bw cakka. Edelweiss 1, Ray’
*
Ray terbelalak kaget melihat keadaan Alvin –yang ternyata lebih kacau dari Cakka. Rambutnya, raut wajahnya, bahkan cara menatapnya bisa menggambarkan keadaannya sekarang.
“Bro, kenapa?” tanya pemuda berambut gondrong itu hati-hati.
Alvin masih diam. Dia hanya berfikir sejenak. Ya. Iya butuh teman untuk mengatasi masalahnya ini. Yang sebenarnya bukan masalahnya juga.
Ray masih menatap Alvin dalam-dalam. “Bro, kenapa? Kenapa gue lo suruh kesini?” tanyanya lagi.
“Lo harus tau.” Kata pemuda-kacau tadi singkat. Ia menarik Ray ke dalam kamar adiknya.
Ray mendelik. Mengernyitkan dahinya. “Adek lo sakit?”
Alvin menghela nafasnya. “Bukan Cuma itu.”
Tiba-tiba Patton membuka pintu kamar Shilla. Tanpa melihat siapa yang ada di dalam, pemuda itu lantas berdesis pelan. “Kak, ada Gabriel!”
Kontan, kedua pemuda tadi menajamkan matanya. Gabriel?!
*
“Dimana tu anak? Cari mati banget dateng ke sini.” Kata Alvin geram.
Patton kemudian menyeringai. “Di sekolahnya kali. Siapa yang bilang dia dateng ke sini? Hahahahaha.”
Alvin menghela nafasnya. “Lo bisa banget bercandanya! Sekali lagi, dapet tonjokan manis dari gue, Pat!”
“Haha piss, man! Gue hanya mencairkan suasana antara lo sama kakak ini. Kayaknya tegang bener. Yaudah gue permisi yak!”
Patton menutup kembali pintu tadi. Setelah menatap kepergian Patton, Alvin kembali memusatkan pandangannya ke arah Ray –yang masih terdiam.
“Gabriel kenal adek lo?”
Pemuda bermata sipit itu menganggukkan kepalanya. “Shilla sepuluh tiga..” katanya lirih kemudian. Hampir tak terdengar.
“Ohiya. Tu anak apa kabar ya. Dua hari nggak masuk. Tapi setau gue dia izin, Vin.” Kata Ray kemudian.
Alvin menghembuskan nafasnya. “Lo mau tau kabarnya? Kayak gini nih.” Katanya sembari menunjuk ranjang adiknya. Yang kelewat pucat wajahnya. Yang dililiti selang-selang medis itu.
Ray mengerutkan dahinya. “Maksudnya?” tanyanya tak mengerti.
“Shilla sepuluh tiga... Adek gue...”
Ray menganga. Tersentak tak percaya.
*
Shilla masih memegangi dadanya yang agak sedikit sesak. Sesungguhnya gadis itu masih kelewat pucat untuk berada di taman rumah sakit ini.
“Jadi gue udah dua hari nggak ngeliat dunia kayak gini? Hhh rasanya gimana coba.” Katanya sembari mengambil kamera nikonnya dari tasnya.
Rio yang berada di sampingnya hanya bisa memandangi wajah tak berdaya Shilla. Sejak lima belas menit yang lalu –Shilla sadar- Rio belum berani menanyakan hal macam-macam dan kompleks kepada gadis ini.
“Btw, yang kemaren makasih ya, Yo. Eh kemaren lusa ya. Duh gue jadi lupa waktu deh.” Ucap gadis itu tanpa menoleh ke arah pemuda tadi.
“Hm. Lo bisa cerita sama gue kalau lo udah siap. Jadi.. Udah mau maafin gue?”
Shilla kontan bergeming. Maaf? Mengapa pemuda itu menyinggung masalah-yang-lalu itu? Mengapa pula Shilla sudah lupa masalah apa itu? Oh iya. Keke.
Gadis itu tersenyum. Lalu memanggil pemuda manis itu untuk mendekatinya.
“Lo mau maaf?” katanya disertai senyum miringnya.
Rio menajamkan matanya, mengerutkan dahinya pula.
“Sini!!” Shilla meletakkan kameranya di pangkuannya. “Ngebungkuk buruan! Gue nggak nyampe. Lo sadar kan gue masih pake kursi roda?” katanya lagi.
Layaknya disihir, Rio menurut.
Shilla mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda itu, lalu berkata lirih. “Gue maafin lo”
Rio kontan menoleh ke Arah wajah cantik Shilla. Tak dinyana, permukaan bibir Shilla tak sengaja menyentuh pipi Rio. Mereka sama-sama terdiam. Entah kenapa.
Mata mereka kian beradu. Nafas mereka saling berbaur.
“RIOO SHILLA! KALIAN NGAPAIN?!” teriak Ozy dari ujung koridor. Menyadarkan kedua remaja itu dari alam sebelumnya.
Shilla menunduk. Tak terbayang betapa merah wajahnya kini. Sedangkan Rio? Rio menggaruk-garuk kepalanya yang sesungguhnya tak gatal. Salting? Ya! Pasti!
*
Pengakuan Alvin kemarin lusa masih terngiang di kepala Ray. Jadi...
Ray menganga. Tersentak tak percaya.
“Gue sebenernya nggak ngerti maksud dia kayak gini tu apa. Dia emang nggak mau be a famous kayak gue, kayak lo, hah!” Racau Alvin tak karuan. “Gue nggak tau dia kenapa. Gue nggak tau dia ada masalah apa. Tapi feeling gue, ini kerjaanya tiga pentol korek itu.” Lanjutnya.
Ray mengangguk pelan akhirnya. “Lo bikin gue gila, Vin! Sumpah!”
Alvin meringis. “Gue butuh share ini sama lo juga. Gue lebih gila asal lo tau!”
Keduanya terdiam sejenak. “Ray, gue mau lo...” Alvin menyipitkan matanya sejenak. “Jangan kasih tau Cakka.”
Ray terlihat menghela nafasnya. “Gue kira lo nyuruh gue bikin tu tiga pentol korek teriak, Rayyy imut banget sihh. Eh salah ya. Ya gue kira lo nyuruh gue bales dendam gitu, Vin. Hehe.”
Alvin memiringkan senyumnya kemudian. “Itu urusan gue.”
Bahkan Ray masih mengingat kedua mata sayu Shilla yang baru terbuka itu. Yang –sepertinya- terkejut melihat kehadiran dirinya.
“Mamen! Lo ngelamunin apa sih?” kata Cakka yang tiba-tiba menepuk pundak Ray.
Kontan, pemuda itu terkejut. “Cakkahhhh akuh kira kamuh siapahhh.”
Cakka langsung tersentak. “Ray, please! Eh! Lo udah dapet info apa lagi? Lusa gue ke London School.”
Ray yang langsung mengerti arah pembicaraan melihat sekelilingnya terlebih dahulu. Aman! Pemuda itu mencari sehelai kertas dan pena, lalu menuliskan deretan huruf disana.
“Ini sensitif banget. Nih.” Katanya sembari memberikan kertas tadi ke Cakka.
“Umari? Nama keluarga Sivia.. Jadi? Ini adeknya Sivia?! Ckck. Hebat lo! Gimana cara ngedapetinnya?” puji Cakka.
Ray menyeringai. “Biasa, man!”
Cakka mengernyit kemudian. “Jadi, lo harus jalan sama tu cewek? Kalo nggak suka, nggak usah.” Katanya tanpa ekspresi.
Ray lantas menggeleng. “Nggak pa-pa. Sekali-sekali doang, Cakk.”
“Ck. Namanya siapa?”
“Tu cewek kan? Aren.” Katanya sembari mengunyah permen karet yang tadi dibukanya.
*
Diandra dan Alvin memasuki lorong utama SHS. Alvin yang tidak memakai seragam tentunya.
“Itu mamanya kak Alvin? Asli cantik banget! Emang ya tu keluarga mukanya manis semua. Ckck.” Ucap salah seorang siswa yang melihat kedatangannya.
Masih banyak komentar yang terdengar sepanjang perjalanan mereka berdua. Namun tak satupun ditanggapinya.
Sesampainya mereka di ruang kepala Sekolah, semua bergeming seketika. Tak ada yang menyangka sang pemilik yayasan akan datang sekarang. Kontan, sang kepala sekolah langsung mempersilahkan kedua ‘tamu istimewanya’ duduk.
“Ashilla Zahrantiara, Sepuluh tiga. Bapak tau masalah apa yang akan saya bahas sekarang?” kata Diandra sembari menatap kepala sekolah tajam.
Kepala sekolah sepertinya mendadak pikun. Mendadak bisu. Merasa diperlama, Alvin berdiri. “Ma, Alvin keluar sebentar. Lama banget kayaknya ya?” ucapnya lalu berlalu meninggalkan mamanya dan kepala sekolah disana.
Diandra kembali mengulangi pertanyaannya. “Apa bapak tau?!”
*
Hilangnya kabar tentang Shilla mencuatkan berbagai pertanyaan di kepala Ify. Sudah empat hari. Itu kelewat lama bagi Ify untuk tidak menemui sahabatnya itu.
“Shilla udah sadar.” Kata seseorang seakan bisa membaca fikiran gadis itu.
Ify masih diam. Siapa sih?
“Gue Alvin.” Katanya lagi.
Ify kini mengerutkan dahinya. Dia bisa baca fikiran gue?!
“Nggak usah khawatirin Shilla.” Alvin kini mendudukkan dirinya di sebelah Ify.
Gadis itu pun menghela nafasnya. Ternyata nggak baca fikiran gue.
“Diajak ngomong malah diem aja.”
Ify mendengus. “Terus mau kakak saya ngomong apa?” Gadis itu –berpura-pura- berfikir. “Oh! Gini. Kok kakak nggak pake seragam sih? Kena sanksi mampus loh kak. Biasanya pak Harun nyuruh hormat sampe pulang. Eh tapi kalo buat kakak istimewa kayaknya. Mungkin disuruh hormat sampe besok. Kakak kan udah sering ngelanggar peraturan. Mmm udah kan kak? Saya udah ngomong loh ya.”
Alvin memiringkan lengkungan manis di bibirnya. “Gue suka mulut lo. Walaupun nggak manis, tapi apa adanya. Gue nyusul nyokap dulu deh, Fy. Jangan ngelamun di sini. Kalo kesambet, gue nggak tanggung jawab” katanya lalu pergi meninggalkannya.
Ify masih terus memajukan bibirnya beberapa senti. Masih terus menggerutu pula. Tu anak ajaib banget sih.
*
Shilla, Patton, Rio, Ozy, dan Acha telah sampai di istana keluarga Shindunata. Sebenarnya, Shilla tak ingin merepotkan mereka semua. “Gue udah kayak mau kawin aja nih. Yang nganter banyak banget.” Katanya sebelum meninggalkan rumah sakit.
Setelah turunnya barang-barang dari mobil Patton, Shilla segera menyuruh Ozy dan Acha kembali ke Bandung. Namun tepat disaat dirinya berbalik menghadap mereka berdua, Shilla terpaku sejenak. Ia menyipitkan matanya. Cagiva hitam itu...
...
part 16 a
Alvin menurunkan Ify di depan pintu gerbang rumahnya. Nuansa Perancis sangat kental terasa. Pintu gerbangnya berornamen sedikit ukiran khas yang simpledan indah dipandang.
Di bagian pagarnya di cat putih pucat. Di bagian pojoknya, di tata lampu cantik berujung tajam yang sering terlihat di negara penuh cinta itu. Rumahnya tak begitu besar. Namun terlihat indah. Sarat akan dekorasi tingkat tinggi, seni, juga memori sepertinya.
“Walaupun kakak udah ngajak saya kemana-mana dengan nggak jelasnya, tapi makasih deh kak udah di anter pulang. Lain kali nggak mau lagi deh saya jalan sama kakak.” Kata Ify yang tentu saja menyadarkan lamunan pemuda sipit itu.
Pemuda itu menggarukkan kepalanya yang sesungguhnya tak gatal. Kemudian ia menoleh ke arah Ify. “Jangan pernah lagi lo ngomong kaya gitu. Kalau Zeze denger bisa abis lo, Fy.” Katanya tajam.
Ify hanya melengos kesal. Alvin yang menyadarinya makin menyeringai. “lo harus takut sama gue, Fy. Gue berkuasa. Gue patut di takuti. Dan kalaupun elo nggak takut, itu namanya nantang. Dan kalau elo nantang, itu artinya elo cari mati.”
“kakak udah deh kakak pergi aja!! Saya mau masuk!” kata Ify akhirnya. Ia pun berlalu meninggalkan Alvin yang wajahnya masih dihiasi senyum penuh kemenangan itu.
Alvin menghela nafasnya kemudian. Diraihnya ponsel di dashboard mobilnya. Setengah lima. Belum terlalu sore. Alvin segeravmengirimkan pesan singkat itu.
*
Patton masih melantunkan salah satu lagu Bruno Mars yang sedang di putar di Land Rovernya. Sesekali pemuda manis itu melirik sepupunya yang hanya memegangi iphonenya saja.
Tiba-tiba getaran dari iphone itu pun dirasakan pemiliknya. Sms. Alvin.
‘shill, lo d rmh kan? Gue otw. Mo nagih janji lo. See ya CHILLAAA :xx’
“PATT!!” pekiknya seketika. Patton tersentak.
Ditatapnya sepupunya yang masih mematung di tempat. Dengan iphone di genggamannya dan wajah terkejut kontan membuatnya mengernyit. “kenapa?” tanyanya yang sudah pasti terabaikan si gadis patung itu. Patton pun mengambil iphone di genggaman Shilla. Dibacanya pesan singkat yang tertera dilayar.
Sekejap, pemuda manis itu menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Pastinya membuat Shilla yang masih bergeming tersentak hebat.
Wajah gadis itu tak berubah. Masih tatapan penuh tanya. Namun untuk sebab yang berbeda.
“lo tau kan kita butuh waktu sepuluh menit untuk sampe ke rumah lo?” tanya Patton tanpa menoleh ke Shilla.
Shilla masih mengernyit. Namun kemudian ia mengangguk pasti. “yaiyalah, Pat! Gue udah sering lewat sini kali!!”
“dan lo nggak tau kan sekarang kak Alvin ada di mana?” tanya pemuda itu lagi.
Kali ini Shilla hanya menggeleng tanpa suara.
Patton menoleh kemudian. “itu lo ngerti. Kita cuma bisa ngebut dan berdoa biar nggak macet sekarang. Itu sih mending kalau kita sampe rumah lo duluan. Kalau nggak gimana? Mau bohong? Gue sih nggak pa-pa” katanya menyeringai.
Shilla memajukan bibirnya. Lalu melengos pelan. “dih. Itu mah emang elo jagonya. Yaudah gue tanya kak Alvin dulu dia lagi di mana” ucapnya. Ia pun menyentuh layar iphonenya, lalu mengetikkan jawaban untuk kakaknya.
Setelah terkirim, Shilla menghidupkan tape mobil sepupunya itu. Kali ini mengalunlah lagu ‘Rain Of July’. Soundtrack film indonesia ternama, Catatan Akhir Sekolah.
Mereka berdua terlihat menikmati lagu yang sarat akan memori dan kenangan itu. Namun kemudian Patton memukul kemudinya.
“anjrit! Di depan macet parah! Kak Alvin udah bales?”
Ini sedang di bilangan Jakarta Timur. Tol yang di lalui mereka memang tol yang jarang lenggang. Seharusnya mereka tak melalui jalan ini.
Shilla menggigit bibirnya. Terdiam. Lalu kemudian mengangguk pasti setelah merasakan getaran dari pesan singkat kakaknya itu. “kak Alvin lagi di... Manque! Astaga, Pat! Itu di ujung tol ini! Mati!!”
Patton sempat tersentak. Namun kembali biasa lagi. Ini udah nggak mungkin, fikirnya dalam hati.
“oke. Cuma ada dua pilihan. Kita bohong di perjalanan gara-gara tiba-tiba ketemu kakak gue atau kita bohong di rumah karena kakak gue udah sampe duluan. Yeah!” kata Shilla sembari bertopang dagu.
Patton tersenyum lebar sembari menaik-turunkan kedua alisnya. “ide gue dipake juga nih?” katanya menggoda Shilla.
Gadis itu mendengus keras. “Pat, please! Jangan sampe kak Alvin tau kalau kita ke rumah Rio tadi.”
“yaudah!!!! Ayo susun skenario bohongnya!” skenario? Please, Pat!
*
“bener deh kak. Tadi kami ke pim dulu. Mau nyari charger macbook. Kan punya gue agak-agak. Makanya tadi gue ngajak Patton.” Setelah bercerita panjang lebar, Shilla kembali meyakinkan kakaknya ini.
Kemudian Patton menimpali. “tadi batre iphone Shilla abis. Makanya dia nggak bales sms terakhir lo. Tadinya gue mau minjemin bb gue. Tapi kata Shilla nggak usah. Hehe”
Alvin mengangguk. Ia memasukan kentang goreng ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan. Sebelah tangannya telah masuk di saku celananya. Pemuda sipit itu masih bersandar di pilar tinggi rumahnya. “gitu?!”
Shilla dan Patton saling pandang, lalu mengangguk yakin kemudian. “iya kak!”
Shilla melangkah ke arah kakaknya. Melepas kacamata berframenya lalu berhenti tepat di hadapan Alvin. “emang mau nagih yang mana kak? Hehe”
Alvin menghela nafasnya “piano.. sekalian mau nanya sesuatu sama lo.”
Merasa diacuhkan, Patton memutuskan untuk ke kamarnya saja. Di ambang pintu kamar, ia sempat berteriak. “KAKKKK ELO PUNYA UTANG LOH YA SAMA GUE!”
Setelah mendengar kata “iya” dari Alvin –yang disampaikan dengan teriakan pula- pemuda manis itu langsung menutup pintu kamarnya.
Akhirnya, Alvin dan Shilla masuk bersisian. Tepat di depan pintu bertuliskan ‘HERE IS JUST THE WAY YOU’RE NOT’, Alvin melirik Shilla sejenak lalu berbisik, “pianonya tar aja.” kemudian Alvin membuka ruangan serba-merah itu. Shilla langsung menduduki sofa di seberang king bed Alvin, lalu mengambil psp yang tergeletak disebelahnya.
Alvin menghela nafasnya berat. “ini soal Ify” ucapnya pelan.
*
Gabriel memasuki kawasan perumahan merah tengah kota itu. Sembari menderu cagiva hitamnya, ia berfikir pula. Baru saja ia pulang dari makam Sivia. Namun tak ditemukannya karangan bunga-bunga segar yang biasanya menghiasi nisannya.
Memang tidak setiap hari Gabriel mengunjungi makam sepupunya itu. Namun biasanya tidak begini.
Pemuda itu mengerutkan dahinya ketika sampai di depan pintu gerbang rumah sepupunya. Terbuka. Lebar. Ia pun masuk ke dalamnya lalu menutup gerbangnya tadi.
Ternyata bukan hanya gerbang. Pintu utamanya pun terbuka. Gabriel masuk tanpa permisi akhirnya. Mencari sepupunya tentunya.
“ck. Kalo masuk itu ketuk dulu, bisa?” kata seorang gadis yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa secangkir cokelat panasnya.
Gabriel refleks menoleh ke arah sepupunya tadi. “salah siapa pintunya kebuka? Gerbang lo juga kebuka tuh. tapi udah gue tutup.” Katanya sembari duduk di sofa krem itu.
“lupa nutup tadi.” katanya yang disambung dengan menghirup aroma khas cokelat yang kelewat nikmat.
Gabriel menganggukkan kepalanya. “tadi nggak ke makam Via?”
Gadis itu menggeleng, lalu duduk berseberangan dengan Gabriel. “gimana mau ke sana? Gue aja di sandera sama cowok pshyco, kak.”
Pemuda yang tadinya terduduk manis itu kini mengejang. Matanya kontan menyipit. Agak cemas sebenarnya. “PHSYCO?!”
“hm. Ini aja baru pulang.” Ucapnya sembari meneguk cokelat panasnya tadi.
“siapa?” tanyanya masih menyipitkan matanya.
Gadis itu menghela nafasnya kuat-kuat. “you know who.” Katanya sambil menaikkan kedua alisnya.
*
Shilla memutar bola matanya. Membenahi duduknya yang terlihat sudah tidak nyaman. “manque atau manques itu bahasa perancis, kak. Gue agak nggak ngerti sih soalnya kalo lagi tu pelajaran, gue sering madol atau molor. Haha. Jadi, manque itu artinya kangen. Bahasa tingginya rindu deh. Jadi Ify rumahnya disana?”
Alvin mengangguk. “oh. Kangen? Sivia dulu sering ngomong itu. Pantes gue nggak asing” katanya. Ia menghembuskan nafasnya pelan.
“oh iya! Lo beneran suka sama Ify nggak sih? Atau Cuma gara-gara liat dia di pemakaman Sivia. Hm?” tanya gadis itu mendelik.
Alvin mengangkat kedua bahunya bersamaan, lalu merebahkan dirinya di king-bed-super-nyamannya itu.
Shilla berdecak keras. “jangan sakitin dia!! Awas aja kalau lo mainin dia, kak! Dia itu temen gue!! Dan FYI. Dia paling nggak suka cowok sok kayak kakak. Pokoknya nggak suka model-model kakak gini lah. Sipit, jelek, kejam sama adeknya, kayak kakak pokoknya”
Bughhhh!!
Mendengar celotehan adiknya, kontan Alvin melayangkan sebuah bantal ke arah adiknya. Dan kena!
“sial lo! Tuh kan kejam sama adeknya”
Alvin makin terbahak mendengar racauan adiknya tadi. Ia bangkit dari tidurnya, lalu menghampiri adiknya. “lama lo! All Time Low, Remembering Sunday. C’mon!” ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
Shilla melengkungkan garis tipis wajahnya itu. Ia pun menyambut tangan kakaknya, lalu melangkah menuju grand piano merah marun limited edition di pojok ruangan ini.
Di tekannya tuts-tuts piano secara teratur. Mereka berdua memang sering memainkan piano berdua sebelumnya. Namun sejak Shilla ke Bandung, piano itu tak ayal sebuah pajangan yang hanya terkena pembersih debu saat pelayannya membersihkannya.
Terkadang, suara halus Shilla dan Alvin melantunkan lirik lagu All Time low itu.
“...my calling i’m calling at night...”
“...but have you seen this girl...”
Penat, lelah, lenyap sekejap. Sejak kecil, mereka memang bermain piano untuk menghilangkan bad moodbooster itu.
*
Zevana menggebrak meja di sekitar tempat duduknya keras-keras setelah membaca bbm dari salah seorang pengikutnya.
“tu anak nggak bisa di biarin, Ik! Gila aja! gue baru dapet kabar kalau kemaren dia ngebuka-buka tas Alvin. Ih gue kesel tau!!” katanya.
Oik terbelalak. Kemudian menajamkan matanya seketika. “hah? Udah di diemin, eh malah ngelunjak”
Angel pun menimbrung. Tak beda dengan kedua sahabatnya, ia bahkan hampir membanting ponselnya. “Shilla lagi sama Alvin Cakka Ray di depan! Ck! Hari ini aja deh, Ze, Ik!”
*
Sebenarnya hari ini Ify bersamanya. Namun entah kenapa Gabriel masih mengekori bus yang mereka naiki. Untung setelah Shilla mengisyaratkan pemuda itu pergi, ia menurut.
Setelah lenyapnya Gabriel dari pandangan, tiba-tiba Alvin menghampiri keduanya. Disusul Ray dan Cakka. Kembar tiga itu memang tak terpisahkan.
Alvin menarik tangan Ify, cakka pun menarik tangan Shilla. Kini mereka di sela-sela the most wanted boy SHS. Ray, Ify, Alvin, Shilla, lalu Cakka.
Tangan sebelah kiri Shilla bebas. Hanya sebelah kanan yang di cengkram Cakka. Ia menepuk punggung tangan Alvin kemudian.
“kak!!” bentaknya kepada Alvin. Ia tahu. Memberontak kepada Cakka hanya menghabiskan tenaga, emosi jiwa, menguras hati!
Shilla menatap Alvin tajam-tajam. Tepat di manik mata kakaknya. “lepasin kami!” katanya lagi.
Alvin terdiam. Bergeming. Seketiga genggamannya pada Ify dilepaskannya. “lepasin aja.” katanya singkat lalu berlalu. Meninggalkan Cakka dan Ray yang saling tatap.
Pemuda sipit itu sesungguhnya paling tidak bisa ditatap adiknya seperti itu. Tatapan marah. Ia ingin menghindari, namun tetap saja tak bisa.
Cakka dan Ray pun menjadi terdiam. Mematung dibebani fikirannya masing-masing. Kemudian mereka menyusul sahabatnya itu setengah berlari. Apapun fikiran mereka saat itu, yang jelas mereka tahu, ini pasti ada apa-apa.
*
Gadis itu tersenyum miring melihat tanda-tanda kehadiran Shilla di ujung lorong. Ketika Shilla tepat berada di hadapannya, ia makin memiringkan lengkungan di bibirnya itu.
“punya nyali juga ya lo? Haha.”
Shilla berdecak pelan. Di lihatnya arloji di pergelangannya. 12.25. lima menit lagi bel masuk. “gue nggak punya banyak waktu nih. Mau lo-lo pada apa? Pake naro memo segala di meja gue. Duh norak, tau!” ucapnya sembari mengernyit.
Oik kini tertawa sinis. “ck. Gini ya sikap anak baru? Hebat!!”
“lo mau bertiga? Gue belom manggil yang lain nih. Nggak betina banget mainnya keroyokan. Kalo cowok kan jantan tuh. kalo cewek betina dong ya? btw, mau main kekerasan atau adu mulut?” kata Shilla makin kacau.
Sebenarnya nyalinya mulai ciut ketika tahu ruang pramuka yang digunakan sebagai tempat eksekusi ‘the dangerous’ separah ini. Ruang pramuka SHS tak lebih baik dari gudangnya. Kotor, pengap, sempit, tak terurus, mengenaskan.
Kali ini Zevana yang membalas. “lo itu nggak tau siapa kita, kam-pung!”
Tak segan-segan, oik mencengkram bahunya, lalu mendorongnya ke pojok ruangan. Namun Shilla berusaha tetap tenang.
“lo ngerebut Alvin, Cakka, dan Ray dari kita!” ucap Oik tajam. Kemudian ia melayangkan sebuah tamparan yang mendarat manis di pipi Shilla.
Zeze pun menarik rambut panjang Shilla. Kemudian menekan tubuhnya ke lantai. “lo juga blagu! Yang boleh gitu Cuma kami dan Alvin, Cakka, dan Ray!!”
Mereka berdua terus-terusan menyerang Shilla. Gadis itu sudah terkulai lemah. Tak mampu melawan lagi tamparan diterimanya berkali-kali. Rambutnya pun banyak yang rontok di lantai. Kacau!
“nggak mau bunuh gue sekalian?” kata Shilla lirih. Namun matanya masih menyipit.
“haha. Nanti aja bunuh elonya. Lagian, gue lagi nggak bawa pisau atau silet atau yang lainnya gitu.” Tawa Oik dan Zevana membahana ruang sempit itu. Angel sekarang masih di luar. Menjaga-jaga.
Oik menendang kaki panjang Shilla tiba-tiba. “dan satu lagi ya, nona, semoga elo beruntung di sini!”
Mereka lalu berlalu meninggalkan Shilla yang tak bergerak. Dikuncinya pintu ruangan super menjijikkan itu.
Walau samar-samar, Shilla masih menatap pintu itu. Ingin diraihnya. Namun sudah tak mungkin.
“woy!!!!! Bukain!! Ik!!! Oik!!! Bukain!! Please, Ik!!! Zeze!! Anget!! Please!!” teriaknya. Namun tak ada balasan dari luar. Mungkin mereka sudah pergi. Panik! Shilla panik!
Nafasnya mulai terasa berat. Sesak. Bulir peluhnya pun berjatuhan dari pelipisnya.
Diraihnya ponsel dari saku kemejanya. Dicarinya kontak kakaknya. Gotcha!! Namun saat hampir saja tombol hijau ditekannya, Shilla berfikir sejenak.
Menelfon kakaknya mungkin bisa menghindari masalah saat ini. Namun ini terlalu berbahaya. Bisa-bisa penyamarannya terbongkar total.
Shilla membatalkan solusinya tadi. Kemudian ia mencari nama lain di kontaknya. Patton? Tapi the dangerous telah mengenal pemuda hitam manis itu! Namun.. Ah tak apa lah! Toh hanya mereka bertiga.
Dikontaknya Patton Setelah itu.
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...” Astaga! Patton dimana?
Shilla makin panik. Nafasnya kian memburu. Pengap sungguh keterlaluan di sini.
Siapa lagi yang harus Shilla hubungi? Otaknya harus berfikir cepat kini. Ozy? Dia di Bandung! Acha? Shilla menggeleng seketika. Lalu?
Dia!!
“halo.. hhh.. Yo..” ucapnya terengah-engah.
Rio mengerutkan dahinya. “Shill?? Lo kenapa?? Halo??”
“Yo.. tolong.. hhh... lo ke rumah hhh gue.. bilang sama Patton suruh hhh dia ke sekolah gue hhh sekarang..” nafasnya makin sesak. Shilla memejamkan matanya sejenak. Menahan kesesakan yang dirasakannya kini.
“lo kenapa, Shill?? Okeoke. Patton ya? kenapa nggak gue aja? shill??” ucap Rio makin khawatir. Seketika, ia bangkit. Melupakan lebam tubuhnya yang masih bersarang disana.
“nggak, Yo.. hhh Patton aja please.. gue hhh nggak kuat, Yo.. Tolong.. hhh gue dikunci temen hhh gue di hhh ruang pramuka. Yoo hhh to..”
Rio kini benar-benar panik. Tak lagi terdengar suara gadis itu. Masih belum di putus. Yang terdengar di telinga Rio hanyalah beratnya nafas Shilla disana. “Shill?? Halo?? Shilla! Still there?? Shilla!! Halo!! Lo.. SHILLA!!”
...
Di bagian pagarnya di cat putih pucat. Di bagian pojoknya, di tata lampu cantik berujung tajam yang sering terlihat di negara penuh cinta itu. Rumahnya tak begitu besar. Namun terlihat indah. Sarat akan dekorasi tingkat tinggi, seni, juga memori sepertinya.
“Walaupun kakak udah ngajak saya kemana-mana dengan nggak jelasnya, tapi makasih deh kak udah di anter pulang. Lain kali nggak mau lagi deh saya jalan sama kakak.” Kata Ify yang tentu saja menyadarkan lamunan pemuda sipit itu.
Pemuda itu menggarukkan kepalanya yang sesungguhnya tak gatal. Kemudian ia menoleh ke arah Ify. “Jangan pernah lagi lo ngomong kaya gitu. Kalau Zeze denger bisa abis lo, Fy.” Katanya tajam.
Ify hanya melengos kesal. Alvin yang menyadarinya makin menyeringai. “lo harus takut sama gue, Fy. Gue berkuasa. Gue patut di takuti. Dan kalaupun elo nggak takut, itu namanya nantang. Dan kalau elo nantang, itu artinya elo cari mati.”
“kakak udah deh kakak pergi aja!! Saya mau masuk!” kata Ify akhirnya. Ia pun berlalu meninggalkan Alvin yang wajahnya masih dihiasi senyum penuh kemenangan itu.
Alvin menghela nafasnya kemudian. Diraihnya ponsel di dashboard mobilnya. Setengah lima. Belum terlalu sore. Alvin segeravmengirimkan pesan singkat itu.
*
Patton masih melantunkan salah satu lagu Bruno Mars yang sedang di putar di Land Rovernya. Sesekali pemuda manis itu melirik sepupunya yang hanya memegangi iphonenya saja.
Tiba-tiba getaran dari iphone itu pun dirasakan pemiliknya. Sms. Alvin.
‘shill, lo d rmh kan? Gue otw. Mo nagih janji lo. See ya CHILLAAA :xx’
“PATT!!” pekiknya seketika. Patton tersentak.
Ditatapnya sepupunya yang masih mematung di tempat. Dengan iphone di genggamannya dan wajah terkejut kontan membuatnya mengernyit. “kenapa?” tanyanya yang sudah pasti terabaikan si gadis patung itu. Patton pun mengambil iphone di genggaman Shilla. Dibacanya pesan singkat yang tertera dilayar.
Sekejap, pemuda manis itu menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Pastinya membuat Shilla yang masih bergeming tersentak hebat.
Wajah gadis itu tak berubah. Masih tatapan penuh tanya. Namun untuk sebab yang berbeda.
“lo tau kan kita butuh waktu sepuluh menit untuk sampe ke rumah lo?” tanya Patton tanpa menoleh ke Shilla.
Shilla masih mengernyit. Namun kemudian ia mengangguk pasti. “yaiyalah, Pat! Gue udah sering lewat sini kali!!”
“dan lo nggak tau kan sekarang kak Alvin ada di mana?” tanya pemuda itu lagi.
Kali ini Shilla hanya menggeleng tanpa suara.
Patton menoleh kemudian. “itu lo ngerti. Kita cuma bisa ngebut dan berdoa biar nggak macet sekarang. Itu sih mending kalau kita sampe rumah lo duluan. Kalau nggak gimana? Mau bohong? Gue sih nggak pa-pa” katanya menyeringai.
Shilla memajukan bibirnya. Lalu melengos pelan. “dih. Itu mah emang elo jagonya. Yaudah gue tanya kak Alvin dulu dia lagi di mana” ucapnya. Ia pun menyentuh layar iphonenya, lalu mengetikkan jawaban untuk kakaknya.
Setelah terkirim, Shilla menghidupkan tape mobil sepupunya itu. Kali ini mengalunlah lagu ‘Rain Of July’. Soundtrack film indonesia ternama, Catatan Akhir Sekolah.
Mereka berdua terlihat menikmati lagu yang sarat akan memori dan kenangan itu. Namun kemudian Patton memukul kemudinya.
“anjrit! Di depan macet parah! Kak Alvin udah bales?”
Ini sedang di bilangan Jakarta Timur. Tol yang di lalui mereka memang tol yang jarang lenggang. Seharusnya mereka tak melalui jalan ini.
Shilla menggigit bibirnya. Terdiam. Lalu kemudian mengangguk pasti setelah merasakan getaran dari pesan singkat kakaknya itu. “kak Alvin lagi di... Manque! Astaga, Pat! Itu di ujung tol ini! Mati!!”
Patton sempat tersentak. Namun kembali biasa lagi. Ini udah nggak mungkin, fikirnya dalam hati.
“oke. Cuma ada dua pilihan. Kita bohong di perjalanan gara-gara tiba-tiba ketemu kakak gue atau kita bohong di rumah karena kakak gue udah sampe duluan. Yeah!” kata Shilla sembari bertopang dagu.
Patton tersenyum lebar sembari menaik-turunkan kedua alisnya. “ide gue dipake juga nih?” katanya menggoda Shilla.
Gadis itu mendengus keras. “Pat, please! Jangan sampe kak Alvin tau kalau kita ke rumah Rio tadi.”
“yaudah!!!! Ayo susun skenario bohongnya!” skenario? Please, Pat!
*
“bener deh kak. Tadi kami ke pim dulu. Mau nyari charger macbook. Kan punya gue agak-agak. Makanya tadi gue ngajak Patton.” Setelah bercerita panjang lebar, Shilla kembali meyakinkan kakaknya ini.
Kemudian Patton menimpali. “tadi batre iphone Shilla abis. Makanya dia nggak bales sms terakhir lo. Tadinya gue mau minjemin bb gue. Tapi kata Shilla nggak usah. Hehe”
Alvin mengangguk. Ia memasukan kentang goreng ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan. Sebelah tangannya telah masuk di saku celananya. Pemuda sipit itu masih bersandar di pilar tinggi rumahnya. “gitu?!”
Shilla dan Patton saling pandang, lalu mengangguk yakin kemudian. “iya kak!”
Shilla melangkah ke arah kakaknya. Melepas kacamata berframenya lalu berhenti tepat di hadapan Alvin. “emang mau nagih yang mana kak? Hehe”
Alvin menghela nafasnya “piano.. sekalian mau nanya sesuatu sama lo.”
Merasa diacuhkan, Patton memutuskan untuk ke kamarnya saja. Di ambang pintu kamar, ia sempat berteriak. “KAKKKK ELO PUNYA UTANG LOH YA SAMA GUE!”
Setelah mendengar kata “iya” dari Alvin –yang disampaikan dengan teriakan pula- pemuda manis itu langsung menutup pintu kamarnya.
Akhirnya, Alvin dan Shilla masuk bersisian. Tepat di depan pintu bertuliskan ‘HERE IS JUST THE WAY YOU’RE NOT’, Alvin melirik Shilla sejenak lalu berbisik, “pianonya tar aja.” kemudian Alvin membuka ruangan serba-merah itu. Shilla langsung menduduki sofa di seberang king bed Alvin, lalu mengambil psp yang tergeletak disebelahnya.
Alvin menghela nafasnya berat. “ini soal Ify” ucapnya pelan.
*
Gabriel memasuki kawasan perumahan merah tengah kota itu. Sembari menderu cagiva hitamnya, ia berfikir pula. Baru saja ia pulang dari makam Sivia. Namun tak ditemukannya karangan bunga-bunga segar yang biasanya menghiasi nisannya.
Memang tidak setiap hari Gabriel mengunjungi makam sepupunya itu. Namun biasanya tidak begini.
Pemuda itu mengerutkan dahinya ketika sampai di depan pintu gerbang rumah sepupunya. Terbuka. Lebar. Ia pun masuk ke dalamnya lalu menutup gerbangnya tadi.
Ternyata bukan hanya gerbang. Pintu utamanya pun terbuka. Gabriel masuk tanpa permisi akhirnya. Mencari sepupunya tentunya.
“ck. Kalo masuk itu ketuk dulu, bisa?” kata seorang gadis yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa secangkir cokelat panasnya.
Gabriel refleks menoleh ke arah sepupunya tadi. “salah siapa pintunya kebuka? Gerbang lo juga kebuka tuh. tapi udah gue tutup.” Katanya sembari duduk di sofa krem itu.
“lupa nutup tadi.” katanya yang disambung dengan menghirup aroma khas cokelat yang kelewat nikmat.
Gabriel menganggukkan kepalanya. “tadi nggak ke makam Via?”
Gadis itu menggeleng, lalu duduk berseberangan dengan Gabriel. “gimana mau ke sana? Gue aja di sandera sama cowok pshyco, kak.”
Pemuda yang tadinya terduduk manis itu kini mengejang. Matanya kontan menyipit. Agak cemas sebenarnya. “PHSYCO?!”
“hm. Ini aja baru pulang.” Ucapnya sembari meneguk cokelat panasnya tadi.
“siapa?” tanyanya masih menyipitkan matanya.
Gadis itu menghela nafasnya kuat-kuat. “you know who.” Katanya sambil menaikkan kedua alisnya.
*
Shilla memutar bola matanya. Membenahi duduknya yang terlihat sudah tidak nyaman. “manque atau manques itu bahasa perancis, kak. Gue agak nggak ngerti sih soalnya kalo lagi tu pelajaran, gue sering madol atau molor. Haha. Jadi, manque itu artinya kangen. Bahasa tingginya rindu deh. Jadi Ify rumahnya disana?”
Alvin mengangguk. “oh. Kangen? Sivia dulu sering ngomong itu. Pantes gue nggak asing” katanya. Ia menghembuskan nafasnya pelan.
“oh iya! Lo beneran suka sama Ify nggak sih? Atau Cuma gara-gara liat dia di pemakaman Sivia. Hm?” tanya gadis itu mendelik.
Alvin mengangkat kedua bahunya bersamaan, lalu merebahkan dirinya di king-bed-super-nyamannya itu.
Shilla berdecak keras. “jangan sakitin dia!! Awas aja kalau lo mainin dia, kak! Dia itu temen gue!! Dan FYI. Dia paling nggak suka cowok sok kayak kakak. Pokoknya nggak suka model-model kakak gini lah. Sipit, jelek, kejam sama adeknya, kayak kakak pokoknya”
Bughhhh!!
Mendengar celotehan adiknya, kontan Alvin melayangkan sebuah bantal ke arah adiknya. Dan kena!
“sial lo! Tuh kan kejam sama adeknya”
Alvin makin terbahak mendengar racauan adiknya tadi. Ia bangkit dari tidurnya, lalu menghampiri adiknya. “lama lo! All Time Low, Remembering Sunday. C’mon!” ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
Shilla melengkungkan garis tipis wajahnya itu. Ia pun menyambut tangan kakaknya, lalu melangkah menuju grand piano merah marun limited edition di pojok ruangan ini.
Di tekannya tuts-tuts piano secara teratur. Mereka berdua memang sering memainkan piano berdua sebelumnya. Namun sejak Shilla ke Bandung, piano itu tak ayal sebuah pajangan yang hanya terkena pembersih debu saat pelayannya membersihkannya.
Terkadang, suara halus Shilla dan Alvin melantunkan lirik lagu All Time low itu.
“...my calling i’m calling at night...”
“...but have you seen this girl...”
Penat, lelah, lenyap sekejap. Sejak kecil, mereka memang bermain piano untuk menghilangkan bad moodbooster itu.
*
Zevana menggebrak meja di sekitar tempat duduknya keras-keras setelah membaca bbm dari salah seorang pengikutnya.
“tu anak nggak bisa di biarin, Ik! Gila aja! gue baru dapet kabar kalau kemaren dia ngebuka-buka tas Alvin. Ih gue kesel tau!!” katanya.
Oik terbelalak. Kemudian menajamkan matanya seketika. “hah? Udah di diemin, eh malah ngelunjak”
Angel pun menimbrung. Tak beda dengan kedua sahabatnya, ia bahkan hampir membanting ponselnya. “Shilla lagi sama Alvin Cakka Ray di depan! Ck! Hari ini aja deh, Ze, Ik!”
*
Sebenarnya hari ini Ify bersamanya. Namun entah kenapa Gabriel masih mengekori bus yang mereka naiki. Untung setelah Shilla mengisyaratkan pemuda itu pergi, ia menurut.
Setelah lenyapnya Gabriel dari pandangan, tiba-tiba Alvin menghampiri keduanya. Disusul Ray dan Cakka. Kembar tiga itu memang tak terpisahkan.
Alvin menarik tangan Ify, cakka pun menarik tangan Shilla. Kini mereka di sela-sela the most wanted boy SHS. Ray, Ify, Alvin, Shilla, lalu Cakka.
Tangan sebelah kiri Shilla bebas. Hanya sebelah kanan yang di cengkram Cakka. Ia menepuk punggung tangan Alvin kemudian.
“kak!!” bentaknya kepada Alvin. Ia tahu. Memberontak kepada Cakka hanya menghabiskan tenaga, emosi jiwa, menguras hati!
Shilla menatap Alvin tajam-tajam. Tepat di manik mata kakaknya. “lepasin kami!” katanya lagi.
Alvin terdiam. Bergeming. Seketiga genggamannya pada Ify dilepaskannya. “lepasin aja.” katanya singkat lalu berlalu. Meninggalkan Cakka dan Ray yang saling tatap.
Pemuda sipit itu sesungguhnya paling tidak bisa ditatap adiknya seperti itu. Tatapan marah. Ia ingin menghindari, namun tetap saja tak bisa.
Cakka dan Ray pun menjadi terdiam. Mematung dibebani fikirannya masing-masing. Kemudian mereka menyusul sahabatnya itu setengah berlari. Apapun fikiran mereka saat itu, yang jelas mereka tahu, ini pasti ada apa-apa.
*
Gadis itu tersenyum miring melihat tanda-tanda kehadiran Shilla di ujung lorong. Ketika Shilla tepat berada di hadapannya, ia makin memiringkan lengkungan di bibirnya itu.
“punya nyali juga ya lo? Haha.”
Shilla berdecak pelan. Di lihatnya arloji di pergelangannya. 12.25. lima menit lagi bel masuk. “gue nggak punya banyak waktu nih. Mau lo-lo pada apa? Pake naro memo segala di meja gue. Duh norak, tau!” ucapnya sembari mengernyit.
Oik kini tertawa sinis. “ck. Gini ya sikap anak baru? Hebat!!”
“lo mau bertiga? Gue belom manggil yang lain nih. Nggak betina banget mainnya keroyokan. Kalo cowok kan jantan tuh. kalo cewek betina dong ya? btw, mau main kekerasan atau adu mulut?” kata Shilla makin kacau.
Sebenarnya nyalinya mulai ciut ketika tahu ruang pramuka yang digunakan sebagai tempat eksekusi ‘the dangerous’ separah ini. Ruang pramuka SHS tak lebih baik dari gudangnya. Kotor, pengap, sempit, tak terurus, mengenaskan.
Kali ini Zevana yang membalas. “lo itu nggak tau siapa kita, kam-pung!”
Tak segan-segan, oik mencengkram bahunya, lalu mendorongnya ke pojok ruangan. Namun Shilla berusaha tetap tenang.
“lo ngerebut Alvin, Cakka, dan Ray dari kita!” ucap Oik tajam. Kemudian ia melayangkan sebuah tamparan yang mendarat manis di pipi Shilla.
Zeze pun menarik rambut panjang Shilla. Kemudian menekan tubuhnya ke lantai. “lo juga blagu! Yang boleh gitu Cuma kami dan Alvin, Cakka, dan Ray!!”
Mereka berdua terus-terusan menyerang Shilla. Gadis itu sudah terkulai lemah. Tak mampu melawan lagi tamparan diterimanya berkali-kali. Rambutnya pun banyak yang rontok di lantai. Kacau!
“nggak mau bunuh gue sekalian?” kata Shilla lirih. Namun matanya masih menyipit.
“haha. Nanti aja bunuh elonya. Lagian, gue lagi nggak bawa pisau atau silet atau yang lainnya gitu.” Tawa Oik dan Zevana membahana ruang sempit itu. Angel sekarang masih di luar. Menjaga-jaga.
Oik menendang kaki panjang Shilla tiba-tiba. “dan satu lagi ya, nona, semoga elo beruntung di sini!”
Mereka lalu berlalu meninggalkan Shilla yang tak bergerak. Dikuncinya pintu ruangan super menjijikkan itu.
Walau samar-samar, Shilla masih menatap pintu itu. Ingin diraihnya. Namun sudah tak mungkin.
“woy!!!!! Bukain!! Ik!!! Oik!!! Bukain!! Please, Ik!!! Zeze!! Anget!! Please!!” teriaknya. Namun tak ada balasan dari luar. Mungkin mereka sudah pergi. Panik! Shilla panik!
Nafasnya mulai terasa berat. Sesak. Bulir peluhnya pun berjatuhan dari pelipisnya.
Diraihnya ponsel dari saku kemejanya. Dicarinya kontak kakaknya. Gotcha!! Namun saat hampir saja tombol hijau ditekannya, Shilla berfikir sejenak.
Menelfon kakaknya mungkin bisa menghindari masalah saat ini. Namun ini terlalu berbahaya. Bisa-bisa penyamarannya terbongkar total.
Shilla membatalkan solusinya tadi. Kemudian ia mencari nama lain di kontaknya. Patton? Tapi the dangerous telah mengenal pemuda hitam manis itu! Namun.. Ah tak apa lah! Toh hanya mereka bertiga.
Dikontaknya Patton Setelah itu.
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...” Astaga! Patton dimana?
Shilla makin panik. Nafasnya kian memburu. Pengap sungguh keterlaluan di sini.
Siapa lagi yang harus Shilla hubungi? Otaknya harus berfikir cepat kini. Ozy? Dia di Bandung! Acha? Shilla menggeleng seketika. Lalu?
Dia!!
“halo.. hhh.. Yo..” ucapnya terengah-engah.
Rio mengerutkan dahinya. “Shill?? Lo kenapa?? Halo??”
“Yo.. tolong.. hhh... lo ke rumah hhh gue.. bilang sama Patton suruh hhh dia ke sekolah gue hhh sekarang..” nafasnya makin sesak. Shilla memejamkan matanya sejenak. Menahan kesesakan yang dirasakannya kini.
“lo kenapa, Shill?? Okeoke. Patton ya? kenapa nggak gue aja? shill??” ucap Rio makin khawatir. Seketika, ia bangkit. Melupakan lebam tubuhnya yang masih bersarang disana.
“nggak, Yo.. hhh Patton aja please.. gue hhh nggak kuat, Yo.. Tolong.. hhh gue dikunci temen hhh gue di hhh ruang pramuka. Yoo hhh to..”
Rio kini benar-benar panik. Tak lagi terdengar suara gadis itu. Masih belum di putus. Yang terdengar di telinga Rio hanyalah beratnya nafas Shilla disana. “Shill?? Halo?? Shilla! Still there?? Shilla!! Halo!! Lo.. SHILLA!!”
...
part 15
Ray meringis lalu meninggalkan kedua orang tadi. "haaahh kan, Cakka sama Shilla, Alvin sama Ify, gue?" desisnya pelan.
Sepeninggal Ray, Alvin masih mendribble bolanya. Mengacuhkan keberadaan sosok Gadis berdagu lancip disana -entah disengaja atau tidak. Kesabaran Ify hampir habis. Kekesalan itu hampir membuncah. Sialnya, Alvin mengetahui raut menahan-amarah itu.
Ia menaikkan ujung bibirnya ke atas. "kenapa? Mau ngamuk sama gue?"
Ify melengos. "kakak ngapain nyuruh saya ke sini?"
Alvin belum menjawab. Ia meninggalkan bola basketnya yang masih memantul, lalu meraih tasnya di pinggir lapangan. Ia menarik tangan gadis ini. "lo, pulang sama gue"
Ify ternganga. Tak percaya.
*
Patton mengotak-atik ponsel blackberrynya. Sudah hampir seperempat jam, namun Shilla tak kunjung nampak.
Duk.. Duk..
Patton mengernyit. Ia menengok ke arah pintu penumpangnya. Oh!
'Land Rover lo ssh dicari tau paaaatttt'
Patton cengengesan. Ia baru sadar sesungguhnya Shilla lah yang menunggunya daritadi.
Pemuda manis itu menyuruh sang sepupu untuk segera masuk. Shilla memutar bola matanya. Mengamati sekelilingnya dahulu.
"DUHHHH PATT GUE NYARI-NYARI MOBIL LO KAYA NYARI SEMUT DEH. Hardfull. Ckck."
Patton -lagi-lagi- meringis. "hehe salah siapa nggak ngontak gue."
Shilla makin memajukan bibirnya. Mendengus keras-keras, lalu mengambil gadget canggihnya.
Tak tahu apa yang dilakukannya, Patton hanya memainkan kemudi sembari mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang diputarnya tadi.
Sesekali, ia menoleh ke arah Shilla. Seperti biasa, sok cool, sok tidak peduli, sok mengabaikan. Patton berdecak pelan. "Shill, sejak kapan sih gue kenal sama lo? Nggak usah pake topeng lo di depan gue."
Topeng? Tentu saja. Topeng yang dibuatnya karena pemuda satu itu.
Shilla menghela nafas. "gue... Cuma... Hhh i just make myself stronger than before." Shilla menarik nafasnya lagi. Rasa sesak tiba-tiba hadir diselanya. "since he was leaving me for no reason. Duhhh Patt udah ah kok jadi galau-galauan gini?!" sambungnya lagi.
Patton menyipitkan matanya. "he? Rio? Eh btw, ngapain lo nyuruh gue nganterin ke rumah Rio?"
Shilla tersadar. Rio. Sejenak, ia menceritakan semuanya kepada Patton. Walaupun hanya 'sepertinya' yang ia ceritakan, namun gadis itu yakin. Ini 'pasti'. Bukan 'sepertinya'.
Patton bergeming. "terus kenapa lo pura-pura di sekolah lo? Gue nggak ngerti nih, Shill"
Ha? Tolong! Itu sama sekali tak ada hubungannya dengan kejadian itu. Kenapa Patton tiba-tiba menanyakan hal itu?
"nggak nyambung lo, Pat! Ck gue itu cuma nggak mau dianggap manja lagi. Gue nggak mau bergantung sama tu kakak Alvin tersayang. Gue nggak mau ngulang kejadian itu lagi. Bayangin, Pat!! He shouted me. Call me 'anak manja!' in front of anyone for no reason anymore. Duh gue nggak ngerti jalan fikiran tu anak kok bisa ngatain gue anak manja." Kata Shilla hampir membanting iphonenya.
Patton hampir melepas kemudinya untuk menenangkan sepupunya ini. Untung kemudian gadis itu bisa mengendalikan dirinya. "lo kaya gini cuma gara-gara Rio bilang kaya gitu? Buset! Membekas banget kalau gitu ya, Shill! Haha! Tapi gue nggak percaya. Pasti si tuan putri Panggemanan juga jadi penyebab nih. Ya, kan?" ucap Patton sembari menaikkan sebelah alisnya.
Shilla tersentak seketika. Sebagian tubuhnya langsung menghadap ke Patton. Matanya menajam. "HEH?!"
Patton hanya tersenyum. Tiba-tiba ia teringat pujaan hatinya di sana. Tatapan sok beraninya, tingkah cemburunya. Eh? Pujaan hati?
Patton tertawa miris. Mikir apa sih gue, batinnya lirih.
"Shill, rumah Rio nih. Lo nggak ganti baju dulu? Gue bawain tuh di belakang. Kalau lo mau ganti gue keluar nih." Ucap Patton tanpa sedikitpun menoleh ke arah Shilla.
Gadis itu mengernyit. "emm oke deh. Thanks loh, Pat" Shilla tersenyum tipis.
Patton mengambil ponsel dan ipod nanonya di dashboard. "oke. Kuncinya nih. Gue masuk duluan ya, Shill." Patton setengah berteriak lalu meninggalkan Shilla sendirian.
Shilla hanya mengulurkan ibu jarinya. Gadis itu beranjak ke tempat duduk belakang. Cardigan, t-shirt, short pants, benarkah Patton yang menyiapkan semuanya?
Shilla tertawa pelan. Melengkungkan garis indah di bibirnya. Ia meraih satu 'paket' pakaian tadi, lalu segera menggantikan seragamnya. Diraihnya kunci Land Rover Patton serta tasnya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Berlebihan kah ia untuk mendatangi Rio seperti ini? Shilla menggeleng. Tiba-tiba getaran muncul dari dalam tasnya. Patton.
'shill, lu cptn! Rio parah! Untung blm mati. Hehe'
Astaga. Sempat-sempatnya Patton bercanda.
*
Alvin melepas kacamata hitamnya. Lalu kembali fokus kepada jalanan didepan. Macet? Bukankah itu makanan sehari-hari warga Jakarta? Penat? Pasti!
Alvin memiringkan bibirnya. "ck. Coba gue bisa beli ni jalanan."
Ify langsung menatap Alvin. Lalu membuang mukanya seketika.
Alvin kontan tertawa. "lo tuh kenapa sih kayaknya benci banget sama gue? Gue ada salah apa sih sama lo, Fy? Sama Cakka biasa, sama Ray deket, kenapa sama gue gini?"
"kakak nih kenapa sih? Ini kemana lagi kan? Katanya mau pulang?"
Lagi-lagi Alvin tertawa pelan. "elo yakin nggak tau ini dimana?"
Ify menggigit bibirnya. Ia tahu! Sangat tahu! Namun entah kenapa raganya berbohong tiba-tiba. Kepalanya menggeleng pelan. "kak! Saya mau pulang!" Katanya keras.
"ck! Diem! Lo mau gue terjunin ke sungai, ha? Diem!"
Ify kontan membisu. Tuhan, tolong..
*
Pemuda itu tak lebih baik dari kakaknya tadi malam. Terbujur lemah, penuh lebam. Bahkan pemuda itu lebih parah. Itu kelewat miris untuk di saksikan. Patton benar. Untung nggak mati.
Shilla mendekat ke king bed jingga milik Rio. Telaga beningnya menelusuri setiap guratan ungu di tubuh pemuda itu. "kak Alvin ya?" tanyanya sembari menyipitkan matanya.
Pemuda yang sedari tadi tak menyadari adanya sosok Shilla kontan menoleh. "iya.." ucapnya lemah. Namun cukup jelas.
Shilla menghela nafasnya lagi. "Patton mana?" Gadis itu semakin mendekat ke arah Rio.
Rio hanya menggerakkan bahunya. "tadi dia keluar sebentar. Kayaknya ngambil cemilan." kali ini Rio setengah berbisik. Suara serak Rio sekejap hampir hilang. Benar-benar parah!
"jangan kebanyakan ngomong dulu, Yo. Emm gue ambil air sama kain dulu. Hold on."
Shilla beranjak menuju toilet di dalam kamar Rio ini. Untung ada handuk kecil dan tempat airnya. Shilla kembali ke tempat tidur Rio. Mendudukkan dirinya di sebelah kanan pemuda itu. Lalu meletakkan tempat air tadi di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Rio.
Segera Shilla mencelupkan handuk putih itu kedalam air, memerasnya, lalu mengusapkannya ke permukaan lebam Rio.
"aww.." ucap Rio pelan. Menahan sakit tentunya.
Gadis itu refleks mengangkat handuknya tadi. "kenapa, Yo?"
Rio hanya memejamkan matanya, lalu berucap lirih. "sakit.."
Shilla kontan terdiam. Menatap pemuda tadi nanar. Lalu mengusap kembali lebam tadi. Kali ini lebih hati-hati. "sorry." ucapnya sembari tersenyum tipis.
Astaga. Senyum meneduhkan itu kembali dilihatnya. Rio merasa lebih tenang. Ia pun membalas senyum tadi.
Gadis itu menghela nafasnya sejenak lalu ia kembali mengusapkan lebam Rio. Satu per satu. Di sentuhnya wajah sempurna Rio dengan tangan kiri, lalu di usapkannya handuknya dengan tangan kanan. Dengan telatennya, Shilla mengobati Rio. Tanpa disadari, ada yang bergetar di dalam tubuhnya. Berdetak pula jantungnya saat itu. Sesungguhnya Shilla ingin memperjauh jaraknya pada Rio saat ini. Agar pemuda itu tak tahu apa yang dirasakannya. Agar pemuda itu tak mendengar kerasnya jantungnya berdetak.
Menepis gejolak hatinya. Hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang. Jangan terlihat begini di depan Rio. Hanya itu.
Rio memegang ulu hatinya tiba-tiba. Nafasnya terdengar berat. Shilla yang sedang mengobati lebam di wajah Rio langsung menatap daerah perut yang Rio pegang.
"kenapa yo?" tanyanya agak cemas. "sakit ya? Kak Alvin ngapain aja sih emangnya?!"
Rio masih memegangi ulu hatinya. Mencoba tersenyum pada gadis itu. "nggak papa hhh, Shill. Cuma sakit kok. Hhh."
"sakit doang pala lo! Sini gue liat! Ck gue mah bisa lah kalau masalah lebam-lebam ria gini." kata Shilla sambil mencoba melepas cengkraman Rio pada ulu hatinya. "eh, sorry, gue buka." katanya lagi. Sesungguhnya ia agak segan membuka kancing kemeja Rio seperti ini. Namun Rio memang parah. Parah!
Satu per satu kancing terlepas dari kaitanyya. Sebatas dada, Shilla langsung mengerutkan dahinya. "ya ampun, Yo! Lo tuh cuma berantem sama kak Alvin atau gimana sih?! Ckck. Kayak dikeroyok tau nggak!"
Shilla masih menggelengkan kepalanya. Ini memang parah! Parah!!
"Shill, udah nggak papa. Nanti aja." ucap Rio seketika saat Shilla ingin meraih handuk basah tadi. Pemuda itu mengaitkan telapak tangannya ke pergelangan milik Shilla. Kontan, Shilla menoleh.
"tolong.. Sebentar aja. Jangan di lepas." kata Rio lirih. Shilla menelan ludahnya. Ini maksudnya Rio apa?
Gadis itu masih berada di samping kanan Rio. Duduk sejajar dengan pinggang Rio membuat tatapan pemuda itu tepat menusuk manik matanya.
"Shill? Yo? Lo berdua ngapain? Kok pegangan tangan? EH, YO! LO KOK BUKA BAJU SEGALA? HAYOO KALIAN NGAPAIN??!"
*
Cakka masih memainkan gitar kesayangannya di balkon kamarnya. Alunan gitar hitam bercorak putih itu kelewat enak di dengar. Cakka pun terlarut di dalamnya -sepertinya.
"lemme tell you one time.. I'mma tell you one time.."
Ponselnya berbunyi. Telfon sepertinya. Ia segera beranjak mengambilnya. Ray.
"bro, gue dapet!!" sambar ray tiba-tiba.
Cakka mengernyit. "dapet? Datang bulan, bro?"
"ha! Lo tuh ya! Udah gue bantuin biar deket sama Shilla juga! Ck" kata Ray kemudian.
Cakka makin bingung. "hm? Maksudnya?"
"gue dapet info penting! Ini cara satu-satunya, Cakk!"
"apaan?"
"Gabriel punya sepupu! Kelas sepuluh!! Gue nggak tau sih kelas sepuluh mana. Tapi... Lo ngerti kan, Cakk?"
Cakka memutar bola matanya. Lalu tersenyum miring sejenak. "yoi. Thanks mamen!" ucapnya lalu memutuskan hubungan telfonnya dengan Ray. Gampang! Bisa di atur!
*
Dengan pengetahuan kedokteran Shilla tadi, Rio menjadi lebih baik. Jauh lebih baik dari sebelumnya.
"nggak berarti kalau gue dateng kesini berarti gue maafin elo ya, Yo." kata Shilla sembari mengambil iphonenya.
Rio hanya mendengus. "gue harus ngapain, Shill? Sumpah ya, gue minta maaf banget sama lo."
Shilla tertawa pelan. "duhh udah deh, Yo. Yang penting lo udah mendingan. Gue mau pulang aja deh. Takut dicari kak Alvin. Yuk, Pat!"
Patton masih mengerutkan dahinya. Astaga. Pasti masalah tadi. "Pat? Ayo!!"
Patton masih terus mengerutkan dahinya. Bahkan menyipitkan matanya kini. "lo beneran nggak ngapa-ngapain sepupu gue kan, Yo?"
"engga, Pat!! Udah lah yukkkk" kata Shilla akhirnya. Ia juga menarik-narik tangan Patton.
"ck! Buruaaaann"
*
Alvin menepikan mobilnya jauh dari tempat tujuannya semula. Ini belum saatnya.
"dimana rumah lo? Kita pulang." kata Alvin kemudian.
Pulang? Ify sempat tersentak. "di Manque. Tau nggak?"
Kali ini giliran Alvin yang tersentak. Manque? Sepertinya tak asing..
...
Sepeninggal Ray, Alvin masih mendribble bolanya. Mengacuhkan keberadaan sosok Gadis berdagu lancip disana -entah disengaja atau tidak. Kesabaran Ify hampir habis. Kekesalan itu hampir membuncah. Sialnya, Alvin mengetahui raut menahan-amarah itu.
Ia menaikkan ujung bibirnya ke atas. "kenapa? Mau ngamuk sama gue?"
Ify melengos. "kakak ngapain nyuruh saya ke sini?"
Alvin belum menjawab. Ia meninggalkan bola basketnya yang masih memantul, lalu meraih tasnya di pinggir lapangan. Ia menarik tangan gadis ini. "lo, pulang sama gue"
Ify ternganga. Tak percaya.
*
Patton mengotak-atik ponsel blackberrynya. Sudah hampir seperempat jam, namun Shilla tak kunjung nampak.
Duk.. Duk..
Patton mengernyit. Ia menengok ke arah pintu penumpangnya. Oh!
'Land Rover lo ssh dicari tau paaaatttt'
Patton cengengesan. Ia baru sadar sesungguhnya Shilla lah yang menunggunya daritadi.
Pemuda manis itu menyuruh sang sepupu untuk segera masuk. Shilla memutar bola matanya. Mengamati sekelilingnya dahulu.
"DUHHHH PATT GUE NYARI-NYARI MOBIL LO KAYA NYARI SEMUT DEH. Hardfull. Ckck."
Patton -lagi-lagi- meringis. "hehe salah siapa nggak ngontak gue."
Shilla makin memajukan bibirnya. Mendengus keras-keras, lalu mengambil gadget canggihnya.
Tak tahu apa yang dilakukannya, Patton hanya memainkan kemudi sembari mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang diputarnya tadi.
Sesekali, ia menoleh ke arah Shilla. Seperti biasa, sok cool, sok tidak peduli, sok mengabaikan. Patton berdecak pelan. "Shill, sejak kapan sih gue kenal sama lo? Nggak usah pake topeng lo di depan gue."
Topeng? Tentu saja. Topeng yang dibuatnya karena pemuda satu itu.
Shilla menghela nafas. "gue... Cuma... Hhh i just make myself stronger than before." Shilla menarik nafasnya lagi. Rasa sesak tiba-tiba hadir diselanya. "since he was leaving me for no reason. Duhhh Patt udah ah kok jadi galau-galauan gini?!" sambungnya lagi.
Patton menyipitkan matanya. "he? Rio? Eh btw, ngapain lo nyuruh gue nganterin ke rumah Rio?"
Shilla tersadar. Rio. Sejenak, ia menceritakan semuanya kepada Patton. Walaupun hanya 'sepertinya' yang ia ceritakan, namun gadis itu yakin. Ini 'pasti'. Bukan 'sepertinya'.
Patton bergeming. "terus kenapa lo pura-pura di sekolah lo? Gue nggak ngerti nih, Shill"
Ha? Tolong! Itu sama sekali tak ada hubungannya dengan kejadian itu. Kenapa Patton tiba-tiba menanyakan hal itu?
"nggak nyambung lo, Pat! Ck gue itu cuma nggak mau dianggap manja lagi. Gue nggak mau bergantung sama tu kakak Alvin tersayang. Gue nggak mau ngulang kejadian itu lagi. Bayangin, Pat!! He shouted me. Call me 'anak manja!' in front of anyone for no reason anymore. Duh gue nggak ngerti jalan fikiran tu anak kok bisa ngatain gue anak manja." Kata Shilla hampir membanting iphonenya.
Patton hampir melepas kemudinya untuk menenangkan sepupunya ini. Untung kemudian gadis itu bisa mengendalikan dirinya. "lo kaya gini cuma gara-gara Rio bilang kaya gitu? Buset! Membekas banget kalau gitu ya, Shill! Haha! Tapi gue nggak percaya. Pasti si tuan putri Panggemanan juga jadi penyebab nih. Ya, kan?" ucap Patton sembari menaikkan sebelah alisnya.
Shilla tersentak seketika. Sebagian tubuhnya langsung menghadap ke Patton. Matanya menajam. "HEH?!"
Patton hanya tersenyum. Tiba-tiba ia teringat pujaan hatinya di sana. Tatapan sok beraninya, tingkah cemburunya. Eh? Pujaan hati?
Patton tertawa miris. Mikir apa sih gue, batinnya lirih.
"Shill, rumah Rio nih. Lo nggak ganti baju dulu? Gue bawain tuh di belakang. Kalau lo mau ganti gue keluar nih." Ucap Patton tanpa sedikitpun menoleh ke arah Shilla.
Gadis itu mengernyit. "emm oke deh. Thanks loh, Pat" Shilla tersenyum tipis.
Patton mengambil ponsel dan ipod nanonya di dashboard. "oke. Kuncinya nih. Gue masuk duluan ya, Shill." Patton setengah berteriak lalu meninggalkan Shilla sendirian.
Shilla hanya mengulurkan ibu jarinya. Gadis itu beranjak ke tempat duduk belakang. Cardigan, t-shirt, short pants, benarkah Patton yang menyiapkan semuanya?
Shilla tertawa pelan. Melengkungkan garis indah di bibirnya. Ia meraih satu 'paket' pakaian tadi, lalu segera menggantikan seragamnya. Diraihnya kunci Land Rover Patton serta tasnya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Berlebihan kah ia untuk mendatangi Rio seperti ini? Shilla menggeleng. Tiba-tiba getaran muncul dari dalam tasnya. Patton.
'shill, lu cptn! Rio parah! Untung blm mati. Hehe'
Astaga. Sempat-sempatnya Patton bercanda.
*
Alvin melepas kacamata hitamnya. Lalu kembali fokus kepada jalanan didepan. Macet? Bukankah itu makanan sehari-hari warga Jakarta? Penat? Pasti!
Alvin memiringkan bibirnya. "ck. Coba gue bisa beli ni jalanan."
Ify langsung menatap Alvin. Lalu membuang mukanya seketika.
Alvin kontan tertawa. "lo tuh kenapa sih kayaknya benci banget sama gue? Gue ada salah apa sih sama lo, Fy? Sama Cakka biasa, sama Ray deket, kenapa sama gue gini?"
"kakak nih kenapa sih? Ini kemana lagi kan? Katanya mau pulang?"
Lagi-lagi Alvin tertawa pelan. "elo yakin nggak tau ini dimana?"
Ify menggigit bibirnya. Ia tahu! Sangat tahu! Namun entah kenapa raganya berbohong tiba-tiba. Kepalanya menggeleng pelan. "kak! Saya mau pulang!" Katanya keras.
"ck! Diem! Lo mau gue terjunin ke sungai, ha? Diem!"
Ify kontan membisu. Tuhan, tolong..
*
Pemuda itu tak lebih baik dari kakaknya tadi malam. Terbujur lemah, penuh lebam. Bahkan pemuda itu lebih parah. Itu kelewat miris untuk di saksikan. Patton benar. Untung nggak mati.
Shilla mendekat ke king bed jingga milik Rio. Telaga beningnya menelusuri setiap guratan ungu di tubuh pemuda itu. "kak Alvin ya?" tanyanya sembari menyipitkan matanya.
Pemuda yang sedari tadi tak menyadari adanya sosok Shilla kontan menoleh. "iya.." ucapnya lemah. Namun cukup jelas.
Shilla menghela nafasnya lagi. "Patton mana?" Gadis itu semakin mendekat ke arah Rio.
Rio hanya menggerakkan bahunya. "tadi dia keluar sebentar. Kayaknya ngambil cemilan." kali ini Rio setengah berbisik. Suara serak Rio sekejap hampir hilang. Benar-benar parah!
"jangan kebanyakan ngomong dulu, Yo. Emm gue ambil air sama kain dulu. Hold on."
Shilla beranjak menuju toilet di dalam kamar Rio ini. Untung ada handuk kecil dan tempat airnya. Shilla kembali ke tempat tidur Rio. Mendudukkan dirinya di sebelah kanan pemuda itu. Lalu meletakkan tempat air tadi di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Rio.
Segera Shilla mencelupkan handuk putih itu kedalam air, memerasnya, lalu mengusapkannya ke permukaan lebam Rio.
"aww.." ucap Rio pelan. Menahan sakit tentunya.
Gadis itu refleks mengangkat handuknya tadi. "kenapa, Yo?"
Rio hanya memejamkan matanya, lalu berucap lirih. "sakit.."
Shilla kontan terdiam. Menatap pemuda tadi nanar. Lalu mengusap kembali lebam tadi. Kali ini lebih hati-hati. "sorry." ucapnya sembari tersenyum tipis.
Astaga. Senyum meneduhkan itu kembali dilihatnya. Rio merasa lebih tenang. Ia pun membalas senyum tadi.
Gadis itu menghela nafasnya sejenak lalu ia kembali mengusapkan lebam Rio. Satu per satu. Di sentuhnya wajah sempurna Rio dengan tangan kiri, lalu di usapkannya handuknya dengan tangan kanan. Dengan telatennya, Shilla mengobati Rio. Tanpa disadari, ada yang bergetar di dalam tubuhnya. Berdetak pula jantungnya saat itu. Sesungguhnya Shilla ingin memperjauh jaraknya pada Rio saat ini. Agar pemuda itu tak tahu apa yang dirasakannya. Agar pemuda itu tak mendengar kerasnya jantungnya berdetak.
Menepis gejolak hatinya. Hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang. Jangan terlihat begini di depan Rio. Hanya itu.
Rio memegang ulu hatinya tiba-tiba. Nafasnya terdengar berat. Shilla yang sedang mengobati lebam di wajah Rio langsung menatap daerah perut yang Rio pegang.
"kenapa yo?" tanyanya agak cemas. "sakit ya? Kak Alvin ngapain aja sih emangnya?!"
Rio masih memegangi ulu hatinya. Mencoba tersenyum pada gadis itu. "nggak papa hhh, Shill. Cuma sakit kok. Hhh."
"sakit doang pala lo! Sini gue liat! Ck gue mah bisa lah kalau masalah lebam-lebam ria gini." kata Shilla sambil mencoba melepas cengkraman Rio pada ulu hatinya. "eh, sorry, gue buka." katanya lagi. Sesungguhnya ia agak segan membuka kancing kemeja Rio seperti ini. Namun Rio memang parah. Parah!
Satu per satu kancing terlepas dari kaitanyya. Sebatas dada, Shilla langsung mengerutkan dahinya. "ya ampun, Yo! Lo tuh cuma berantem sama kak Alvin atau gimana sih?! Ckck. Kayak dikeroyok tau nggak!"
Shilla masih menggelengkan kepalanya. Ini memang parah! Parah!!
"Shill, udah nggak papa. Nanti aja." ucap Rio seketika saat Shilla ingin meraih handuk basah tadi. Pemuda itu mengaitkan telapak tangannya ke pergelangan milik Shilla. Kontan, Shilla menoleh.
"tolong.. Sebentar aja. Jangan di lepas." kata Rio lirih. Shilla menelan ludahnya. Ini maksudnya Rio apa?
Gadis itu masih berada di samping kanan Rio. Duduk sejajar dengan pinggang Rio membuat tatapan pemuda itu tepat menusuk manik matanya.
"Shill? Yo? Lo berdua ngapain? Kok pegangan tangan? EH, YO! LO KOK BUKA BAJU SEGALA? HAYOO KALIAN NGAPAIN??!"
*
Cakka masih memainkan gitar kesayangannya di balkon kamarnya. Alunan gitar hitam bercorak putih itu kelewat enak di dengar. Cakka pun terlarut di dalamnya -sepertinya.
"lemme tell you one time.. I'mma tell you one time.."
Ponselnya berbunyi. Telfon sepertinya. Ia segera beranjak mengambilnya. Ray.
"bro, gue dapet!!" sambar ray tiba-tiba.
Cakka mengernyit. "dapet? Datang bulan, bro?"
"ha! Lo tuh ya! Udah gue bantuin biar deket sama Shilla juga! Ck" kata Ray kemudian.
Cakka makin bingung. "hm? Maksudnya?"
"gue dapet info penting! Ini cara satu-satunya, Cakk!"
"apaan?"
"Gabriel punya sepupu! Kelas sepuluh!! Gue nggak tau sih kelas sepuluh mana. Tapi... Lo ngerti kan, Cakk?"
Cakka memutar bola matanya. Lalu tersenyum miring sejenak. "yoi. Thanks mamen!" ucapnya lalu memutuskan hubungan telfonnya dengan Ray. Gampang! Bisa di atur!
*
Dengan pengetahuan kedokteran Shilla tadi, Rio menjadi lebih baik. Jauh lebih baik dari sebelumnya.
"nggak berarti kalau gue dateng kesini berarti gue maafin elo ya, Yo." kata Shilla sembari mengambil iphonenya.
Rio hanya mendengus. "gue harus ngapain, Shill? Sumpah ya, gue minta maaf banget sama lo."
Shilla tertawa pelan. "duhh udah deh, Yo. Yang penting lo udah mendingan. Gue mau pulang aja deh. Takut dicari kak Alvin. Yuk, Pat!"
Patton masih mengerutkan dahinya. Astaga. Pasti masalah tadi. "Pat? Ayo!!"
Patton masih terus mengerutkan dahinya. Bahkan menyipitkan matanya kini. "lo beneran nggak ngapa-ngapain sepupu gue kan, Yo?"
"engga, Pat!! Udah lah yukkkk" kata Shilla akhirnya. Ia juga menarik-narik tangan Patton.
"ck! Buruaaaann"
*
Alvin menepikan mobilnya jauh dari tempat tujuannya semula. Ini belum saatnya.
"dimana rumah lo? Kita pulang." kata Alvin kemudian.
Pulang? Ify sempat tersentak. "di Manque. Tau nggak?"
Kali ini giliran Alvin yang tersentak. Manque? Sepertinya tak asing..
...
part 14 b
Suasana yang asing. Cakka menarik tangannya menuju tempat yang sangat asing ini. Saking asingnya, Shilla menjadi pusat perhatian bak seorang suku dayak yang datang ke suku bugis. Aneh.
"diem! Berenti berontak! Kalo ga mau, gue bisa aja kasar sama lo!" desisnya. Shilla takut. Sepasang mata elang Cakka membuat nyalinya ciut. Shilla menunduk dalam-dalam. Ini area terlarang -ia tahu dari Ify-. Kawasan kelas 11.
Kegemparan ini terasa lebih hebat. Karena kelas sebelas lah angkatan yang paling mengenal Cakka. Mereka tahu dengan pasti kosongnya 'tempat' di sebelah Cakka selama ini. Karena munculnya salah satu dari the MOST WANTED BOY itu dengan seorang gadis yang digandengnya erat-erat jelas menimbulkan kegemparan.
Begitu memasuki area 'terlarang', sebagian dari tatap-tatap terkesima dan mulut-mulut ternganga kemudian mengekor dibelakang keduanya. Lama-lama, pengikut mereka semakin banyak sehingga mereka berdua seperti pengantin yang sedang diiringi. Yang mengiringi bukan hanya dengan rasa penasarannya, tapi juga keinginna untuk melontarkan pertanyaan dan komentar.
"cewek lo, Cakk? Kenalin dong" teriak seseorang.
"itu siapa? Cewek lo, Cakk? Akhirnyaaa gue kira lo homo" seru yang lain melengking keras.
Sementara itu, di sebelah Cakka, Shilla masih belum tersadar. Bukankah ini mimpi? Riuhnya suara disekeliling mereka membuatnya tak mampu mencerna apa yang tengah terjadi. Dan lagi-lagi, Shilla menemukan sorot mata iri, benci, bahkan kemarahan. Tak seluruh siswa kelas sebelas tahu apa yang Cakka lakukan pada Shilla selama ini. Karena tragedi itu sebagian besar terjadi di area kelas 10. Dapat dipastikan, ia pasti akan mendapat masalah setelah ini.
Cakka melarikan gadis ini ke kelasnya. Yang juga kelas Alvin dan Ray. Ia 'mempersilahkan' gadis ini untuk duduk disebelahnya. Sesungguhnya bangku milik Alvin. Namun sang pemilik belum juga muncul.
Mr. Juno, guru bahasa inggris mereka masuk dengan dagu berkerut. Ruangan itu kelewat sempit untuk diisi -hampir- seluruh siswa kelas 11.
"ada apa ini?!" teriaknya sembari mengetuk-ngetuk white board dengan penghapusnya. "cepat kembali ke kelas masing-masing!! The bell has been ringing! Go out!"
Para 'pengiring' Cakka dan Shilla tadi kontan bubar. Namun Mr. Juno masih mendelik.
"kamu! Bukan dari kelas ini, kan?"
Shilla menunduk. "bukan, pak" jawabnya pelan. Ia juga menggeleng.
"kamu kelas berapa?!" tanyanya lagi.
Ah! Mengapa guru ini bertanya lagi? Bukannya menyuruhnya pergi dari sini. Shilla kemudian berfikir, buat apa nih guru? Suasana kelas kak Cakka tetep aja begini. Ga berguna.
"bapak nanya sama saya aja. Saya tau kok dia kelas berapa" kata Cakka cuek. Menawarkan diri. Namun Mr. Juno mengacuhkannya.
"kelas berapa kamu?" tanyanya lagi.
"sepuluh tiga, pak" jawab Shilla super pelan. Seperti berbisik.
"berapa?" tanyanya lagi sembari menyipitkan matanya.
"sepuluh tiga!" Cakka menjawab dengan suara lantang. "udah saya bilangin, tanya sama saya aja pak. Ni cewek suaranya alus banget"
"OOHHH SEPULUH TIGAAAAA!!!" seisi kelas berkoor nyaring.
"nama kamu?" tanya Mr. Juno lagi.
"Ashilla Zahrantiara, pak!" lagi-lagi Cakka yang menjawab.
Mr. Juno geram. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan penghapus papan tulis tadi. "DIAM!!!"
"kenapa kamu di sini?"
"saya yang bawa, pak" ucap Cakka dengan gaya khasnya apabila melakukan pertentangan. Tenang, lugas, tandas.
Mr. Juno semakin kesal. Ia tak ingin membuang-buang jam pelajarannya. "back to your own class!! Go!" perintahnya. Dengan lega, Shilla berdiri. Menghela nafas sejenak, akhirnya bebas juga. Tapi tak disangka, Cakka mencengkram tangan gadis ini.
"Alvin belom dateng pak. Ga kasian tah sama saya? Masa yang lain pada punya pasangan saya engga? Kan ga adil! Lagi pula ini mendung, kayaknya bakalan hujan deras. Sendirian, dingin, terus ditengah pasangan yang lain. Yaampun pak! Sumpah, itu rasanya merana banget. Galau abis, pak"
"ya udah. Gue sama elo deh" ujar Ray menawarkan diri.
Cakka menoleh, lalu menggelengkan kepala. "sorry, kalo homo-homoan, gue setia sama Alvin, man!" ucap Cakka halus. Seisi kelas tertawa riuh.
Mr. Juno tak punya ide lagi, untungnya tiba-tiba Mrs. Nadine muncul di pintu kelas. Tadi Ify sempat melihat sahabatnya ini ditarik paksa, jadi ia melapor kepada wali kelasnya itu.
"Shilla! Kembali ke kelas!"
Shilla langsung berdiri dan bergegas keluar. Di luar dugaan, Cakka membiarkannya. Ia hanya tersenyum tipis kemudian berdecak sembari menggelengkan kepala.
"ck. Ibu jahat banget sih? Kayanya ga bisa banget kalo ngeliat saya bahagia dikiiiiitt aja?"
Cakka berdiri. Semenit kemudian, ia menghilang dari bangkunya.
"kemana dia?" tanya Mr. Juno tajam.
"ga tau paakk" koor kelas itu kompak.
*
Shilla sekarang 3 meter didepan Cakka. Setelah melihat Shilla beranjak tadi, Mrs. Nadine memang langsung meninggalkan kelas. Ini belum keluar dari 'area berbahaya' itu.
Cakka berjalan dengan santainya di belakang Shilla. 3 meter, 2 meter... Tiba-tiba Alvin muncul dihadapan Shilla -yang kontan menyentaknya-. Langkah keduanya terhenti sejenak.
Alvin melirik Shilla tajam. Dari bawah ke atas. Lalu menyipitkan matanya. Shilla hanya menunduk, lalu berlalu melewati kakaknya itu.
"mau kemana?" tanyanya datar. Shilla menoleh ke belakang. Ke arahnya. Ternyata pertanyaan tadi diperuntukkan untuk Cakka.
"ngejer cinta, bro" katanya.
Alvin langsung merangkul bahu Cakka, lalu mengajaknya ke kelasnya. "nanti aja ngejer cintanya. Sama gue aja ke kelas"
Cakka mengiyakan. Sempat mengernyit sebentar ketika melihat ujung kiri bibirnya berwarna kebiruan. "lo... Berantem? Kenapa? Wohoooooo Alvin berantem lagi!!!"
*
"yakin ga hari ini, Ze?"
"ga usah. Ga ada mood ngerjain dia, Ngel"
"pasti gara-gara kata si Shilla adeknya Alvin. Ck. Percaya lo? Kalo dia bohong gimana?"
"ck. Diem aja deh lo. Besok aja intinya"
*
Hari yang melelahkan tentunya bagi Shilla. Setelah peristiwa tadi pagi, dirinya dikerubungi teman-temannya yang memaksanya bercerita. Setelah itu Mrs. Nadine memanggilnya.
Dan sekarang, Ia dan Ify keluar kelas dengan senangnya. Hari ini pun, Ify tak mengikuti pelajaran secara full karena kegiatan Osisnya yang super padat. Shilla menghela nafas berulang kali.
"Fy, tekanan batin banget hari ini. Capeeeeekkk"
Ify tertawa kecil. "cabal yah cilla. Wahahaa"
Shilla merengut. Mendengus kesal.
"Fy, dicari Alvin. Lo juga, Shill. Ayo ikut gue" nada senioritasnya sangat kental.
Ray. Wajahnya tak seceria biasanya. Ify menangkap hal itu. Ditengah kebingungannya, Ray tiba-tiba menarik tangannya -dan Shilla- menuju ke tempat dimana Alvin berada.
"kenapa lagi kak? Saya mau dijemput, tau!" kata Shilla kepada orang yang sedang bermain basket disana. Kemejanya tak terkancing. Berkibar indah.
"lo! Kasih file banner dll kita ke Naya! Cepet! Flashdisknya di tas gue. Ambil sendiri"
Shilla melengos. Mengapa kakaknya begitu menyebalkan? Apa katanya? Banner? Kapan dia mengerjakannya?
Shilla menghela nafas. Ia hanya mengangguk lalu mencari-cari benda kecil itu di tas kakaknya.
Whoala! Benda kecil itu sudah berada di genggaman Shilla. Ray sempat bingung, kenapa ia menemukannya dalam waktu sesingkat itu? Bahkan dia pun akan menyerah apabila disuruh 'mencari benda' di tas sahabatnya itu. 'pasti ada yang ga beres'
"kak! Saya ke kak Naya dulu ya"
Alvin mengangguk. Masih sambil mendribble bolanya. Ia melirik Ray sejenak. Mengangkat kedua alisnya. Seakan mengusir makhluk satu itu.
.....
"diem! Berenti berontak! Kalo ga mau, gue bisa aja kasar sama lo!" desisnya. Shilla takut. Sepasang mata elang Cakka membuat nyalinya ciut. Shilla menunduk dalam-dalam. Ini area terlarang -ia tahu dari Ify-. Kawasan kelas 11.
Kegemparan ini terasa lebih hebat. Karena kelas sebelas lah angkatan yang paling mengenal Cakka. Mereka tahu dengan pasti kosongnya 'tempat' di sebelah Cakka selama ini. Karena munculnya salah satu dari the MOST WANTED BOY itu dengan seorang gadis yang digandengnya erat-erat jelas menimbulkan kegemparan.
Begitu memasuki area 'terlarang', sebagian dari tatap-tatap terkesima dan mulut-mulut ternganga kemudian mengekor dibelakang keduanya. Lama-lama, pengikut mereka semakin banyak sehingga mereka berdua seperti pengantin yang sedang diiringi. Yang mengiringi bukan hanya dengan rasa penasarannya, tapi juga keinginna untuk melontarkan pertanyaan dan komentar.
"cewek lo, Cakk? Kenalin dong" teriak seseorang.
"itu siapa? Cewek lo, Cakk? Akhirnyaaa gue kira lo homo" seru yang lain melengking keras.
Sementara itu, di sebelah Cakka, Shilla masih belum tersadar. Bukankah ini mimpi? Riuhnya suara disekeliling mereka membuatnya tak mampu mencerna apa yang tengah terjadi. Dan lagi-lagi, Shilla menemukan sorot mata iri, benci, bahkan kemarahan. Tak seluruh siswa kelas sebelas tahu apa yang Cakka lakukan pada Shilla selama ini. Karena tragedi itu sebagian besar terjadi di area kelas 10. Dapat dipastikan, ia pasti akan mendapat masalah setelah ini.
Cakka melarikan gadis ini ke kelasnya. Yang juga kelas Alvin dan Ray. Ia 'mempersilahkan' gadis ini untuk duduk disebelahnya. Sesungguhnya bangku milik Alvin. Namun sang pemilik belum juga muncul.
Mr. Juno, guru bahasa inggris mereka masuk dengan dagu berkerut. Ruangan itu kelewat sempit untuk diisi -hampir- seluruh siswa kelas 11.
"ada apa ini?!" teriaknya sembari mengetuk-ngetuk white board dengan penghapusnya. "cepat kembali ke kelas masing-masing!! The bell has been ringing! Go out!"
Para 'pengiring' Cakka dan Shilla tadi kontan bubar. Namun Mr. Juno masih mendelik.
"kamu! Bukan dari kelas ini, kan?"
Shilla menunduk. "bukan, pak" jawabnya pelan. Ia juga menggeleng.
"kamu kelas berapa?!" tanyanya lagi.
Ah! Mengapa guru ini bertanya lagi? Bukannya menyuruhnya pergi dari sini. Shilla kemudian berfikir, buat apa nih guru? Suasana kelas kak Cakka tetep aja begini. Ga berguna.
"bapak nanya sama saya aja. Saya tau kok dia kelas berapa" kata Cakka cuek. Menawarkan diri. Namun Mr. Juno mengacuhkannya.
"kelas berapa kamu?" tanyanya lagi.
"sepuluh tiga, pak" jawab Shilla super pelan. Seperti berbisik.
"berapa?" tanyanya lagi sembari menyipitkan matanya.
"sepuluh tiga!" Cakka menjawab dengan suara lantang. "udah saya bilangin, tanya sama saya aja pak. Ni cewek suaranya alus banget"
"OOHHH SEPULUH TIGAAAAA!!!" seisi kelas berkoor nyaring.
"nama kamu?" tanya Mr. Juno lagi.
"Ashilla Zahrantiara, pak!" lagi-lagi Cakka yang menjawab.
Mr. Juno geram. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan penghapus papan tulis tadi. "DIAM!!!"
"kenapa kamu di sini?"
"saya yang bawa, pak" ucap Cakka dengan gaya khasnya apabila melakukan pertentangan. Tenang, lugas, tandas.
Mr. Juno semakin kesal. Ia tak ingin membuang-buang jam pelajarannya. "back to your own class!! Go!" perintahnya. Dengan lega, Shilla berdiri. Menghela nafas sejenak, akhirnya bebas juga. Tapi tak disangka, Cakka mencengkram tangan gadis ini.
"Alvin belom dateng pak. Ga kasian tah sama saya? Masa yang lain pada punya pasangan saya engga? Kan ga adil! Lagi pula ini mendung, kayaknya bakalan hujan deras. Sendirian, dingin, terus ditengah pasangan yang lain. Yaampun pak! Sumpah, itu rasanya merana banget. Galau abis, pak"
"ya udah. Gue sama elo deh" ujar Ray menawarkan diri.
Cakka menoleh, lalu menggelengkan kepala. "sorry, kalo homo-homoan, gue setia sama Alvin, man!" ucap Cakka halus. Seisi kelas tertawa riuh.
Mr. Juno tak punya ide lagi, untungnya tiba-tiba Mrs. Nadine muncul di pintu kelas. Tadi Ify sempat melihat sahabatnya ini ditarik paksa, jadi ia melapor kepada wali kelasnya itu.
"Shilla! Kembali ke kelas!"
Shilla langsung berdiri dan bergegas keluar. Di luar dugaan, Cakka membiarkannya. Ia hanya tersenyum tipis kemudian berdecak sembari menggelengkan kepala.
"ck. Ibu jahat banget sih? Kayanya ga bisa banget kalo ngeliat saya bahagia dikiiiiitt aja?"
Cakka berdiri. Semenit kemudian, ia menghilang dari bangkunya.
"kemana dia?" tanya Mr. Juno tajam.
"ga tau paakk" koor kelas itu kompak.
*
Shilla sekarang 3 meter didepan Cakka. Setelah melihat Shilla beranjak tadi, Mrs. Nadine memang langsung meninggalkan kelas. Ini belum keluar dari 'area berbahaya' itu.
Cakka berjalan dengan santainya di belakang Shilla. 3 meter, 2 meter... Tiba-tiba Alvin muncul dihadapan Shilla -yang kontan menyentaknya-. Langkah keduanya terhenti sejenak.
Alvin melirik Shilla tajam. Dari bawah ke atas. Lalu menyipitkan matanya. Shilla hanya menunduk, lalu berlalu melewati kakaknya itu.
"mau kemana?" tanyanya datar. Shilla menoleh ke belakang. Ke arahnya. Ternyata pertanyaan tadi diperuntukkan untuk Cakka.
"ngejer cinta, bro" katanya.
Alvin langsung merangkul bahu Cakka, lalu mengajaknya ke kelasnya. "nanti aja ngejer cintanya. Sama gue aja ke kelas"
Cakka mengiyakan. Sempat mengernyit sebentar ketika melihat ujung kiri bibirnya berwarna kebiruan. "lo... Berantem? Kenapa? Wohoooooo Alvin berantem lagi!!!"
*
"yakin ga hari ini, Ze?"
"ga usah. Ga ada mood ngerjain dia, Ngel"
"pasti gara-gara kata si Shilla adeknya Alvin. Ck. Percaya lo? Kalo dia bohong gimana?"
"ck. Diem aja deh lo. Besok aja intinya"
*
Hari yang melelahkan tentunya bagi Shilla. Setelah peristiwa tadi pagi, dirinya dikerubungi teman-temannya yang memaksanya bercerita. Setelah itu Mrs. Nadine memanggilnya.
Dan sekarang, Ia dan Ify keluar kelas dengan senangnya. Hari ini pun, Ify tak mengikuti pelajaran secara full karena kegiatan Osisnya yang super padat. Shilla menghela nafas berulang kali.
"Fy, tekanan batin banget hari ini. Capeeeeekkk"
Ify tertawa kecil. "cabal yah cilla. Wahahaa"
Shilla merengut. Mendengus kesal.
"Fy, dicari Alvin. Lo juga, Shill. Ayo ikut gue" nada senioritasnya sangat kental.
Ray. Wajahnya tak seceria biasanya. Ify menangkap hal itu. Ditengah kebingungannya, Ray tiba-tiba menarik tangannya -dan Shilla- menuju ke tempat dimana Alvin berada.
"kenapa lagi kak? Saya mau dijemput, tau!" kata Shilla kepada orang yang sedang bermain basket disana. Kemejanya tak terkancing. Berkibar indah.
"lo! Kasih file banner dll kita ke Naya! Cepet! Flashdisknya di tas gue. Ambil sendiri"
Shilla melengos. Mengapa kakaknya begitu menyebalkan? Apa katanya? Banner? Kapan dia mengerjakannya?
Shilla menghela nafas. Ia hanya mengangguk lalu mencari-cari benda kecil itu di tas kakaknya.
Whoala! Benda kecil itu sudah berada di genggaman Shilla. Ray sempat bingung, kenapa ia menemukannya dalam waktu sesingkat itu? Bahkan dia pun akan menyerah apabila disuruh 'mencari benda' di tas sahabatnya itu. 'pasti ada yang ga beres'
"kak! Saya ke kak Naya dulu ya"
Alvin mengangguk. Masih sambil mendribble bolanya. Ia melirik Ray sejenak. Mengangkat kedua alisnya. Seakan mengusir makhluk satu itu.
.....
part 14 a
Patton mengajak Shilla makan malam. Kebetulan kakaknya belum pulang sehinnga ia menyimpulkan -sendiri- bahwa kakaknya sudah makan di luar.
Patton membukakan pintu sembari menunduk bak seorang prajurit kerajaan yang sedang melayani sang tuan putrinya.
"pat apaan sih lo" ucap gadis itu mengerutkan dahinya.
Pemuda manis itu hanya tersenyum.
Shilla mendengus. "ck" Ia menoleh ke arah pemuda yang sedang memakai kaus dan celana jeans selutut serta sendal converse biasanya. Kelewat santai untuk ukuran seorang tuan muda Latupeirissa.
Ya. Nama belakang patton itu memang sudah menggema dimana-mana. Tuan Besar Latupeirissa hanya mempunyai 2 orang anak. Davin Latupeirissa -ayah Patton- dan Diandra Latupeirissa -ibu Shilla-. Karena ibu Shilla telah menikah dengan Alfathan Sindhunata, nama belakangnya pun berganti menjadi Diandra Sindhunata.
Sesungguhnya tak seluruh rekan bisnis masing-masing tahu bahwa mereka -Latupeirissa Coorperation dan Sindhunata Coorperation- sangatlah erat hubungannya. Sehingga -mungkin- tak ada yang tahu apabila Patton dan Ozy serta Shilla sebenarnya bersepupu.
Ozy? Tentu. Kakak Patton satu-satunya ini tak boleh terlewatkan. Ingatkah reaksi Cakka saat melihat serta reaksi the Dangerous saat Ozy dan Shilla berdua? Mereka -sama sekali- tak mengenal mereka, bukan?
"apaan ngeliatin gue kaya gitu? Ha? Suka? Shill kita itu sepupuan haloooooo lagian gue juga gasuka sama lo dihhhh" ucap patton sembari melambaikan tangannya dihadapan wajah gadis cantik disebelahnya itu. Menggugah kesadarannya. "Shill, halooooo"
Shilla bergeming. Lalu mengerjap seketika. "astaga Pat. Lo ngomong apa sih? Ck. Kita mau kemana?" Shilla membenahi bolero yang melingkar indah di bahunya. Lagi-lagi berwarna ungu.
Patton -kembali- hanya tersenyum. Mulutnya terkatup. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ingin mengeluarkan kata-kata. Shilla hanya memainkan handbagnya -yang juga ungu-. Menahan kekesalan pada sepupunya ini.
Patton sesungguhnya ingin tertawa terbahak sekeras-kerasnya sekarang. Ia menahannya sekuat tenaga. Setelah mengetikkan sesuatu di blackberrynya, ia menghidupkan mesin Land Rovernya lalu pergi meninggalkan 'istana' super besar milik sepupunya ini.
"tadi lo ngetik apaan?" tanyanya kelewat ketus. Nadanya begitu terasa hingga pertahanan Patton -untuk menahan tawanya- hampir goyah
"ngupdate status twitter. Biar eksis kaya eluuuu" lontarnya sekenanya.
*
'udah kak. Kami udah keluar. Elo aman kl mo balik skrg'
Alvin tersenyum miring membaca isi bbm dari Patton barusan. Ia merubah arah teriosnya. Berputar balik, lalu menuju kembali ke Rumahnya.
25 menit. Waktu yang tak singkat. Bukan juga waktu yang panjang. Teriosnya terparkir manis didepan pintu utama rumahnya. Ia melemparkan kunci teriosnya ke pelayannya.
Alvin berdesis pelan kepada pelayan tersebut, "taro garasi. Tar kuncinya taro di lemari biasa. Dan... Jangan bilang apapun ke Shilla tentang keadaan gue sekarang. Ngerti?!" ucapannya lirih namun tajam. Pelayan tado hanya mengangguk, lalu menuruti titah tuannya ini.
Alvin langsung melangkah ke Ruangannya. Membersihkan dan mengompres lukanya sendiri. Andaikan ada Sivia...
*
Sushi Naga. Tentu. Patton memang sangat menyukai makanan yang berasal dari negara Sakura itu. Untungnya Shilla pun begitu sehingga ia menetapkan tujuannya ke sana.
"gue 2 porsi plissss. Laper banget Pattt" pintanya sembari membulatkan matanya yang terbingkai indah kacamata-ungu-nya.
Patton berdecak pelan. "seorang Ashilla Sindhunata makan 2 porsi? Ckk. Okeoke"
Patton pun memanggil pelayan di 'restoran' itu lalu memesan apa yang ingin ia dan Shilla santap. Shilla masih memainkan cardigan -ungunya-.
Sesungguhnya ia pun hanya menggunakan celana selutut dan kaus juga sneakers biasa -hampir seperti Patton-. Hanya saja cardigan ungunya itu menghilangkan efek 'super simple'nya itu.
Beberapa menit kemudian, sushi mereka datang. Kelewat menggoda seakan sushi itu menyodorkan diri untuk disantap. Shilla yang -memang benar-benar- kelaparan langsung menyantap tanpa ampun.
"Shill, pelan-pelan dong" kata Patton sembari menggelengkan kepalanya.
Shilla tertawa kecil. "laper tau!"
"btw Shill, gue baca artikel itu juga loh. Sejak kapan lo sama sahabat gue romantis-romantisan ria gitu?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.
Shilla mendengus. "heh! Lo tuh!! Itu bohonggg. Udah deh gausah bahas itu lagi!"
Patton mengedipkan mata berarti. Mereka pun melanjutkan makan malamnya.
"eh, itu bukannya Ashilla Sindhunata? Yang lagi sama cowok. Yang serba-unggu itu" kata Zevana tiba-tiba.
Astaga. Zevana?
Tanpa ba-bi-bu, Zevana menarik tangan kedua 'sahabat'nya -yang masih tercengang-. Mereka berhenti tepat di hadapan kedua insan bersepupu yang sedang nikmat-nikmatnya menyantap sushi.
"hey, lo Ashilla Sindunata kan?"
Shilla mengernyit. Lalu membenahi kacamatanya. "ehm iya. Maaf, kita pernah kenal, ya?"
Zevana berkeringat. Gugup mungkin. "eh emm belom. Kita belom kenalan hehe. Gue Zevana, panggil aja Zeze. Ini Oik dan itu Angel"
"gue Ashilla. Panggil Shilla aja ga papa kok" ucapnya sembari tersenyum. Perkenalan kecil itu terlaksana.
"Zevana ya?? Emm kayanya gue ga asing sama nama lo" ucap Shilla menggantung. Hell. Iyalah gue ga asing sama nama lo, batin Shilla. Zevana terenyah.
Shilla memainkan telunjuknya di atas meja. "emm. Aha! Iyaiya. Kak Alvin sering nyebut nama lo" katanya sembari tertawa.
Zevana kini benar-benar shock. Alvin? "dia... Ngomongin gue sama lo? Tentang?"
Shilla menahan tawanya yang sudah kelewat batas. "yeah. Sorry, privacy gue dan kak Alvin"
"privacy? Haha okeokee. Btw denger-denger lo bisa main semua alat musik ya?" tanyanya menutupi lonjakan perasaannya kini.
"eee bohong tuh. Gue cuma bisa main piano, violin, gitar, sama saxophone. Yang lainnya gabisa" Shilla kembali tersenyum.
"ehm. Kayanya meet and greetnya selesai. Pulang yuk, Shill" Patton menarik tangan Shilla paksa.
Ketiga orang dihadapannya tentu mengerutkan dahinya sembari memberi pandangan yang bertanya-tanya.
"btw, ini Patton. Sepupu gue. Emm gue duluan ya"
"Patton Otlivio Latupeirissa" kata patton sambil menyunggingkan senyumnya.
Mereka berdua pun meninggalkan The Dangerous dalam keadaan yang sangat-sangat-tercengang.
"tadi itu apa? Latupeirissa? Gilagilagilaaaa" Oik memecah keterdiaman ini. Namun masih mengumpulkan nyawanya yang hampir melayang ketika pemuda manis itu menyebut nama belakangnya.
"udah udah!!!!! Kita fikirin lagi deh cara buat dia kapok!! Balik ke meja kita yuk deh"
*
Shilla dan Patton beriringan memasuki rumah-super-megah itu. Shilla merubuhkan tubuhnya di sofa bercorak di ruang keluarganya. "capeeeeekkkk. Dinner kok secapek ini ya, Pat?"
Patton kontan tertawa. "ckck ngalem. Gitu doang capek. Eh, tadi lo jujur? Yang bilang kak Alvin ngomongin dia itu? Setau gue sih kak Alvin masih belom bisa buka hatinya untuk siapapun"
Shilla menghela nafas. " yaengga lah! Gue cuma mau ngerjain dia kali!"
Patton langsung menoleh ke arah sepupunya ini. "heh! Asli jahat banget lo! Harusnya lo tadi liat muka dia waktu lo ngomong gitu!! Hahahah kocak!"
"gue naik duluan, Pat. Lo tadi katanya mau nonton MU? Dikamar lo kan ga ada Tv"
Patton menepuk dahinya pelan. Astaga. Ternyata ia hampir lupa. Ia hanya meringis lalu melangkah ke televisi berukuran home teather itu lalu mencari saluran yang menyiarkan pertandingan tim favoritnya itu.
Shilla tak langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba ia teringat dua janji kepada kakaknya yang belum ia penuhi sampai sekarang. Jadi, ia berbelok arah, lalu melangkah ke kamar kakaknya.
22.00. Mana mungkin Alvin sudah terlelap. Ia paling anti untuk tidur diatas jam 10. Namun pasalnya, tak ada suara apapun yang terdengar dari balik pintu jati itu.
"kak, kak Alvin! Gue masuk ya kak" kata Shilla akhirnya. Ketukannya tak juga mendapat balasan dari sang penguasa ruangan itu. Jadi, ia memutuskan untuk masuk -tanpa permisi-.
Astaga. Itu Alvin? Itu kakaknya?
Seorang pemuda berkulit putih berlumur memar sedang terkapar di 'king bad'nya. Shilla refleks berlari dan menghampiri kakaknya ini. Mengusap-usap lebamnya, lalu mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuat kakaknya lebih baik.
Ia mengambil kain dan sebaskom air, lalu mengompresi lebam tadi.
"kak, lo kenapa sih?? Lo ngapain??" Shilla menaruh kain yang sudah menyerap air tadi.
Alvin tak kuasa mengatakan satu kata pun. Tubuhnya kelewat lemas. Tetapi matanya tak juga terpejam. Ia menatap adiknya dalam-dalam. "sorry" ucapnya lirih. Hampir tak terdengar.
"hih! Berantem lagi lo pasti!! Ah kaaakk gue kan udah bilang. Jangan berantem lagi. Lo ngeyel banget sih sama gue!!" kata Shilla sembari memindahkan kain tadi ke lebam Alvin yang lain.
Alvin melengkungkan bibirnya tipis. "ini demi lo" kali ini tak terdengar apapun. Hanya gerakan bibir yang terlihat. Namun Shilla mengerti apa yang ingin di ucapkan kakaknya ini.
Deg!! Shilla mengerjap. Meraih blackberrynya di meja sebelah tempat tidur Alvin.
'pat! Bsk jmpt gue di SHS. Tau kan? Trs lo tau kan dmn Rio tinggal di Jakarta? Anterin gue kesana!! Penting! Dont ask whatever. I'll tell you tomorrow'
*
'nona Sindhunata, gue otw kerumah lo skrg. Brkt brg gue ya :)'
Shilla melengos. Apa lagi Gabriel ini?
'heh! Tar ify sm siapa?! Berenti manggil gue gitu!'
Shilla setengah membanting blackberrynya itu. Membuat suasana sarapan yang tadinya tenang menjadi tegang karena mata kedua pemuda itu tertuju padanya.
"hey! Kenapa?" tanya kakaknya kemudian.
Shilla menghela nafas kuat-kuat. "tapi jangan marah kak"
Alvin mengerutkan dahinya. Patton pun begitu. "kenapa sih?" mata Alvin semakin menyipit.
"Gabriel udah tau dan kayanya dia akan jemput gue sekarang"
Alvin hampir tersedak. "GABRIEL?!!"
Shilla menunduk. "dia kan temen gue sama Rio di MC Malang dulu kak. Sorry"
Gejolak emosi itu pun kini -kembali- ia tahan. Gabriel? Lagi?
"lo turutin dia aja dulu. Gue mau liat motifnya apa kok dia mau ngedeketin lo" kata Alvin kemudian. Ia buru-buru membawa tasnya, lalu berlalu. Meninggalkan Patton dan Shilla yang sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Patton juga tentunya bingung dengan penampilan Shilla kini. Bukan Shilla banget. Shilla menangkap tatapan bingung itu lalu membalasnya dengan mengangkat salah satu ujung bibirnya ke atas. "dasar orang baru"
*
'in frnt of ur home, ms. Sindhunata :)'
Gabriel menekan tombol 'kirim di gadget canggihnya itu. Lalu kembali tersenyum. Tersenyum penuh kemenangan.
Saat itu pula, dilihatnya seorang Alvin Jonathan Sindhunata yang tengah menderu teriosnya untuk keluar dari kawasan rumahnya ini. Ia seketika memandang sosok gabriel dengan mata setajam bilah pisau.
Namun tak dinyana, Gabriel malah menyunggingkan senyum -melelehkan- nya disana. Alvin geram. Ia menginjak pedal gas sekuat-kuatnya. Seraya tak memperdulikan sekelilingnya.
Gabriel menghela nafasnya -lagi-. Sepertinya hanya dengan satu langkah, Gabriel bisa merengkuh kesemua tujuannya. Dendam, hati, dan...
"gab!! Lo tuh!!!!!!!!! Kan udah gue bilang! Nanti ify gimana coba? Ha?" ceracau gadis itu tiba-tiba.
Gabriel tertawa pelan. "tadi dia sama supir. Gue liat dia dijalan. Makanya gue langsung nyamperin elo" katanya sembari tersenyum.
Shilla mendengus. "yaudah. Iyaiya gue sama lo"
"duile. Jutek amat sih nona Sindhunata ini. Senyum kek sama 'supirnya' hehe" supir? Tukang ojek sih iya!
Shilla menepuk pundak gabriel. Kesal. "hihhhhh jangan manggil gue kaya gitu! Kalo ga gue turun nih!"
Gabriel kali ini tertawa lepas. Lalu tiba-tiba mengegas cagiva gitamnya -yang kontan mengejutkan Shilla sehingga reflek, ia memeluk sosok di depannya-
*
Setelah menghilangnya jejak Gabriel, seseorang langsung 'menghadang' Shilla.
Dia lagi...
Ini terlalu monoton. Mengapa selalu ada dia ketika Gabriel meninggalkannya? Mengapa dunia tak pernah berpihak padanya?
"lo-ga-boleh-sama-dia" ucapnya sembari menarik tangan Shilla secara paksa.
Ini di gerbang depan. Tentu saja hampir seluruh siswa melihat aksi Cakka ini. "kakak pernah mikir ga sih? Efek yang kakak kasih ke mereka saat kakak ngegandeng tangan saya gini? Ck lepasin!!!!!" erangnya. Cakka tak menjawab. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Shilla sehingga sekuat apapun Shilla menepisnya, itu akan sia-sia belaka.
Patton membukakan pintu sembari menunduk bak seorang prajurit kerajaan yang sedang melayani sang tuan putrinya.
"pat apaan sih lo" ucap gadis itu mengerutkan dahinya.
Pemuda manis itu hanya tersenyum.
Shilla mendengus. "ck" Ia menoleh ke arah pemuda yang sedang memakai kaus dan celana jeans selutut serta sendal converse biasanya. Kelewat santai untuk ukuran seorang tuan muda Latupeirissa.
Ya. Nama belakang patton itu memang sudah menggema dimana-mana. Tuan Besar Latupeirissa hanya mempunyai 2 orang anak. Davin Latupeirissa -ayah Patton- dan Diandra Latupeirissa -ibu Shilla-. Karena ibu Shilla telah menikah dengan Alfathan Sindhunata, nama belakangnya pun berganti menjadi Diandra Sindhunata.
Sesungguhnya tak seluruh rekan bisnis masing-masing tahu bahwa mereka -Latupeirissa Coorperation dan Sindhunata Coorperation- sangatlah erat hubungannya. Sehingga -mungkin- tak ada yang tahu apabila Patton dan Ozy serta Shilla sebenarnya bersepupu.
Ozy? Tentu. Kakak Patton satu-satunya ini tak boleh terlewatkan. Ingatkah reaksi Cakka saat melihat serta reaksi the Dangerous saat Ozy dan Shilla berdua? Mereka -sama sekali- tak mengenal mereka, bukan?
"apaan ngeliatin gue kaya gitu? Ha? Suka? Shill kita itu sepupuan haloooooo lagian gue juga gasuka sama lo dihhhh" ucap patton sembari melambaikan tangannya dihadapan wajah gadis cantik disebelahnya itu. Menggugah kesadarannya. "Shill, halooooo"
Shilla bergeming. Lalu mengerjap seketika. "astaga Pat. Lo ngomong apa sih? Ck. Kita mau kemana?" Shilla membenahi bolero yang melingkar indah di bahunya. Lagi-lagi berwarna ungu.
Patton -kembali- hanya tersenyum. Mulutnya terkatup. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ingin mengeluarkan kata-kata. Shilla hanya memainkan handbagnya -yang juga ungu-. Menahan kekesalan pada sepupunya ini.
Patton sesungguhnya ingin tertawa terbahak sekeras-kerasnya sekarang. Ia menahannya sekuat tenaga. Setelah mengetikkan sesuatu di blackberrynya, ia menghidupkan mesin Land Rovernya lalu pergi meninggalkan 'istana' super besar milik sepupunya ini.
"tadi lo ngetik apaan?" tanyanya kelewat ketus. Nadanya begitu terasa hingga pertahanan Patton -untuk menahan tawanya- hampir goyah
"ngupdate status twitter. Biar eksis kaya eluuuu" lontarnya sekenanya.
*
'udah kak. Kami udah keluar. Elo aman kl mo balik skrg'
Alvin tersenyum miring membaca isi bbm dari Patton barusan. Ia merubah arah teriosnya. Berputar balik, lalu menuju kembali ke Rumahnya.
25 menit. Waktu yang tak singkat. Bukan juga waktu yang panjang. Teriosnya terparkir manis didepan pintu utama rumahnya. Ia melemparkan kunci teriosnya ke pelayannya.
Alvin berdesis pelan kepada pelayan tersebut, "taro garasi. Tar kuncinya taro di lemari biasa. Dan... Jangan bilang apapun ke Shilla tentang keadaan gue sekarang. Ngerti?!" ucapannya lirih namun tajam. Pelayan tado hanya mengangguk, lalu menuruti titah tuannya ini.
Alvin langsung melangkah ke Ruangannya. Membersihkan dan mengompres lukanya sendiri. Andaikan ada Sivia...
*
Sushi Naga. Tentu. Patton memang sangat menyukai makanan yang berasal dari negara Sakura itu. Untungnya Shilla pun begitu sehingga ia menetapkan tujuannya ke sana.
"gue 2 porsi plissss. Laper banget Pattt" pintanya sembari membulatkan matanya yang terbingkai indah kacamata-ungu-nya.
Patton berdecak pelan. "seorang Ashilla Sindhunata makan 2 porsi? Ckk. Okeoke"
Patton pun memanggil pelayan di 'restoran' itu lalu memesan apa yang ingin ia dan Shilla santap. Shilla masih memainkan cardigan -ungunya-.
Sesungguhnya ia pun hanya menggunakan celana selutut dan kaus juga sneakers biasa -hampir seperti Patton-. Hanya saja cardigan ungunya itu menghilangkan efek 'super simple'nya itu.
Beberapa menit kemudian, sushi mereka datang. Kelewat menggoda seakan sushi itu menyodorkan diri untuk disantap. Shilla yang -memang benar-benar- kelaparan langsung menyantap tanpa ampun.
"Shill, pelan-pelan dong" kata Patton sembari menggelengkan kepalanya.
Shilla tertawa kecil. "laper tau!"
"btw Shill, gue baca artikel itu juga loh. Sejak kapan lo sama sahabat gue romantis-romantisan ria gitu?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.
Shilla mendengus. "heh! Lo tuh!! Itu bohonggg. Udah deh gausah bahas itu lagi!"
Patton mengedipkan mata berarti. Mereka pun melanjutkan makan malamnya.
"eh, itu bukannya Ashilla Sindhunata? Yang lagi sama cowok. Yang serba-unggu itu" kata Zevana tiba-tiba.
Astaga. Zevana?
Tanpa ba-bi-bu, Zevana menarik tangan kedua 'sahabat'nya -yang masih tercengang-. Mereka berhenti tepat di hadapan kedua insan bersepupu yang sedang nikmat-nikmatnya menyantap sushi.
"hey, lo Ashilla Sindunata kan?"
Shilla mengernyit. Lalu membenahi kacamatanya. "ehm iya. Maaf, kita pernah kenal, ya?"
Zevana berkeringat. Gugup mungkin. "eh emm belom. Kita belom kenalan hehe. Gue Zevana, panggil aja Zeze. Ini Oik dan itu Angel"
"gue Ashilla. Panggil Shilla aja ga papa kok" ucapnya sembari tersenyum. Perkenalan kecil itu terlaksana.
"Zevana ya?? Emm kayanya gue ga asing sama nama lo" ucap Shilla menggantung. Hell. Iyalah gue ga asing sama nama lo, batin Shilla. Zevana terenyah.
Shilla memainkan telunjuknya di atas meja. "emm. Aha! Iyaiya. Kak Alvin sering nyebut nama lo" katanya sembari tertawa.
Zevana kini benar-benar shock. Alvin? "dia... Ngomongin gue sama lo? Tentang?"
Shilla menahan tawanya yang sudah kelewat batas. "yeah. Sorry, privacy gue dan kak Alvin"
"privacy? Haha okeokee. Btw denger-denger lo bisa main semua alat musik ya?" tanyanya menutupi lonjakan perasaannya kini.
"eee bohong tuh. Gue cuma bisa main piano, violin, gitar, sama saxophone. Yang lainnya gabisa" Shilla kembali tersenyum.
"ehm. Kayanya meet and greetnya selesai. Pulang yuk, Shill" Patton menarik tangan Shilla paksa.
Ketiga orang dihadapannya tentu mengerutkan dahinya sembari memberi pandangan yang bertanya-tanya.
"btw, ini Patton. Sepupu gue. Emm gue duluan ya"
"Patton Otlivio Latupeirissa" kata patton sambil menyunggingkan senyumnya.
Mereka berdua pun meninggalkan The Dangerous dalam keadaan yang sangat-sangat-tercengang.
"tadi itu apa? Latupeirissa? Gilagilagilaaaa" Oik memecah keterdiaman ini. Namun masih mengumpulkan nyawanya yang hampir melayang ketika pemuda manis itu menyebut nama belakangnya.
"udah udah!!!!! Kita fikirin lagi deh cara buat dia kapok!! Balik ke meja kita yuk deh"
*
Shilla dan Patton beriringan memasuki rumah-super-megah itu. Shilla merubuhkan tubuhnya di sofa bercorak di ruang keluarganya. "capeeeeekkkk. Dinner kok secapek ini ya, Pat?"
Patton kontan tertawa. "ckck ngalem. Gitu doang capek. Eh, tadi lo jujur? Yang bilang kak Alvin ngomongin dia itu? Setau gue sih kak Alvin masih belom bisa buka hatinya untuk siapapun"
Shilla menghela nafas. " yaengga lah! Gue cuma mau ngerjain dia kali!"
Patton langsung menoleh ke arah sepupunya ini. "heh! Asli jahat banget lo! Harusnya lo tadi liat muka dia waktu lo ngomong gitu!! Hahahah kocak!"
"gue naik duluan, Pat. Lo tadi katanya mau nonton MU? Dikamar lo kan ga ada Tv"
Patton menepuk dahinya pelan. Astaga. Ternyata ia hampir lupa. Ia hanya meringis lalu melangkah ke televisi berukuran home teather itu lalu mencari saluran yang menyiarkan pertandingan tim favoritnya itu.
Shilla tak langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba ia teringat dua janji kepada kakaknya yang belum ia penuhi sampai sekarang. Jadi, ia berbelok arah, lalu melangkah ke kamar kakaknya.
22.00. Mana mungkin Alvin sudah terlelap. Ia paling anti untuk tidur diatas jam 10. Namun pasalnya, tak ada suara apapun yang terdengar dari balik pintu jati itu.
"kak, kak Alvin! Gue masuk ya kak" kata Shilla akhirnya. Ketukannya tak juga mendapat balasan dari sang penguasa ruangan itu. Jadi, ia memutuskan untuk masuk -tanpa permisi-.
Astaga. Itu Alvin? Itu kakaknya?
Seorang pemuda berkulit putih berlumur memar sedang terkapar di 'king bad'nya. Shilla refleks berlari dan menghampiri kakaknya ini. Mengusap-usap lebamnya, lalu mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuat kakaknya lebih baik.
Ia mengambil kain dan sebaskom air, lalu mengompresi lebam tadi.
"kak, lo kenapa sih?? Lo ngapain??" Shilla menaruh kain yang sudah menyerap air tadi.
Alvin tak kuasa mengatakan satu kata pun. Tubuhnya kelewat lemas. Tetapi matanya tak juga terpejam. Ia menatap adiknya dalam-dalam. "sorry" ucapnya lirih. Hampir tak terdengar.
"hih! Berantem lagi lo pasti!! Ah kaaakk gue kan udah bilang. Jangan berantem lagi. Lo ngeyel banget sih sama gue!!" kata Shilla sembari memindahkan kain tadi ke lebam Alvin yang lain.
Alvin melengkungkan bibirnya tipis. "ini demi lo" kali ini tak terdengar apapun. Hanya gerakan bibir yang terlihat. Namun Shilla mengerti apa yang ingin di ucapkan kakaknya ini.
Deg!! Shilla mengerjap. Meraih blackberrynya di meja sebelah tempat tidur Alvin.
'pat! Bsk jmpt gue di SHS. Tau kan? Trs lo tau kan dmn Rio tinggal di Jakarta? Anterin gue kesana!! Penting! Dont ask whatever. I'll tell you tomorrow'
*
'nona Sindhunata, gue otw kerumah lo skrg. Brkt brg gue ya :)'
Shilla melengos. Apa lagi Gabriel ini?
'heh! Tar ify sm siapa?! Berenti manggil gue gitu!'
Shilla setengah membanting blackberrynya itu. Membuat suasana sarapan yang tadinya tenang menjadi tegang karena mata kedua pemuda itu tertuju padanya.
"hey! Kenapa?" tanya kakaknya kemudian.
Shilla menghela nafas kuat-kuat. "tapi jangan marah kak"
Alvin mengerutkan dahinya. Patton pun begitu. "kenapa sih?" mata Alvin semakin menyipit.
"Gabriel udah tau dan kayanya dia akan jemput gue sekarang"
Alvin hampir tersedak. "GABRIEL?!!"
Shilla menunduk. "dia kan temen gue sama Rio di MC Malang dulu kak. Sorry"
Gejolak emosi itu pun kini -kembali- ia tahan. Gabriel? Lagi?
"lo turutin dia aja dulu. Gue mau liat motifnya apa kok dia mau ngedeketin lo" kata Alvin kemudian. Ia buru-buru membawa tasnya, lalu berlalu. Meninggalkan Patton dan Shilla yang sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Patton juga tentunya bingung dengan penampilan Shilla kini. Bukan Shilla banget. Shilla menangkap tatapan bingung itu lalu membalasnya dengan mengangkat salah satu ujung bibirnya ke atas. "dasar orang baru"
*
'in frnt of ur home, ms. Sindhunata :)'
Gabriel menekan tombol 'kirim di gadget canggihnya itu. Lalu kembali tersenyum. Tersenyum penuh kemenangan.
Saat itu pula, dilihatnya seorang Alvin Jonathan Sindhunata yang tengah menderu teriosnya untuk keluar dari kawasan rumahnya ini. Ia seketika memandang sosok gabriel dengan mata setajam bilah pisau.
Namun tak dinyana, Gabriel malah menyunggingkan senyum -melelehkan- nya disana. Alvin geram. Ia menginjak pedal gas sekuat-kuatnya. Seraya tak memperdulikan sekelilingnya.
Gabriel menghela nafasnya -lagi-. Sepertinya hanya dengan satu langkah, Gabriel bisa merengkuh kesemua tujuannya. Dendam, hati, dan...
"gab!! Lo tuh!!!!!!!!! Kan udah gue bilang! Nanti ify gimana coba? Ha?" ceracau gadis itu tiba-tiba.
Gabriel tertawa pelan. "tadi dia sama supir. Gue liat dia dijalan. Makanya gue langsung nyamperin elo" katanya sembari tersenyum.
Shilla mendengus. "yaudah. Iyaiya gue sama lo"
"duile. Jutek amat sih nona Sindhunata ini. Senyum kek sama 'supirnya' hehe" supir? Tukang ojek sih iya!
Shilla menepuk pundak gabriel. Kesal. "hihhhhh jangan manggil gue kaya gitu! Kalo ga gue turun nih!"
Gabriel kali ini tertawa lepas. Lalu tiba-tiba mengegas cagiva gitamnya -yang kontan mengejutkan Shilla sehingga reflek, ia memeluk sosok di depannya-
*
Setelah menghilangnya jejak Gabriel, seseorang langsung 'menghadang' Shilla.
Dia lagi...
Ini terlalu monoton. Mengapa selalu ada dia ketika Gabriel meninggalkannya? Mengapa dunia tak pernah berpihak padanya?
"lo-ga-boleh-sama-dia" ucapnya sembari menarik tangan Shilla secara paksa.
Ini di gerbang depan. Tentu saja hampir seluruh siswa melihat aksi Cakka ini. "kakak pernah mikir ga sih? Efek yang kakak kasih ke mereka saat kakak ngegandeng tangan saya gini? Ck lepasin!!!!!" erangnya. Cakka tak menjawab. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Shilla sehingga sekuat apapun Shilla menepisnya, itu akan sia-sia belaka.
part 13
Gabriel masih menatap ukiran Tuhan yang sedang menutup pintu jazz ungu tadi. Bibirnya melengkung tipis sejenak. Jadi Shilla adiknya Alvin? Gabriel mengangguk sinis.
Ia merombak rencana awalnya. Ini bukan sekedar balas dendam dan masalah hati. Ini terkait pada sepupu tersayangnya. Sivia.
Alvin. Satu nama itu yang sesungguhnya mengaitkan segalanya. Alvin, Sivia, Cakka, dan kini Shilla.
Astaga. Mengapa menjadi serumit ini?
Gabriel meninggalkan area sekolah lawannya itu. Ia menghidupkan mesin cagivanya lalu beranjak dari sana.
Shilla mengernyit. Merasa ada yang mengikutinya. Namun buru-buru ia sanggahkan fikiran negatif itu. Ia pun beranjak dari tempat itu.
*
"gagal, Ke. Maaf gue ga bisa ngelawan Alvin. Dia bahaya" ucap seseorang diseberang sambungan telfonnya.
Keke mengerjap lalu menggertakkan gerahamnya. "gue-bayar-elo-untuk-ngepublish-Rio-dan-Shilla. Kenapa gagal? Dasar ga becus!" serapahnya kepada pemuda 20 tahunan itu.
"Ke! Elo sopan dikit bisa? Gue tau bokap gue bawahan bokap lo! Hargain gue dikit napa!" ya. Pemuda itu -tentu saja- minta dihargai. Hanya itu. Namun sepertinya tuan putri Panggemanan tak suka memberikan sikap 'menghargainya' padanya.
"hell terserah. Gue mau elo buat Shilla jadi benci sama Rio. Gue ga mau tau, Dev"
Deva -pemuda itu- geram. Mengapa si tuan putri satu ini begitu egois? Ia hanya menghela nafasnya. "bukannya mereka memang saling benci?"
"ralat. Shilla yang benci Rio. Bukan saling benci. Got it, Dev? I think a smart guy like you understand with everythings that i've said"
Deva hanya mendengus. Tak mampu menolak titah Keke ini. "yeah. Gue usahaain. Tapi gue ga tanggung konsekuensinya. Kalau ketahuan, gue akan limpahin kesalahan itu ke elo"
"oh yea. Whatever"
Keke menekan tombol merah di blackberrynya. Lalu menduduki sebuah bangku sembari memainkan gadget canggihnya ditanggannya.
"oh. Jadi gara-gara elo, Ke? Oh" kata seseorang yang ternyata bersandar pada dinding dibalik gadis itu duduk sekarang.
"Pat.........."
Cowok manis itu tersenyum meneduhkan. Seperti biasanya. Lalu menghela nafasnya pelan. "licik abis" ucapnya singkat sembari menggelengkan kepalanya.
Keke langsung menoleh ke sumber suara tadi. "Pat, udah deh. Lo gatau apa-apa"
Patton mengernyit. "gue tau kok. Elo yang buat gosip murahan itu kan, Ke? Rio, Shilla, dan kak Alvin harus tau nih kayanya"
"gitu? Ganyangka lo pengadu" ucap Keke sembari menyunggingkan senyum sinisnya.
"bukannya gitu ya, Ke. Yah terserah elo sih sebenernya. Gue ga rugi kok. Mau ngasihtau atau engga" Patton mengeluarkan blackberry dari saku celananya. "dan, fyi. Gue mau ke Jakarta juga"
Patton kini benar-benar meninggalkan gadis mungil itu dalam ketakutannya. Walaupun tak ada nada mengancam sedikit pun, mata Patton seakan berbicara siap-siap-di-benci-Rio-ya-Ke. Sesungguhnya ia yakin, Patton bukan tipikal orang seperti itu. Namun yang sedang berurusan dengannya kelewat dekat dengan Patton. Jadi, Keke hanya berharap pada Patton kini.
'tunda rencana. Mulai lusa aja lo. Ada trouble kecil, Dev'
*
Shilla menderu jazz ungunya melewati lautan kendaraan. Ia masih merasa ada yang mengikutinya dari belakang.
Gadis itu mencoba untuk tidak peduli. Ia menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi. Berharap 'seseorang' dibelakangnya menyerah dan berpisah jalan dengannya.
"ASHILLA ZAHRANTIARA SINDHUNATA, KELUAR LO!" teriaknya sembari menggedor-gedor kaca mobil Shilla dari samping. Sempat terkejut karena sang 'penggedor' masih mengendarai cagiva hitamnya.
Ia memberhentikan cagivanya tepat di depan mobil Shilla.
Mau-tak-mau, ia keluar dari mobilnya -dengan perasaan super takut-. Dia memanggilnya apa tadi? Ashilla Zahrantiara Sindhunata? Berarti....
"gausah takut, Shill. Gue Gabriel doang kok" katanya sembari membuka helm fullfacenya.
Astaga. Berarti...
"Ga...Gabriel... Elo..."
Gabriel menguntaikan senyumannya pada gadis ini. "udah aahh. Biasa aja ngeliatin guenya"
Shilla mengernyit. "lo kok...."
"ga inget? Dulu pas di Malang lo sama siapa? Ha? Sama Rio kan? Lo kira gue ga inget?" katanya tajam.
Shilla diam membisu. Tak mampu berkata apapun.
Gabriel mendekat. Tangannya dimasukkan ke saku celana London Schoolnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Shilla yang sedari tadi kian menunduk.
Ia berdesah pelan. "bisa liat gue, Ashilla Sindhunata?"
Shilla mengangkat kepalanya. Sedikit terkejut melihat telaga bening milik Gabriel yang menatapnya lekat-lekat sekarang. Jantungnya -kembali- berdetak diatas normal.
Ia menghela nafas pelan. "jangan ngeliatin gue kaya gitu"
Gabriel tertawa pelan. "ga ada yang tahan sama pesona gue loh. Elo juga, kan?"
Shilla mendengus lalu mendorong tubuh Gabriel agar menjauhinya. Dan sesungguhnya, ia tak ingin Gabriel menyadari debaran diatas normal itu.
"udah ah Gab. Apasih loo" ucapnya sembari memajukan bibirnya.
"mau pulang, nona Sindhunata?" Gabriel berlutut sembari mengulurkan tangannya.
Astaga! De javu!
Shilla buru-buru menyuruh Gabriel berdiri. Takut paparazzi itu datang lagi.
"Gaaabb, udah!!! Jangan panggil gue gitu dong. Dan... Gue kan bawa mobil. Gue pulang sendiri aja" tolaknya.
"okay, i'll follow you. I behind you, Shill" Gabriel menuju cagivanya, lalu memasang helmnya.
Shilla masih mengerutkan dahinya. Tak apa lah, fikirnya.
*
"pertama, elo brengsek"
Buggghh!! Sebuah kepalan Alvin melayang ke ulu hati Rio. Rio kontan terhuyung. Rio masih meringis memegangi perutnya.
"kedua, elo nelantarin dia"
Buggghhh!!! Kali ini tinjuan Alvin melayang tiba-tiba dan mendarat telak di dada Rio. Rio langsung terpelanting dan mengerang seketika.
"ketiga, elo buat dia susah"
Buggghhh!!!
Alvin kalut. Tak terkendali. Hujamannya membabi buta.
Ia mendorong tubuh Rio sehingga makin terjembap di tanah. Rio memang tak ingin melawan, terhuyung dan jatuh terjembap dengan tubuh penuh memar, muka lebam, dan bibir pecah yang mengalirkan darah. Matanya berkunang hebatm membuatnya terpaksa memejamkan mata rapat-rapat.
Ia memang salah. Tak seharusnya ini semua terjadi. Shilla, harusnya tak diperlakukan seperti itu.
Mata Rio terbuka saat sesuatu yang hangat menetes di pelipisnya. Dia tertegun. Alvin, yang membungkuk di atasnya, menangis tanpa suara. Ketika Alvin bicara, getar lirih suaranya semakin menyayat perasaan bersalah Rio.
"dia adek kesayangan gue, Yo. Gue yang jaga dia dari kecil. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bareng. Setiap hari!!! Gue yang dia cari setiap dia ketakutan! Gue yang dia cari setiap dia sedih! Dan dia... Tiba-tiba pingin ke Bandung. Katanya, karena ada elo! Karena elo!"
Rio menelan ludah yang bercampur darah. "gue... Gatau.. Kak..." desisnya dengan suara tersangkut di tenggorokkan.
"oh ya?" mata berkabut Alvin menyipit. Kedua tangannya yang bertumpu di atas tanah dan mengurung Rio dalam rentangan, terangkat dan mencengkram kedua bahu Rio. Menekannya kuat-kuat hingga Rio menahan sakit manakala batu-batu di permukaan tanah itu menusuk kulit. Dan ia makin menyeringai lagi saat lutut Alvin menekan dadanya kuat-kuat.
"apa maksud lo?" lanjut Alvin sambil menunduk. "ngga tau? Ngga tau perasaan cewek? Ngga tau pengorbanan dia? Elo tau dia suka sama lo, kan? Elo tau kalo dia nyesek pas elo mengabaikan dia, kan? Lagian, kenapa harus dia? Kenapa harus adek gue? Kenapa bukan yang lain? Yang naksir lo kan banyak!!" rentetan kalimat itu diteriakkan Alvin dalam jarak sepuluh senti dari wajah Rio.
Rio sesungguhnya tak pernah berlaku demikian. Ia termasuk kategori pandai dan disayangi guru karena kesopanannya. Tapi keseluruhan citra yang Rio torehkan tertepis habis oleh kelakuannya pada Shilla. Walaupun hanya segelintir yang tahu.
Dan Alvin bukanlah cowok idiot, yang diam saja dikala adiknya menangis. Yang menerima saat adiknya diperlakukan tak baik.
Dan Alvin makin menyayangkan begitu menerima pesan Ozy tempo hari. Begitu menyesakkan pasti untuk Shilla.
"gue sayang dia" Rio tiba-tiba berkata.
"heh!" seketika Alvin menampar pipi Rio. Pemuda itu menyeringai menahan sakit. "elo lagi ngomong sama gue, Yo. Bukan sama cewek! Sayang? Bajingan! Ckck"
"kak, gue lagi berusaha berubah!"
"oh ya?"
"kak..."
"jangan banyak ngomong!" Alvin meninju tubuh babak belur yang terbaring dibawah tekanan lutut dan dua lengannya itu. "ini bukan lagi giliran lo bikin pembelaan, tau!"
Rio terbatuk. Nafasnya terengah. Rasa sakit dan tekanan lutut Alvin di dadanya membuatnya sulit bernafas.
Kedua pasang telaga bening menghanyutkan itu saling tatap. Menghujam lurus. Alvin dengan kekalutannya dan kesedihannya, dan Rio, dengan penyesalan dan permohonan maafnya.
"gue nyesel, kak... Gue bener-bener nyesel"
Suara seraknya begitu lirih, hampir hilang. Sepasang mata itu lalu terpejam dan mengalirkan air. Alvin menatap sampai tetes-tetes air itu hilang di antara tanah-tanah disekitarnya.
Kemarahan ini ditekannya. Emosi itu terbawa sampai ke alam bawah sadar. Tapi Alvin juga tahu. Ia takkan pernah bisa merubah yang sudah terjadi.
"elo nyesel, terus ngejer Shilla. Tapi kenyataannya? Elo masih buat dia hampir nangis gara-gara si Keke Keke lo itu. Gitu?" Alvin semakin menunduk.
Rio terdiam. "jangan mati dulu, jawab pertanyaan gue!" lutut Alvin semakin menekan dada Rio. Rio mengerang.
"kak, sakit..."
"oh. Lo mau ga sakit? Jawab pertanyaan gue!"
"gue bener-bener nyesel, kak"
"gitu?" Alvin mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "kalo mau berubah, jangan pernah buat dia kaya kemaren-kemaren!" Alvin menepuk pipi lebam Rio.
"GUE SAYANG DIA KAAAKKK!!!!" teriak Rio menggelegar. Memantulkan gemuruh gema. Dicengkramnya pergelangan tangan Alvin yang selama ini menekan bahunya, dan didorongnya pemuda itu sekuat tenaga.
"GUE SAYANG DIA!! GUE SAYANG DIA!! GUE SAYANG DIA!!!!!" teriaknya kalap. Dipukulnya Alvin bertubi-tubi, dan baru berhenti ketika pemuda itu terkapar. Kemudian Rio menghampirinya perlahan.
"gue sayang dia, kak" ucap Rio lirih.
Alvin menatapnya. Perlahan alvin bangkit berdiri. Lalu mendekatkan diri hingga jaraknya dengan Rio tinggal beberapa senti.
"sayang? Okelah elo sayang dia. Gue cincang elo pun ga ada gunanya sekarang. Yang gue heran, kenapa lo baru ngejer dia sekarang. Baru sadar? Ha?"
Rio tak menjawab. Ia masih meringis kesakitan.
"Yo.." lanjut Alvin lirih tapi tajam. "elo ga tau kalo gue, sayang banget sama dia. Lo gatau. Gue ga mau dia sakit. Gue ga mau dia kenapa-kenapa. Lo ga tau nyokap gue kadang-kadang nangis karena kangen Shilla yang lagi di Bandung. Lo ga tau dia itu pernah cerita tentang lo sampe ga tidur seharian. Dan ternyata lonya gini"
"maaf" lirih Rio.
Alvin menggelengkan kepalanya. "maaf? Gampang banget"
Alvin menatap sekujur tubuh Rio yang penuh lebam.
"mana yang sakit?" tanyanya. Kening Rio mengerut. Dan meskipun dia heran dengan pertanyaan itu, tanpa curiga ia menunjuk ulu hatinya. Alvin tersenyum tipis.
"kalo gitu, sorry!" dihantamnya ulu hati Rio dengan satu pukulan keras. Tak ayal, Rio terjembap dengan suara erangan yang tersedak di kerongkongan.
"kak!!" Rio buru-buru mencekal pergelangan kaki Alvin ketika pemuda itu bersiap pergi. "jangan kasihtau nyokap gue"
Alvin tertegun. Sedetik kemudian, ia tidak peduli.
"ga akan. Buat apa gue ngasihtau nyokap lo? Nyari masalah banget. Gue mau pulang. Elo tidur aja disini" ditepuknya pipi Rio. "tar gue panggil ambulans!"
Alvin pergi. Meninggalkan Rio terkapar. Rio mencoba bangunm tapi pening hebat di kepala, juga rasa nyeri luka-lukanya, membuatnya menghentikan usahanya. Akhirnya, ia tergolek pasrah. Dan juga masih sedikit berfikir, sebegitu sayangnyakah Alvin kepada Shilla? Memang. Hanya Shilla lah yang Alvin miliki sekarang. Ia hanya tak ingin Shilla seperti Sivia. Ia tak ingin Shilla terluka. Hanya itu. Ia kelewat sayang kepada Shilla.
*
Cakka mengendarai ninjanya tanpa mementingkan rambu-rambu disepanjang jalanan. Cakka masih tertegun. Hatinya dan otaknya tak sependapat.
"ga mungkin itu Shilla. Dari kasat matapun itu bukan Shilla" desisnya tak terdengar karena kebisingan jalanan.
Cakka terus menderu motornya. Entah sampai mana.
*
16.30.
"Gab, mau masuk?"
Gabriel mengernyit. Ini rumah Alvin?
Halaman-super-luas menyambutnya senang hati. Jalanan setengah lingkaran dengan berhias bonsai di sekelilingnya sungguh sedap dipandang. Ditengah-tengah halaman, terdapat sebuah taman air yang meneduhkan.
Gabriel menghela nafasnya. "gede banget rumah lo, Shill" ucapnya kelewat jujur yang kontan membuat Shilla tertawa.
"ih biasa aja kenapa? Rumah lo kan gede juga, Gab"
Gabriel meneguk ludahnya. Ya. Rumahnya memang besar. Namun tak sebesar ini. Bangunan utama dihadapannya terhampar kokoh dan menjulang tinggi. Perkiraan Gabriel, ini pasti 4-5 lantai.
"SHILLAAAAA!! Gue disini lohh hehehe" kata seseorang tiba-tiba.
Shilla mengerutkan dahinya lalu menengok ke arah sumber suara tadi. "Patton? Yeheee elo disini sampe kapan??" katanya sembari melingkarkan tangannya ke pundak Patton.
"sampe PH ga libur lagi. Kan pada mau latihan ujian. Makanya kak Ozy balik ke Bandung tadi siang. Terus gantinya gue ke sini dehh hehehe"
Ozy sudah pulang? Oh. Shilla mengangguk pelan.
Gabriel berdehem keras. Merasa dirinya di acuhkan.
"eee iya. Ini Gabriel, Pat. Eh Gab, ini Patton. Sepupu gue"
Setelah berjabat tangan, Gabriel melirik jam tangannya. "Shill, gue pulang aja deh. Kapan-kapan ngobrolnya yaa"
Shilla hanya mengangguk dan menatapi punggung Gabriel itu.
"Pattt, kangeeeennnn"
*
"Vi, sebenernya siapa sih cewek yang sering ke sini? Siapa lo?" tanya Alvin sembari mengusap pusara Sivia pelan.
Ia menghela nafasnya. "pasti heran ya? Kenapa gue babak belur gini? Hehe biasa, abis eksekusi membela adek tercinta" Alvin menggaruk belakang telinganya.
Raja Siang hampir terbenam. Seakan tak ingin meninggalkan bumi, ia menghiaskan cakrawala dengan guratan jingga. Raja malam hampir tampak. Seperti mengusir telak-telak.
"Vi, gue kangen liat sunset bareng lo" desahnya pelan. Super pelan.
Matahari dan Bulan. Tak pernah bertemu. Namun tak bisa terjaga apabila salah satu tiada.
"Vi, je t'aime. I miss you. Really miss you. Love you. Take care, Vi"
Alvin melangkah ke teriosnya. Lalu menderunya pelan-pelan. Sesungguhnya, ia tak ingin adiknya histeris melihatnya 'babak belur' begini.
*
Gadis itu melirik sepupunya yang sedang asik dengan pspnya. "lo suka Shilla juga, kak?"
Gabriel mendangak. "hm" ucapnya singkat.
"kayaknya, kak Alvin dan kak Cakka juga suka sama dia" kata gadis itu kemudian.
"masih aja panggil Cakka dan Alvin kak dirumah. Ckck"
Gadis itu mengerjap. "emm takut kelepasan manggil Cakka doang atau Alvin doang disekolah"
Gabriel tersenyum simpul. "oke. Dimaafkan. Hm.. Alvin ngga mungkin. Rival gue cuma Cakka, dan... Rio mungkin"
Alvin ga mungkin? Gadis itu mengernyit. "kenapa kak Alvin eee Alvin ga mungkin?"
Gabriel tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu kembali fokus ke pspnya.
...
Ia merombak rencana awalnya. Ini bukan sekedar balas dendam dan masalah hati. Ini terkait pada sepupu tersayangnya. Sivia.
Alvin. Satu nama itu yang sesungguhnya mengaitkan segalanya. Alvin, Sivia, Cakka, dan kini Shilla.
Astaga. Mengapa menjadi serumit ini?
Gabriel meninggalkan area sekolah lawannya itu. Ia menghidupkan mesin cagivanya lalu beranjak dari sana.
Shilla mengernyit. Merasa ada yang mengikutinya. Namun buru-buru ia sanggahkan fikiran negatif itu. Ia pun beranjak dari tempat itu.
*
"gagal, Ke. Maaf gue ga bisa ngelawan Alvin. Dia bahaya" ucap seseorang diseberang sambungan telfonnya.
Keke mengerjap lalu menggertakkan gerahamnya. "gue-bayar-elo-untuk-ngepublish-Rio-dan-Shilla. Kenapa gagal? Dasar ga becus!" serapahnya kepada pemuda 20 tahunan itu.
"Ke! Elo sopan dikit bisa? Gue tau bokap gue bawahan bokap lo! Hargain gue dikit napa!" ya. Pemuda itu -tentu saja- minta dihargai. Hanya itu. Namun sepertinya tuan putri Panggemanan tak suka memberikan sikap 'menghargainya' padanya.
"hell terserah. Gue mau elo buat Shilla jadi benci sama Rio. Gue ga mau tau, Dev"
Deva -pemuda itu- geram. Mengapa si tuan putri satu ini begitu egois? Ia hanya menghela nafasnya. "bukannya mereka memang saling benci?"
"ralat. Shilla yang benci Rio. Bukan saling benci. Got it, Dev? I think a smart guy like you understand with everythings that i've said"
Deva hanya mendengus. Tak mampu menolak titah Keke ini. "yeah. Gue usahaain. Tapi gue ga tanggung konsekuensinya. Kalau ketahuan, gue akan limpahin kesalahan itu ke elo"
"oh yea. Whatever"
Keke menekan tombol merah di blackberrynya. Lalu menduduki sebuah bangku sembari memainkan gadget canggihnya ditanggannya.
"oh. Jadi gara-gara elo, Ke? Oh" kata seseorang yang ternyata bersandar pada dinding dibalik gadis itu duduk sekarang.
"Pat.........."
Cowok manis itu tersenyum meneduhkan. Seperti biasanya. Lalu menghela nafasnya pelan. "licik abis" ucapnya singkat sembari menggelengkan kepalanya.
Keke langsung menoleh ke sumber suara tadi. "Pat, udah deh. Lo gatau apa-apa"
Patton mengernyit. "gue tau kok. Elo yang buat gosip murahan itu kan, Ke? Rio, Shilla, dan kak Alvin harus tau nih kayanya"
"gitu? Ganyangka lo pengadu" ucap Keke sembari menyunggingkan senyum sinisnya.
"bukannya gitu ya, Ke. Yah terserah elo sih sebenernya. Gue ga rugi kok. Mau ngasihtau atau engga" Patton mengeluarkan blackberry dari saku celananya. "dan, fyi. Gue mau ke Jakarta juga"
Patton kini benar-benar meninggalkan gadis mungil itu dalam ketakutannya. Walaupun tak ada nada mengancam sedikit pun, mata Patton seakan berbicara siap-siap-di-benci-Rio-ya-Ke. Sesungguhnya ia yakin, Patton bukan tipikal orang seperti itu. Namun yang sedang berurusan dengannya kelewat dekat dengan Patton. Jadi, Keke hanya berharap pada Patton kini.
'tunda rencana. Mulai lusa aja lo. Ada trouble kecil, Dev'
*
Shilla menderu jazz ungunya melewati lautan kendaraan. Ia masih merasa ada yang mengikutinya dari belakang.
Gadis itu mencoba untuk tidak peduli. Ia menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi. Berharap 'seseorang' dibelakangnya menyerah dan berpisah jalan dengannya.
"ASHILLA ZAHRANTIARA SINDHUNATA, KELUAR LO!" teriaknya sembari menggedor-gedor kaca mobil Shilla dari samping. Sempat terkejut karena sang 'penggedor' masih mengendarai cagiva hitamnya.
Ia memberhentikan cagivanya tepat di depan mobil Shilla.
Mau-tak-mau, ia keluar dari mobilnya -dengan perasaan super takut-. Dia memanggilnya apa tadi? Ashilla Zahrantiara Sindhunata? Berarti....
"gausah takut, Shill. Gue Gabriel doang kok" katanya sembari membuka helm fullfacenya.
Astaga. Berarti...
"Ga...Gabriel... Elo..."
Gabriel menguntaikan senyumannya pada gadis ini. "udah aahh. Biasa aja ngeliatin guenya"
Shilla mengernyit. "lo kok...."
"ga inget? Dulu pas di Malang lo sama siapa? Ha? Sama Rio kan? Lo kira gue ga inget?" katanya tajam.
Shilla diam membisu. Tak mampu berkata apapun.
Gabriel mendekat. Tangannya dimasukkan ke saku celana London Schoolnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Shilla yang sedari tadi kian menunduk.
Ia berdesah pelan. "bisa liat gue, Ashilla Sindhunata?"
Shilla mengangkat kepalanya. Sedikit terkejut melihat telaga bening milik Gabriel yang menatapnya lekat-lekat sekarang. Jantungnya -kembali- berdetak diatas normal.
Ia menghela nafas pelan. "jangan ngeliatin gue kaya gitu"
Gabriel tertawa pelan. "ga ada yang tahan sama pesona gue loh. Elo juga, kan?"
Shilla mendengus lalu mendorong tubuh Gabriel agar menjauhinya. Dan sesungguhnya, ia tak ingin Gabriel menyadari debaran diatas normal itu.
"udah ah Gab. Apasih loo" ucapnya sembari memajukan bibirnya.
"mau pulang, nona Sindhunata?" Gabriel berlutut sembari mengulurkan tangannya.
Astaga! De javu!
Shilla buru-buru menyuruh Gabriel berdiri. Takut paparazzi itu datang lagi.
"Gaaabb, udah!!! Jangan panggil gue gitu dong. Dan... Gue kan bawa mobil. Gue pulang sendiri aja" tolaknya.
"okay, i'll follow you. I behind you, Shill" Gabriel menuju cagivanya, lalu memasang helmnya.
Shilla masih mengerutkan dahinya. Tak apa lah, fikirnya.
*
"pertama, elo brengsek"
Buggghh!! Sebuah kepalan Alvin melayang ke ulu hati Rio. Rio kontan terhuyung. Rio masih meringis memegangi perutnya.
"kedua, elo nelantarin dia"
Buggghhh!!! Kali ini tinjuan Alvin melayang tiba-tiba dan mendarat telak di dada Rio. Rio langsung terpelanting dan mengerang seketika.
"ketiga, elo buat dia susah"
Buggghhh!!!
Alvin kalut. Tak terkendali. Hujamannya membabi buta.
Ia mendorong tubuh Rio sehingga makin terjembap di tanah. Rio memang tak ingin melawan, terhuyung dan jatuh terjembap dengan tubuh penuh memar, muka lebam, dan bibir pecah yang mengalirkan darah. Matanya berkunang hebatm membuatnya terpaksa memejamkan mata rapat-rapat.
Ia memang salah. Tak seharusnya ini semua terjadi. Shilla, harusnya tak diperlakukan seperti itu.
Mata Rio terbuka saat sesuatu yang hangat menetes di pelipisnya. Dia tertegun. Alvin, yang membungkuk di atasnya, menangis tanpa suara. Ketika Alvin bicara, getar lirih suaranya semakin menyayat perasaan bersalah Rio.
"dia adek kesayangan gue, Yo. Gue yang jaga dia dari kecil. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bareng. Setiap hari!!! Gue yang dia cari setiap dia ketakutan! Gue yang dia cari setiap dia sedih! Dan dia... Tiba-tiba pingin ke Bandung. Katanya, karena ada elo! Karena elo!"
Rio menelan ludah yang bercampur darah. "gue... Gatau.. Kak..." desisnya dengan suara tersangkut di tenggorokkan.
"oh ya?" mata berkabut Alvin menyipit. Kedua tangannya yang bertumpu di atas tanah dan mengurung Rio dalam rentangan, terangkat dan mencengkram kedua bahu Rio. Menekannya kuat-kuat hingga Rio menahan sakit manakala batu-batu di permukaan tanah itu menusuk kulit. Dan ia makin menyeringai lagi saat lutut Alvin menekan dadanya kuat-kuat.
"apa maksud lo?" lanjut Alvin sambil menunduk. "ngga tau? Ngga tau perasaan cewek? Ngga tau pengorbanan dia? Elo tau dia suka sama lo, kan? Elo tau kalo dia nyesek pas elo mengabaikan dia, kan? Lagian, kenapa harus dia? Kenapa harus adek gue? Kenapa bukan yang lain? Yang naksir lo kan banyak!!" rentetan kalimat itu diteriakkan Alvin dalam jarak sepuluh senti dari wajah Rio.
Rio sesungguhnya tak pernah berlaku demikian. Ia termasuk kategori pandai dan disayangi guru karena kesopanannya. Tapi keseluruhan citra yang Rio torehkan tertepis habis oleh kelakuannya pada Shilla. Walaupun hanya segelintir yang tahu.
Dan Alvin bukanlah cowok idiot, yang diam saja dikala adiknya menangis. Yang menerima saat adiknya diperlakukan tak baik.
Dan Alvin makin menyayangkan begitu menerima pesan Ozy tempo hari. Begitu menyesakkan pasti untuk Shilla.
"gue sayang dia" Rio tiba-tiba berkata.
"heh!" seketika Alvin menampar pipi Rio. Pemuda itu menyeringai menahan sakit. "elo lagi ngomong sama gue, Yo. Bukan sama cewek! Sayang? Bajingan! Ckck"
"kak, gue lagi berusaha berubah!"
"oh ya?"
"kak..."
"jangan banyak ngomong!" Alvin meninju tubuh babak belur yang terbaring dibawah tekanan lutut dan dua lengannya itu. "ini bukan lagi giliran lo bikin pembelaan, tau!"
Rio terbatuk. Nafasnya terengah. Rasa sakit dan tekanan lutut Alvin di dadanya membuatnya sulit bernafas.
Kedua pasang telaga bening menghanyutkan itu saling tatap. Menghujam lurus. Alvin dengan kekalutannya dan kesedihannya, dan Rio, dengan penyesalan dan permohonan maafnya.
"gue nyesel, kak... Gue bener-bener nyesel"
Suara seraknya begitu lirih, hampir hilang. Sepasang mata itu lalu terpejam dan mengalirkan air. Alvin menatap sampai tetes-tetes air itu hilang di antara tanah-tanah disekitarnya.
Kemarahan ini ditekannya. Emosi itu terbawa sampai ke alam bawah sadar. Tapi Alvin juga tahu. Ia takkan pernah bisa merubah yang sudah terjadi.
"elo nyesel, terus ngejer Shilla. Tapi kenyataannya? Elo masih buat dia hampir nangis gara-gara si Keke Keke lo itu. Gitu?" Alvin semakin menunduk.
Rio terdiam. "jangan mati dulu, jawab pertanyaan gue!" lutut Alvin semakin menekan dada Rio. Rio mengerang.
"kak, sakit..."
"oh. Lo mau ga sakit? Jawab pertanyaan gue!"
"gue bener-bener nyesel, kak"
"gitu?" Alvin mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "kalo mau berubah, jangan pernah buat dia kaya kemaren-kemaren!" Alvin menepuk pipi lebam Rio.
"GUE SAYANG DIA KAAAKKK!!!!" teriak Rio menggelegar. Memantulkan gemuruh gema. Dicengkramnya pergelangan tangan Alvin yang selama ini menekan bahunya, dan didorongnya pemuda itu sekuat tenaga.
"GUE SAYANG DIA!! GUE SAYANG DIA!! GUE SAYANG DIA!!!!!" teriaknya kalap. Dipukulnya Alvin bertubi-tubi, dan baru berhenti ketika pemuda itu terkapar. Kemudian Rio menghampirinya perlahan.
"gue sayang dia, kak" ucap Rio lirih.
Alvin menatapnya. Perlahan alvin bangkit berdiri. Lalu mendekatkan diri hingga jaraknya dengan Rio tinggal beberapa senti.
"sayang? Okelah elo sayang dia. Gue cincang elo pun ga ada gunanya sekarang. Yang gue heran, kenapa lo baru ngejer dia sekarang. Baru sadar? Ha?"
Rio tak menjawab. Ia masih meringis kesakitan.
"Yo.." lanjut Alvin lirih tapi tajam. "elo ga tau kalo gue, sayang banget sama dia. Lo gatau. Gue ga mau dia sakit. Gue ga mau dia kenapa-kenapa. Lo ga tau nyokap gue kadang-kadang nangis karena kangen Shilla yang lagi di Bandung. Lo ga tau dia itu pernah cerita tentang lo sampe ga tidur seharian. Dan ternyata lonya gini"
"maaf" lirih Rio.
Alvin menggelengkan kepalanya. "maaf? Gampang banget"
Alvin menatap sekujur tubuh Rio yang penuh lebam.
"mana yang sakit?" tanyanya. Kening Rio mengerut. Dan meskipun dia heran dengan pertanyaan itu, tanpa curiga ia menunjuk ulu hatinya. Alvin tersenyum tipis.
"kalo gitu, sorry!" dihantamnya ulu hati Rio dengan satu pukulan keras. Tak ayal, Rio terjembap dengan suara erangan yang tersedak di kerongkongan.
"kak!!" Rio buru-buru mencekal pergelangan kaki Alvin ketika pemuda itu bersiap pergi. "jangan kasihtau nyokap gue"
Alvin tertegun. Sedetik kemudian, ia tidak peduli.
"ga akan. Buat apa gue ngasihtau nyokap lo? Nyari masalah banget. Gue mau pulang. Elo tidur aja disini" ditepuknya pipi Rio. "tar gue panggil ambulans!"
Alvin pergi. Meninggalkan Rio terkapar. Rio mencoba bangunm tapi pening hebat di kepala, juga rasa nyeri luka-lukanya, membuatnya menghentikan usahanya. Akhirnya, ia tergolek pasrah. Dan juga masih sedikit berfikir, sebegitu sayangnyakah Alvin kepada Shilla? Memang. Hanya Shilla lah yang Alvin miliki sekarang. Ia hanya tak ingin Shilla seperti Sivia. Ia tak ingin Shilla terluka. Hanya itu. Ia kelewat sayang kepada Shilla.
*
Cakka mengendarai ninjanya tanpa mementingkan rambu-rambu disepanjang jalanan. Cakka masih tertegun. Hatinya dan otaknya tak sependapat.
"ga mungkin itu Shilla. Dari kasat matapun itu bukan Shilla" desisnya tak terdengar karena kebisingan jalanan.
Cakka terus menderu motornya. Entah sampai mana.
*
16.30.
"Gab, mau masuk?"
Gabriel mengernyit. Ini rumah Alvin?
Halaman-super-luas menyambutnya senang hati. Jalanan setengah lingkaran dengan berhias bonsai di sekelilingnya sungguh sedap dipandang. Ditengah-tengah halaman, terdapat sebuah taman air yang meneduhkan.
Gabriel menghela nafasnya. "gede banget rumah lo, Shill" ucapnya kelewat jujur yang kontan membuat Shilla tertawa.
"ih biasa aja kenapa? Rumah lo kan gede juga, Gab"
Gabriel meneguk ludahnya. Ya. Rumahnya memang besar. Namun tak sebesar ini. Bangunan utama dihadapannya terhampar kokoh dan menjulang tinggi. Perkiraan Gabriel, ini pasti 4-5 lantai.
"SHILLAAAAA!! Gue disini lohh hehehe" kata seseorang tiba-tiba.
Shilla mengerutkan dahinya lalu menengok ke arah sumber suara tadi. "Patton? Yeheee elo disini sampe kapan??" katanya sembari melingkarkan tangannya ke pundak Patton.
"sampe PH ga libur lagi. Kan pada mau latihan ujian. Makanya kak Ozy balik ke Bandung tadi siang. Terus gantinya gue ke sini dehh hehehe"
Ozy sudah pulang? Oh. Shilla mengangguk pelan.
Gabriel berdehem keras. Merasa dirinya di acuhkan.
"eee iya. Ini Gabriel, Pat. Eh Gab, ini Patton. Sepupu gue"
Setelah berjabat tangan, Gabriel melirik jam tangannya. "Shill, gue pulang aja deh. Kapan-kapan ngobrolnya yaa"
Shilla hanya mengangguk dan menatapi punggung Gabriel itu.
"Pattt, kangeeeennnn"
*
"Vi, sebenernya siapa sih cewek yang sering ke sini? Siapa lo?" tanya Alvin sembari mengusap pusara Sivia pelan.
Ia menghela nafasnya. "pasti heran ya? Kenapa gue babak belur gini? Hehe biasa, abis eksekusi membela adek tercinta" Alvin menggaruk belakang telinganya.
Raja Siang hampir terbenam. Seakan tak ingin meninggalkan bumi, ia menghiaskan cakrawala dengan guratan jingga. Raja malam hampir tampak. Seperti mengusir telak-telak.
"Vi, gue kangen liat sunset bareng lo" desahnya pelan. Super pelan.
Matahari dan Bulan. Tak pernah bertemu. Namun tak bisa terjaga apabila salah satu tiada.
"Vi, je t'aime. I miss you. Really miss you. Love you. Take care, Vi"
Alvin melangkah ke teriosnya. Lalu menderunya pelan-pelan. Sesungguhnya, ia tak ingin adiknya histeris melihatnya 'babak belur' begini.
*
Gadis itu melirik sepupunya yang sedang asik dengan pspnya. "lo suka Shilla juga, kak?"
Gabriel mendangak. "hm" ucapnya singkat.
"kayaknya, kak Alvin dan kak Cakka juga suka sama dia" kata gadis itu kemudian.
"masih aja panggil Cakka dan Alvin kak dirumah. Ckck"
Gadis itu mengerjap. "emm takut kelepasan manggil Cakka doang atau Alvin doang disekolah"
Gabriel tersenyum simpul. "oke. Dimaafkan. Hm.. Alvin ngga mungkin. Rival gue cuma Cakka, dan... Rio mungkin"
Alvin ga mungkin? Gadis itu mengernyit. "kenapa kak Alvin eee Alvin ga mungkin?"
Gabriel tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu kembali fokus ke pspnya.
...
part 12
Shilla mengerutkan dahinya. Mengapa kakaknya begitu terkejut? Ia berjalan mendekati kakaknya.
"kenapa kak?" tanyanya pelan.
Alvin menghela nafasnya. "ini" katanya singkat sembari menunjukkan artikel yang membuatnya diam terhenyak.
"hah!!!!" Shilla menggeleng tak percaya. Mengapa... Bisa ada... Artikel seperti ini?
Alvin menatap Shilla tajam. "itu beneran elo?"
"iya kak. Tapi... Bukan kaya gini! Ini bohong!!"
Alvin diam kembali. Ia menyipitkan matanya. 'Ini gosip!' ucapnya dalam hati. Ia tidak sebodoh itu sehingga mempercayai gosip ini. Ia tahu. Adiknya tak mungkin semudah itu jatuh pada Rio.
Alvin merubuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamunya. Membungkuk lalu mengaitkan jemarinya satu sama lain. "jelasin semuanya yang terjadi kemaren!"
Shilla menatap kakaknya sejenak, lalu ikut merubuhkan dirinya di sofa sebelahnya. Ia menghela nafasnya lalu menceritakan satu per satu tanpa ada yang ditutupi. Sedikit debatan kecil mewarnai percakapan Shilla dan Alvin.
"dia ngasih lo cicin patrick? Pinter banget. Tau banget kalo lo luluh sama itu" cela Alvin saat Shilla menunjukkan benda pemberian Rio.
"hih! Gue emang nerima cincinnya. Tapi dianya ga gue maafin kok kak! Sumpah!"
Alvin mengangguk. "tapi ini harus dijelasin. Kalau ga gitu, mereka akan salah ngertiin, Shill. Boleh minta nomer Rio?"
Shilla mengerutkan dahinya. Lalu kemudian mengulurkan blackberrynya. "nih. Namanya 'Mario' cari aja. Gue mau prepare dulu" kata Shilla lalu berdiri dan membenahi rambutnya.
Alvin menatap punggung adiknya nanar. Seketika, ia fokuskan pandangannya pada blackberry adiknya ini. Dicarinya 'MARIO'.
"Shill, kenapa nelfon tumben?" suara terdengar dari speaker blackberry Shilla. Astaga. Alvin tak sengaja menekan tombol 'panggil' disana. Alvin hanya menggaruk-garuk belakang telinganya -yang tentunya tidak gatal-.
Sedangkan Rio? Jelas untaian senyum miring itu kini menghiasi wajahnya. Sesungguhnya ia masih belum mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.
"gue Alvin"
2 kata itu menyentak Rio seketika. Jadi, itu bukan Shilla?
"eh, kak Alvin.. Ka..kakaknya Shilla ya?" tanyanya terbata-bata.
Alvin menghela nafas. Mengingat kejadian kemarin, ia berusaha meredam amarah yang bergemuruh di dadanya.
"gausah banyak nanya. Tar lo harus ke Superior High School. Tau kan? Kita jelasin disana!" ceracau Alvin.
Rio bingung. Ia memutar pandangannya sejenak. "jelasin apa kak?"
Jika itu bukan blackberry Shilla, mungkin Alvin sudah merubah nasib gadget itu menjadi seperti macbooknya tempo hari.
Alvin menggertakkan kedua rahangnya. "lo punya majalah teen and high kan? Baca artikel bisnisnya!"
Rio berlari sekejap. Ia mencari majalah yang disebutkan Alvin tadi di tumpukkan bacaan-bacaan di paviliun rumahnya yang berada di Jakarta.
Rio tersentak. "kak.... Ini..."
Alvin mengangkat ujung bibirnya sedikit. "haha. Hebat ya lo. Baru tau atau pura-pura baru tau?"
"nggak kak! Sumpah!! Oke. Nanti gue ke SHS. Sekolah kakak sama Shilla kan? Gue tau! Kapan gue kesananya?" Rio panik seketika.
"jam 2. Gue tunggu. Kalobisa panggil media yang terlibat" Alvin langsung mematikan sambungannya. Kebetulan Shilla juga akan berangkat sekolah.
"nanti jam 2 lo balik, ganti baju, jadi Ashilla Sindhunata. Jelas? Kita mau jelasin ke media masalah ini"
Shilla memicingkan matanya. "oke. Thanks ya kak"
Alvin tersenyum. "anytime. Nih bb lo. Bawa aja"
*
Shilla dan Ify turun dari kendaraan sejuta umat itu. Jarak antara halte dan SHS memang tidak terlalu jauh. Jadi, mereka mengorbankan kaki mereka untuk menjadi tumpuan saat berjalan menuju ke sekolah elite itu.
Ify yang super-bawel ini paling bisa mencari bahan untuk dibicarakan. Mulai dari mr. Dave yang terjatuh ketika mengajar tari, sampai kucing Zahra yang baru saja melahirkan. Tapi dari semuanya, Ify sama sekali tak menyinggung dengan artikel sam-pah itu. Entah ia tak tahu atau memang tak ingin bergosip seperti yang lainnya.
"astaga, Fy. Kucing mah ga ada yang lucu kali. Ih ngebayanginnya aja udah geli banget gue" ceplos Shilla ketika Ify menyinggung kelucuan-anak-kucing milik Zahra.
"ih!! Lucu ah!!" kata Ify bermimik lucu. Ia menggembungkan pipinya sembari memajukan bibirnya beberapa mili.
"Ikut gue!!" ucap pemuda itu tiba-tiba. Pemuda itu, mendapat piring cantik kini. Ia -lagi-lagi- menyapa Shilla dalam ke-tiba-tiba-annya.
"kakak lepas!! Kalo saya sama kakak, Ify sama siapa?" katanya sembari menghindari kakak kelasnya ini.
"eee kak Cakka, emm Shill, gapapa deh. Gue sendiri aja ke kelasnya"
Shilla menatap Ify super-bingung. Matanya seraya berkata lo-jahat-abis-Fy. Ify hanya meringis. Lalu mengibaskan tangannya. Shilla kesal. Ini Ify kenapa sih?
Cakka menggenggam tangannya erat. Lalu menariknya paksa.
"kita mau kemana sih, kak?!" tanya Shilla kemudian. Ia masih menolak genggaman tangan Cakka dengan menggoyangkan tangannya sendiri. Kaitan telapak tangan Cakka kelewat kuat untuk Shilla tolak.
"kantin"
*
Ify menendang-nendang batu seperti orang linglung. Ia tertawa kecil kemudian. Mengapa tadi ia mengizinkan Shilla 'dibawa paksa' oleh Cakka?
"hey, kaya orang gila lo tawa-tawa sendiri, Fy" Seseorang tiba-tiba berbicara dari belakang. Ify langsung menoleh memastikan siapa yang berbicara barusan.
"kak Ray? Ngapain? Mobil lo mana? Kok jalan? Ngatain gue gila lagi? Huh" Ucap Ify yang berisi tentang berjuta pertanyaan untuk Ray. Oke. Bukan berjuta. Hanya beberapa.
Ray mempercepat langkahnya. Berusaha berada di sebelah gadis itu. "mobil gue udah di parkir. Gue barusan nganterin Cakka. Eh gataunya dia malah ngabur gitu aja sama temen lo. Haha abisnya lo kaya orang frustasi gitu nendangin batu tanpa tujuan" Ray memasukkan tangannya ke saku celananya.
Ify hanya mengangguk. Lalu tak bertanya lagi pada pujaannya ini. Ia tak ingin pujaannya mendengar debar jantungnya karena posisi mereka yang tak terlalu jauh.
Bahkan hanya berdekatan pun Ify tak mampu menetralisirkan jantungnya ini. Ia mendadak salah tingkah sehingga menimbulkan kecurigaan Ray sendiri.
"Fy, mau bantuin gue lagi ga?" kata Ray sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Ify mengerutkan dahinya lalu menoleh ke arah samping kirinya dimana Ray berada. "apa kak?"
"kalo ada gelagat aneh Shilla tentang Alvin, langsung kasihtau gue ya, Fy" katanya sambil menendang-nendang batu -seperti Ify tadi-.
"emm. Iya deh kak. Emang kenapa sih kok kayanya gimanaa gitu" tanya Ify kemudian.
"gue cerita. Tapi lo jangan kasihtau siapa-siapa ya, Fy"
Ify mengangguk pasti.
"gue ga mau Alvin sama Cakka suka sama cewek yang sama untuk yang kedua kalinya"
Ify mengerutkan dahinya. "Sivia, dan sekarang Shilla. Alvin emang ga bilang sih kalo dia suka sama Shilla. Tapi bahasa tubuhnya bilang ke gue kalo dia juga suka sama Shilla. Apalagi Shillanya juga kayanya gimanaa gitu sama Alvin" lanjut Ray.
Ify kembali mengangguk. Ternyata kisahnya seperti itu. "elo ga suka sama dia?"
Ray terbahak tiba-tiba. "engga lah, Fy!! Ngaco deh!! Yaudah gue duluan ya"
Ify mengangguk. Lalu membiarkan Ray berjalan mendahuluinya.
'Ternyata ceritanya seperti itu' desis Ify pelan. Tapi ia sama sekali tak percaya apabila Alvin menyukai sahabatnya itu. Entah kenapa.
*
"elo mau nemenin dia makan tapi ga mau nemenin gue, gitu?"
Shilla tidak menjawab kata-kata Cakka barusan. Ia hanya menatap kakak kelasnya itu sesinis-sinisnya.
"oke. Duduk situ. Mau makan apa?" katanya lagi.
Shilla kesal setengah mati sekarang. Bukannya ia sudah menolak ajakan kakak kelasnya ini tadi? Ia hanya memajukan bibirnya lalu menatap Cakka dengan tatapan-tak-percayanya.
"kenapa? Bingung ya? Gue mau yakiniku. Lo samain aja deh"
Cakka beranjak dari tempat duduknya itu lalu pergi memesan makanannya.
Shilla menolehkan kepalanya. Tak dinyana hampir selurus siswa yang berada disana menonton 'drama' yang Cakka dan Shilla persembahkan barusan. Marah, Cemburu, Bingung, bermacam- macam tatapan menghantui gadis itu kini.
Gadis itu mencoba untuk tak memperdulikan semuanya. Namun tetap saja ia tak bisa.
"nih. Makan" kata Cakka kemudian sembari meletakkan sepiring yakiniku di hadapannya. Shilla mendadak kenyang. Dengan berbagai paksaan dari Cakka, akhirnya Shilla pun memakannya -walaupun mau-tak-mau-.
Cakka tersenyum puas. 'elo cuma ditemenin, Yel. Gue sekarang makan sama dia. MAKAN SAMA DIA. Gue yakin lo ga pernah' batinnya bangga.
*
Shilla menyipitkan matanya. Hampir seluruh teman-teman dikelasnya membicarakan hal yang sama. Setelah menerima pemaksaan tadi, Shilla langsung berlari menuju kelasnya. Tak peduli dengan tatapan-tatapan yang diterimanya.
"adeknya kak Alvin nih? Si Ashilla Sindhunatanya? Cantik banget ya. Terus si Mario Halingnya juga cakep. Weee cocok deh" kata seseorang sembari menunjuk sebuah artikel berfotokan Shilla dan Rio dalam posisi super-romantis itu.
"Fy, mereka ngomongin apa sih?"
Ify mengangkat kepalanya sejenak. "itu. Ada gosip. Ashilla Sindhunata sama Mario Haling, Shill. Lo tau siapa mereka?"
"yeh. Ngejek gue ceritanya? Enggak lah, Fy. Emang siapa?"
Ify meringis. "itu adeknya kak Alvin. Dia sama Mario Haling ditemukan lagi berdua gitu. Yah namanya paparazzi ya, mereka ga mau rugi. Jadi ya di capture gitu. Eh jadi gosip deh. Eh gatau deng. Ckck kaya artis gitu ya, Shill"
Shilla merinding tiba-tiba. Secepat itukah gosip ini menyebar? "Mario Haling itu siapa?" tanyanya pura-pura. Berusaha menutupi kegugupannya saat ini.
"sebangsa sama kak Alvin gitu deh kayanya, Shill. Gue juga gatau"
Shilla hanya mengangguk -sok mengerti- lalu kembali mendengarkan teman-temannya yang membicarakannya tadi.
"iya. Disitu ditulis 'Mario blocked Ashilla's way. He gave something like a ring for her' gilagila. Kalo gue jadi Ashilla, udah gatau deh. Mati mendadak kali gue" ucap Zahra kemudian yang membuat Shilla tertawa kecil.
"ih Ashilla enak banget sih! Udah kakaknya ganteng, yang ngedeketin dia ganteng, wooo mau deh jadi dia" kata yang lain.
Anak cowok pun tak mau ketinggalan. "Mario pasti seneng banget deh bisa deket sama Ashilla. Secara gitu. Cantik banget. Tajir. Ah! Kenapa Ashilla kenalnya ga sama gue aja yaa hahaha" kata Obiet tiba-tiba.
Kontan, anak-anak menjitaki kepala Obiet. "yeee siapa elo"
Shilla masih tertawa kecil mendengarnya. 'kok lebay amat sih. Hey, i'm Ashilla Sindhunata. Haha' fikirnya dalam hati.
*
'drrrtt drrrtt'
'shill, lo balik gih cepet. Gue tunggu di aula ya'
Shilla langsung menarik Ify. Bel telah berbunyi 5 menit yang lalu. Jadi, ia mengajak sahabatnya langsung pulang. Ify sempat mengerutkan dahinya. Namun alasan 'bantuin nyokap buat kue', Ify tak bertanya-tanya lagi.
"heh! Tadi lo sama Cakka ngapain? Ck! Cari mati banget sih!" kata Oik yang tiba-tiba menghadang.
Shilla mendengus kesal. "hell. Besok deh kalo mau adu mulut. Gue buru-buru. Mau pulang" Shilla berlalu tanpa mengindahkan ucapan Oik tadi.
Kekesalan Oik kini tak dapat terbendung lagi. Rencana sadis itu, mungkin harus dikerjakan.
*
Vios Rio terparkir indah dihalaman Superior High School. Gayanya begitu casual dipandang. Ia melangkahkan kakinya ke tempat yang diberitahu Alvin tadi.
Sebelumnya, memang ada desas desus bahwa akan diadakannya semacam konverensi pers di tempat ini. Jadi sebagian siswa memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk melihat bagaimana si Ashilla dan Mario yang sesungguhnya.
Hampir seluruh siswa perempuan terpana melihat ke-kesempurnaan-nya Rio. Siluetnya begitu sempurna untuk dipandang. Goresan-goresan di wajahnya benar-benar tertata manis sehingga membuat orang tak bosan memandangnya. Rio berjalan dengan cueknya di lorong itu sehingga kesan cool terasa kental disana.
Tak jarang desisan yang membuat Rio melayang didengarnya. Ia hanya tersenyum miring yang membuatnya lebih sempurna lagi.
Alvin menatap sosok yang baru saja masuk ke aula itu. Ya. Rio. Ia melangkah mendekati Alvin kemudian duduk disebelahnya.
"yeah. Saya, Mario Stevano Aditya Haling sudah hadir di sini. Saya tegaskan sekali lagi. Saya ga mempunyai hubungan khusus apapun dengan Ashilla" katanya sembari menatap tegas media-media itu.
Alvin pun tersenyum. "got it?"
Salah seorang media angkat bicara kemudian. "kalau begitu, apa hubungan Mario Haling dan Ashilla Sindhunata? Lalu Alvin, mengapa kamu mempersiapkan semua ini? Mengumpulkan media, lalu menjelaskan semuanya? Pasti ada apa-apa"
Alvin berdiri. "gosip itu membuat adik saya ga tenang. Dia dihujam pertanyaan-pertanyaan yang ga mengenakkan. Baik di dunia nyata maupun maya. Itu kesannya neror adik saya. Neror adik saya sama aja kaya neror saya" katanya lalu meninggalkan Rio dan para media di aula. "sebentar. Gue mau nyari Shilla" ucapnya pelan yang dibalas anggukkan Rio.
*
Shilla memarkirkan jazz ungunya disebelah vios Rio. Ia tersenyum tipis, lalu keluar dari mobilnya ini.
Dress ungu dipadukan cardigan ungu tua serta sepatu converse yang menghias kakinya membuatnya kelewat cantik saat ini. Terlebih lagi rambutnya di blow sedikit dan wajahnya dipoles make up tipis. 'semoga ga ada yang ngenalin gue' ucapnya dalam hati.
Ia langsung melangkah ke aula sekolahnya. Lagi-lagi, siswa SHS terpana melihat aura dan kecantikan yang terpancarkan. Desisan itu terdengar kembali. 'ih!! Ashilla lebih cantik daripada yang difoto!'. Shilla tertawa kecil sejenak.
"Shill! Buru! Udah ditunggu! Lo lama banget sih" kata Alvin sembari menarik tangan Shilla tiba-tiba. Seluruh 'penonton' terkejut dengan adegan ini.
Shilla mendengus. "sabar kenapa? Kakak nih maksa mulu kerjaannya. Mending ya gue mau kesini. Jauh-jauh dari bandung malah dipaksa gini. Ck"
Alvin tersenyum sejenak lalu berbisik. "buset. Acting lo gila banget sumpah. Meyakinkan abis"
*
"cincin ini cuma bercanda aja sebenernya. Tadinya saya cuma bercanda minta cincin patrick kaya gini. Tapi ternyata dikasih sama Rio. Saya juga kaget. Tapi saya inget tiba-tiba. Jadi jangan negative thinking dulu deh" jelas Shilla.
"saya sama dia cuma temen. Ga lebih" Rio menegaskan kembali.
Alvin tiba-tiba menutup acara ini. "oke cukup. Saya rasa kalian bisa nangkep apa yang terjadi sebenernya. Makasih atas waktunya. Selamat sore"
Alvin, Rio, dan Shilla sama-sama menghela nafasnya. Lega. Media-media pergi satu per satu.
"udah maafin gue?" bisik Rio tiba-tiba.
Shilla mengerjap. "belom"
"berarti mau dong. Elo kan jawabnya belom" kata Rio lagi. Senyuman itu menghiasi wajah pemuda itu lagi. Shilla melengos super kesal. Meratapi betapa ajaibnya cowok didepannya ini.
Alvin berdehem keras. "lo pulang, Shill. Lo, Yo. Tunggu gue di depan" katanya lalu meninggalkan Rio dan Shilla di Aula besar ini.
Shilla pun mengikuti kakaknya untuk beranjak dari aula ini. Ia tak tahu apa yang terjadi apabila ia tetap satu ruang bersama cowok-ajaib itu. Mungkin ia akan meledak menahan emosinya.
*
Cakka menyipitkan matanya. Ray pun begitu ketika Alvin menghampiri mereka.
"serasa artis lo, bro! Pake jumpa pers segala hahahhaahhaa" celoteh Ray sembari menepuk pundak Alvin.
"adek lo cantik abiezzzz. Gue ambil ya, Vin" kata Ray lagi.
Alvin melotot -walau tidak bisa-. "enak aja main ambil!!"
"kak, gue duluan" kata Shilla singkat saat melewati Alvin, lalu ia berjalan lagi.
Tak dinyana, Cakka menarik tangan Shilla. Itu membuat empunya dan Alvin terbelalak seketika.
"maaf, kenapa?" tanyanya sopan -sebisa mungkin tak tertebak-.
Cakka terdiam. Menatap mata Shilla lekat-lekat. 'ini bukan Shilla' desisnya dalam hati. Ia melepaskan cengkramannya ini.
"yaudah. Permisi, kakak-kakak"
Alvin menoleh ke arah Cakka setelah sosok adiknya tak terlihat lagi. Ia menatapnya lekat-lekat. "awas lo deket-deket sama adek gue!"
Cakka hanya meringis mendengarnya.
*
Cagivanya merapat ke pintu gerbang SHS. Sesungguhnya ia hanya memastikan. Ia tahu gosip itu. Ia tahu pasti Ashilla Sindhunata dan Mario Haling melalui foto yang terpampang di majalah itu. Math Competition saat itu, PH mengirimkan kedua orang itu untuk menjadi andalan disana. Dengan kata lain, ia tahu Ashilla Sindhunata dan Shilla yang dikenalnya adalah orang yang sama.
Ia tahu mereka akan mengadakan 'jumpa pers' dari sepupunya. Sejauh ini, Gabriel belum memberitahukan hal ini kepada siapapun termasuk sepupunya itu. Ia ingin memastikan terlebih dahulu.
Ia memandang jazz ungu itu dari jauh. Tak lama kemudian, sang pemiliknya datang. Gabriel menatap siluet itu dari kejauhan.
Ia mengenal wajah itu. Wajah yang hampir sama dengan yang dilihatnya setahun yang lalu. Hanya saja, wajah itu lebih cantik dan dewasa sekarang. Saat pertama bertemu Shilla di SHS, Gabriel tak begitu mengenal gadis cantik ini karena wajahnya berbeda -entah disengaja atau tidak-. Terlebih lagi tak ada ada behel warna-warni yang menghiasi giginya.
Gabriel memicingkan matanya. 'Iya! Dia Shilla!!' ucapnya sembari angguknya -tiba-tiba- yakin setelah melihat kalung yang digunakan gadis itu. Kalung yang sama.
.....
"kenapa kak?" tanyanya pelan.
Alvin menghela nafasnya. "ini" katanya singkat sembari menunjukkan artikel yang membuatnya diam terhenyak.
"hah!!!!" Shilla menggeleng tak percaya. Mengapa... Bisa ada... Artikel seperti ini?
Alvin menatap Shilla tajam. "itu beneran elo?"
"iya kak. Tapi... Bukan kaya gini! Ini bohong!!"
Alvin diam kembali. Ia menyipitkan matanya. 'Ini gosip!' ucapnya dalam hati. Ia tidak sebodoh itu sehingga mempercayai gosip ini. Ia tahu. Adiknya tak mungkin semudah itu jatuh pada Rio.
Alvin merubuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamunya. Membungkuk lalu mengaitkan jemarinya satu sama lain. "jelasin semuanya yang terjadi kemaren!"
Shilla menatap kakaknya sejenak, lalu ikut merubuhkan dirinya di sofa sebelahnya. Ia menghela nafasnya lalu menceritakan satu per satu tanpa ada yang ditutupi. Sedikit debatan kecil mewarnai percakapan Shilla dan Alvin.
"dia ngasih lo cicin patrick? Pinter banget. Tau banget kalo lo luluh sama itu" cela Alvin saat Shilla menunjukkan benda pemberian Rio.
"hih! Gue emang nerima cincinnya. Tapi dianya ga gue maafin kok kak! Sumpah!"
Alvin mengangguk. "tapi ini harus dijelasin. Kalau ga gitu, mereka akan salah ngertiin, Shill. Boleh minta nomer Rio?"
Shilla mengerutkan dahinya. Lalu kemudian mengulurkan blackberrynya. "nih. Namanya 'Mario' cari aja. Gue mau prepare dulu" kata Shilla lalu berdiri dan membenahi rambutnya.
Alvin menatap punggung adiknya nanar. Seketika, ia fokuskan pandangannya pada blackberry adiknya ini. Dicarinya 'MARIO'.
"Shill, kenapa nelfon tumben?" suara terdengar dari speaker blackberry Shilla. Astaga. Alvin tak sengaja menekan tombol 'panggil' disana. Alvin hanya menggaruk-garuk belakang telinganya -yang tentunya tidak gatal-.
Sedangkan Rio? Jelas untaian senyum miring itu kini menghiasi wajahnya. Sesungguhnya ia masih belum mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.
"gue Alvin"
2 kata itu menyentak Rio seketika. Jadi, itu bukan Shilla?
"eh, kak Alvin.. Ka..kakaknya Shilla ya?" tanyanya terbata-bata.
Alvin menghela nafas. Mengingat kejadian kemarin, ia berusaha meredam amarah yang bergemuruh di dadanya.
"gausah banyak nanya. Tar lo harus ke Superior High School. Tau kan? Kita jelasin disana!" ceracau Alvin.
Rio bingung. Ia memutar pandangannya sejenak. "jelasin apa kak?"
Jika itu bukan blackberry Shilla, mungkin Alvin sudah merubah nasib gadget itu menjadi seperti macbooknya tempo hari.
Alvin menggertakkan kedua rahangnya. "lo punya majalah teen and high kan? Baca artikel bisnisnya!"
Rio berlari sekejap. Ia mencari majalah yang disebutkan Alvin tadi di tumpukkan bacaan-bacaan di paviliun rumahnya yang berada di Jakarta.
Rio tersentak. "kak.... Ini..."
Alvin mengangkat ujung bibirnya sedikit. "haha. Hebat ya lo. Baru tau atau pura-pura baru tau?"
"nggak kak! Sumpah!! Oke. Nanti gue ke SHS. Sekolah kakak sama Shilla kan? Gue tau! Kapan gue kesananya?" Rio panik seketika.
"jam 2. Gue tunggu. Kalobisa panggil media yang terlibat" Alvin langsung mematikan sambungannya. Kebetulan Shilla juga akan berangkat sekolah.
"nanti jam 2 lo balik, ganti baju, jadi Ashilla Sindhunata. Jelas? Kita mau jelasin ke media masalah ini"
Shilla memicingkan matanya. "oke. Thanks ya kak"
Alvin tersenyum. "anytime. Nih bb lo. Bawa aja"
*
Shilla dan Ify turun dari kendaraan sejuta umat itu. Jarak antara halte dan SHS memang tidak terlalu jauh. Jadi, mereka mengorbankan kaki mereka untuk menjadi tumpuan saat berjalan menuju ke sekolah elite itu.
Ify yang super-bawel ini paling bisa mencari bahan untuk dibicarakan. Mulai dari mr. Dave yang terjatuh ketika mengajar tari, sampai kucing Zahra yang baru saja melahirkan. Tapi dari semuanya, Ify sama sekali tak menyinggung dengan artikel sam-pah itu. Entah ia tak tahu atau memang tak ingin bergosip seperti yang lainnya.
"astaga, Fy. Kucing mah ga ada yang lucu kali. Ih ngebayanginnya aja udah geli banget gue" ceplos Shilla ketika Ify menyinggung kelucuan-anak-kucing milik Zahra.
"ih!! Lucu ah!!" kata Ify bermimik lucu. Ia menggembungkan pipinya sembari memajukan bibirnya beberapa mili.
"Ikut gue!!" ucap pemuda itu tiba-tiba. Pemuda itu, mendapat piring cantik kini. Ia -lagi-lagi- menyapa Shilla dalam ke-tiba-tiba-annya.
"kakak lepas!! Kalo saya sama kakak, Ify sama siapa?" katanya sembari menghindari kakak kelasnya ini.
"eee kak Cakka, emm Shill, gapapa deh. Gue sendiri aja ke kelasnya"
Shilla menatap Ify super-bingung. Matanya seraya berkata lo-jahat-abis-Fy. Ify hanya meringis. Lalu mengibaskan tangannya. Shilla kesal. Ini Ify kenapa sih?
Cakka menggenggam tangannya erat. Lalu menariknya paksa.
"kita mau kemana sih, kak?!" tanya Shilla kemudian. Ia masih menolak genggaman tangan Cakka dengan menggoyangkan tangannya sendiri. Kaitan telapak tangan Cakka kelewat kuat untuk Shilla tolak.
"kantin"
*
Ify menendang-nendang batu seperti orang linglung. Ia tertawa kecil kemudian. Mengapa tadi ia mengizinkan Shilla 'dibawa paksa' oleh Cakka?
"hey, kaya orang gila lo tawa-tawa sendiri, Fy" Seseorang tiba-tiba berbicara dari belakang. Ify langsung menoleh memastikan siapa yang berbicara barusan.
"kak Ray? Ngapain? Mobil lo mana? Kok jalan? Ngatain gue gila lagi? Huh" Ucap Ify yang berisi tentang berjuta pertanyaan untuk Ray. Oke. Bukan berjuta. Hanya beberapa.
Ray mempercepat langkahnya. Berusaha berada di sebelah gadis itu. "mobil gue udah di parkir. Gue barusan nganterin Cakka. Eh gataunya dia malah ngabur gitu aja sama temen lo. Haha abisnya lo kaya orang frustasi gitu nendangin batu tanpa tujuan" Ray memasukkan tangannya ke saku celananya.
Ify hanya mengangguk. Lalu tak bertanya lagi pada pujaannya ini. Ia tak ingin pujaannya mendengar debar jantungnya karena posisi mereka yang tak terlalu jauh.
Bahkan hanya berdekatan pun Ify tak mampu menetralisirkan jantungnya ini. Ia mendadak salah tingkah sehingga menimbulkan kecurigaan Ray sendiri.
"Fy, mau bantuin gue lagi ga?" kata Ray sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Ify mengerutkan dahinya lalu menoleh ke arah samping kirinya dimana Ray berada. "apa kak?"
"kalo ada gelagat aneh Shilla tentang Alvin, langsung kasihtau gue ya, Fy" katanya sambil menendang-nendang batu -seperti Ify tadi-.
"emm. Iya deh kak. Emang kenapa sih kok kayanya gimanaa gitu" tanya Ify kemudian.
"gue cerita. Tapi lo jangan kasihtau siapa-siapa ya, Fy"
Ify mengangguk pasti.
"gue ga mau Alvin sama Cakka suka sama cewek yang sama untuk yang kedua kalinya"
Ify mengerutkan dahinya. "Sivia, dan sekarang Shilla. Alvin emang ga bilang sih kalo dia suka sama Shilla. Tapi bahasa tubuhnya bilang ke gue kalo dia juga suka sama Shilla. Apalagi Shillanya juga kayanya gimanaa gitu sama Alvin" lanjut Ray.
Ify kembali mengangguk. Ternyata kisahnya seperti itu. "elo ga suka sama dia?"
Ray terbahak tiba-tiba. "engga lah, Fy!! Ngaco deh!! Yaudah gue duluan ya"
Ify mengangguk. Lalu membiarkan Ray berjalan mendahuluinya.
'Ternyata ceritanya seperti itu' desis Ify pelan. Tapi ia sama sekali tak percaya apabila Alvin menyukai sahabatnya itu. Entah kenapa.
*
"elo mau nemenin dia makan tapi ga mau nemenin gue, gitu?"
Shilla tidak menjawab kata-kata Cakka barusan. Ia hanya menatap kakak kelasnya itu sesinis-sinisnya.
"oke. Duduk situ. Mau makan apa?" katanya lagi.
Shilla kesal setengah mati sekarang. Bukannya ia sudah menolak ajakan kakak kelasnya ini tadi? Ia hanya memajukan bibirnya lalu menatap Cakka dengan tatapan-tak-percayanya.
"kenapa? Bingung ya? Gue mau yakiniku. Lo samain aja deh"
Cakka beranjak dari tempat duduknya itu lalu pergi memesan makanannya.
Shilla menolehkan kepalanya. Tak dinyana hampir selurus siswa yang berada disana menonton 'drama' yang Cakka dan Shilla persembahkan barusan. Marah, Cemburu, Bingung, bermacam- macam tatapan menghantui gadis itu kini.
Gadis itu mencoba untuk tak memperdulikan semuanya. Namun tetap saja ia tak bisa.
"nih. Makan" kata Cakka kemudian sembari meletakkan sepiring yakiniku di hadapannya. Shilla mendadak kenyang. Dengan berbagai paksaan dari Cakka, akhirnya Shilla pun memakannya -walaupun mau-tak-mau-.
Cakka tersenyum puas. 'elo cuma ditemenin, Yel. Gue sekarang makan sama dia. MAKAN SAMA DIA. Gue yakin lo ga pernah' batinnya bangga.
*
Shilla menyipitkan matanya. Hampir seluruh teman-teman dikelasnya membicarakan hal yang sama. Setelah menerima pemaksaan tadi, Shilla langsung berlari menuju kelasnya. Tak peduli dengan tatapan-tatapan yang diterimanya.
"adeknya kak Alvin nih? Si Ashilla Sindhunatanya? Cantik banget ya. Terus si Mario Halingnya juga cakep. Weee cocok deh" kata seseorang sembari menunjuk sebuah artikel berfotokan Shilla dan Rio dalam posisi super-romantis itu.
"Fy, mereka ngomongin apa sih?"
Ify mengangkat kepalanya sejenak. "itu. Ada gosip. Ashilla Sindhunata sama Mario Haling, Shill. Lo tau siapa mereka?"
"yeh. Ngejek gue ceritanya? Enggak lah, Fy. Emang siapa?"
Ify meringis. "itu adeknya kak Alvin. Dia sama Mario Haling ditemukan lagi berdua gitu. Yah namanya paparazzi ya, mereka ga mau rugi. Jadi ya di capture gitu. Eh jadi gosip deh. Eh gatau deng. Ckck kaya artis gitu ya, Shill"
Shilla merinding tiba-tiba. Secepat itukah gosip ini menyebar? "Mario Haling itu siapa?" tanyanya pura-pura. Berusaha menutupi kegugupannya saat ini.
"sebangsa sama kak Alvin gitu deh kayanya, Shill. Gue juga gatau"
Shilla hanya mengangguk -sok mengerti- lalu kembali mendengarkan teman-temannya yang membicarakannya tadi.
"iya. Disitu ditulis 'Mario blocked Ashilla's way. He gave something like a ring for her' gilagila. Kalo gue jadi Ashilla, udah gatau deh. Mati mendadak kali gue" ucap Zahra kemudian yang membuat Shilla tertawa kecil.
"ih Ashilla enak banget sih! Udah kakaknya ganteng, yang ngedeketin dia ganteng, wooo mau deh jadi dia" kata yang lain.
Anak cowok pun tak mau ketinggalan. "Mario pasti seneng banget deh bisa deket sama Ashilla. Secara gitu. Cantik banget. Tajir. Ah! Kenapa Ashilla kenalnya ga sama gue aja yaa hahaha" kata Obiet tiba-tiba.
Kontan, anak-anak menjitaki kepala Obiet. "yeee siapa elo"
Shilla masih tertawa kecil mendengarnya. 'kok lebay amat sih. Hey, i'm Ashilla Sindhunata. Haha' fikirnya dalam hati.
*
'drrrtt drrrtt'
'shill, lo balik gih cepet. Gue tunggu di aula ya'
Shilla langsung menarik Ify. Bel telah berbunyi 5 menit yang lalu. Jadi, ia mengajak sahabatnya langsung pulang. Ify sempat mengerutkan dahinya. Namun alasan 'bantuin nyokap buat kue', Ify tak bertanya-tanya lagi.
"heh! Tadi lo sama Cakka ngapain? Ck! Cari mati banget sih!" kata Oik yang tiba-tiba menghadang.
Shilla mendengus kesal. "hell. Besok deh kalo mau adu mulut. Gue buru-buru. Mau pulang" Shilla berlalu tanpa mengindahkan ucapan Oik tadi.
Kekesalan Oik kini tak dapat terbendung lagi. Rencana sadis itu, mungkin harus dikerjakan.
*
Vios Rio terparkir indah dihalaman Superior High School. Gayanya begitu casual dipandang. Ia melangkahkan kakinya ke tempat yang diberitahu Alvin tadi.
Sebelumnya, memang ada desas desus bahwa akan diadakannya semacam konverensi pers di tempat ini. Jadi sebagian siswa memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk melihat bagaimana si Ashilla dan Mario yang sesungguhnya.
Hampir seluruh siswa perempuan terpana melihat ke-kesempurnaan-nya Rio. Siluetnya begitu sempurna untuk dipandang. Goresan-goresan di wajahnya benar-benar tertata manis sehingga membuat orang tak bosan memandangnya. Rio berjalan dengan cueknya di lorong itu sehingga kesan cool terasa kental disana.
Tak jarang desisan yang membuat Rio melayang didengarnya. Ia hanya tersenyum miring yang membuatnya lebih sempurna lagi.
Alvin menatap sosok yang baru saja masuk ke aula itu. Ya. Rio. Ia melangkah mendekati Alvin kemudian duduk disebelahnya.
"yeah. Saya, Mario Stevano Aditya Haling sudah hadir di sini. Saya tegaskan sekali lagi. Saya ga mempunyai hubungan khusus apapun dengan Ashilla" katanya sembari menatap tegas media-media itu.
Alvin pun tersenyum. "got it?"
Salah seorang media angkat bicara kemudian. "kalau begitu, apa hubungan Mario Haling dan Ashilla Sindhunata? Lalu Alvin, mengapa kamu mempersiapkan semua ini? Mengumpulkan media, lalu menjelaskan semuanya? Pasti ada apa-apa"
Alvin berdiri. "gosip itu membuat adik saya ga tenang. Dia dihujam pertanyaan-pertanyaan yang ga mengenakkan. Baik di dunia nyata maupun maya. Itu kesannya neror adik saya. Neror adik saya sama aja kaya neror saya" katanya lalu meninggalkan Rio dan para media di aula. "sebentar. Gue mau nyari Shilla" ucapnya pelan yang dibalas anggukkan Rio.
*
Shilla memarkirkan jazz ungunya disebelah vios Rio. Ia tersenyum tipis, lalu keluar dari mobilnya ini.
Dress ungu dipadukan cardigan ungu tua serta sepatu converse yang menghias kakinya membuatnya kelewat cantik saat ini. Terlebih lagi rambutnya di blow sedikit dan wajahnya dipoles make up tipis. 'semoga ga ada yang ngenalin gue' ucapnya dalam hati.
Ia langsung melangkah ke aula sekolahnya. Lagi-lagi, siswa SHS terpana melihat aura dan kecantikan yang terpancarkan. Desisan itu terdengar kembali. 'ih!! Ashilla lebih cantik daripada yang difoto!'. Shilla tertawa kecil sejenak.
"Shill! Buru! Udah ditunggu! Lo lama banget sih" kata Alvin sembari menarik tangan Shilla tiba-tiba. Seluruh 'penonton' terkejut dengan adegan ini.
Shilla mendengus. "sabar kenapa? Kakak nih maksa mulu kerjaannya. Mending ya gue mau kesini. Jauh-jauh dari bandung malah dipaksa gini. Ck"
Alvin tersenyum sejenak lalu berbisik. "buset. Acting lo gila banget sumpah. Meyakinkan abis"
*
"cincin ini cuma bercanda aja sebenernya. Tadinya saya cuma bercanda minta cincin patrick kaya gini. Tapi ternyata dikasih sama Rio. Saya juga kaget. Tapi saya inget tiba-tiba. Jadi jangan negative thinking dulu deh" jelas Shilla.
"saya sama dia cuma temen. Ga lebih" Rio menegaskan kembali.
Alvin tiba-tiba menutup acara ini. "oke cukup. Saya rasa kalian bisa nangkep apa yang terjadi sebenernya. Makasih atas waktunya. Selamat sore"
Alvin, Rio, dan Shilla sama-sama menghela nafasnya. Lega. Media-media pergi satu per satu.
"udah maafin gue?" bisik Rio tiba-tiba.
Shilla mengerjap. "belom"
"berarti mau dong. Elo kan jawabnya belom" kata Rio lagi. Senyuman itu menghiasi wajah pemuda itu lagi. Shilla melengos super kesal. Meratapi betapa ajaibnya cowok didepannya ini.
Alvin berdehem keras. "lo pulang, Shill. Lo, Yo. Tunggu gue di depan" katanya lalu meninggalkan Rio dan Shilla di Aula besar ini.
Shilla pun mengikuti kakaknya untuk beranjak dari aula ini. Ia tak tahu apa yang terjadi apabila ia tetap satu ruang bersama cowok-ajaib itu. Mungkin ia akan meledak menahan emosinya.
*
Cakka menyipitkan matanya. Ray pun begitu ketika Alvin menghampiri mereka.
"serasa artis lo, bro! Pake jumpa pers segala hahahhaahhaa" celoteh Ray sembari menepuk pundak Alvin.
"adek lo cantik abiezzzz. Gue ambil ya, Vin" kata Ray lagi.
Alvin melotot -walau tidak bisa-. "enak aja main ambil!!"
"kak, gue duluan" kata Shilla singkat saat melewati Alvin, lalu ia berjalan lagi.
Tak dinyana, Cakka menarik tangan Shilla. Itu membuat empunya dan Alvin terbelalak seketika.
"maaf, kenapa?" tanyanya sopan -sebisa mungkin tak tertebak-.
Cakka terdiam. Menatap mata Shilla lekat-lekat. 'ini bukan Shilla' desisnya dalam hati. Ia melepaskan cengkramannya ini.
"yaudah. Permisi, kakak-kakak"
Alvin menoleh ke arah Cakka setelah sosok adiknya tak terlihat lagi. Ia menatapnya lekat-lekat. "awas lo deket-deket sama adek gue!"
Cakka hanya meringis mendengarnya.
*
Cagivanya merapat ke pintu gerbang SHS. Sesungguhnya ia hanya memastikan. Ia tahu gosip itu. Ia tahu pasti Ashilla Sindhunata dan Mario Haling melalui foto yang terpampang di majalah itu. Math Competition saat itu, PH mengirimkan kedua orang itu untuk menjadi andalan disana. Dengan kata lain, ia tahu Ashilla Sindhunata dan Shilla yang dikenalnya adalah orang yang sama.
Ia tahu mereka akan mengadakan 'jumpa pers' dari sepupunya. Sejauh ini, Gabriel belum memberitahukan hal ini kepada siapapun termasuk sepupunya itu. Ia ingin memastikan terlebih dahulu.
Ia memandang jazz ungu itu dari jauh. Tak lama kemudian, sang pemiliknya datang. Gabriel menatap siluet itu dari kejauhan.
Ia mengenal wajah itu. Wajah yang hampir sama dengan yang dilihatnya setahun yang lalu. Hanya saja, wajah itu lebih cantik dan dewasa sekarang. Saat pertama bertemu Shilla di SHS, Gabriel tak begitu mengenal gadis cantik ini karena wajahnya berbeda -entah disengaja atau tidak-. Terlebih lagi tak ada ada behel warna-warni yang menghiasi giginya.
Gabriel memicingkan matanya. 'Iya! Dia Shilla!!' ucapnya sembari angguknya -tiba-tiba- yakin setelah melihat kalung yang digunakan gadis itu. Kalung yang sama.
.....
Subscribe to:
Posts (Atom)